Pria kelahiran Bogor 20 Oktober 1998. Manusia yang menyenangi pembelajaran di dunia perkebunan, pembacaan, dan penulisan.

Cerita Memandang Cakrawala

Teguh Tri Fauzi

1 min read

Tuhan dan Rahasia

: Aku
sendiri
di balik
jendela dunia.

Lirik Cakra-loka

Ketika diselimuti rasa
Tuhan mementaskan pertunjukan
ialah naskah kehidupan
Kabut sebagai lakon pertama
melenyapkan gunung dan pohonan
Mengabarkan hujan akan datang

: Menulislah, Kekasih
jika hendak bercerita tentang bahagia dan sedih.
Sebab, ketika kamu menulis
Tuhan berada di dekatmu
sebagai pendengar yang setia.

Setelah hujan turun
Tuhan bernyanyi tanpa lirik
mengusir matahari
dan kicauan burung pagi
Terdengarlah nyanyian rintiknya
Nyanyian yang menusuk raung kalbunya

: Membacalah, Kekasih
jika hendak mencari kedamaian dan keindahan.
Sebab, ketika kamu membaca
Tuhan menuntun jalanmu
sebagai pedoman yang benar.

Cerita Memandang Cakrawala

(1)
Ketika kecil, kita mulai bertanya;
Bagaimana mestinya kita memandang cakrawala
Sebagian cerah berawan
Seketika hati ingin menggenggam kebahagiaan.

(2)
Beranjak dewasa, kita selalu bertanya;
Akankah kita terus memandang cakrawala
Sebagian mendung dan hujan
Membuat pikiran mulai diliputi kecemasan.

(3)
Di masa tua, kita mengakhiri pertanyaan;
Mengapa mata kita tak membuka rahasia cakrawala
Keseluruhan berbias pandangan
Sementara Tuhan masih menggoda pengetahuan.

Maafkan Aku, Tuhan

(1)
Maafkan aku, Tuhan…
: Di tengah malam
Bulan pudar tertutup awan
Langit tampak gelap dipandang

Maafkan aku, Tuhan…

: Di tengah malam
Hujan turun tanpa undangan
Menyelimuti kabut perasaan

Maafkan aku, Tuhan…

: Di tengah malam
Jiwa keliru membaca keadaan
Mengakibatkan arus gelombang

Maafkan aku, Tuhan…

: Di tengah malam
Kekasihku bimbang
meneteskan air mata kesedihan

Maafkan aku, Tuhan…

: Di tengah malam
Aku merobek-robek
hatiku sendiri…

(2)
Di taman kehidupan
semua mengarang takdir
menyampaikan suratan cinta
dalam jejaknya doa

: Maafkan aku, Tuhan…

Di taman kehidupan
semua merasakan getaran
perahu-perahu nelayan
arah ombak lautan

: Maafkan aku, Tuhan…

Di taman kehidupan
semua mencari cara
menempuh gelap gulita
berharap datang cahaya

: Maafkan aku, Tuhan…

Di taman kehidupan
semua melagu bisu
berbaring di tanah gersang
menunggu aliran sungai

: Maafkan aku, Tuhan…

Di taman kehidupan
semua terus bertahan
membaca kisah perjalanan
ditikam badai tak bertuan

: Maafkan aku, Tuhan…

(3)
Di persimpangan jalan bercabang
Maafkan aku, Tuhan…

: Mata-mata tak melihat jarak
menabrak pagar rahasia
nasib di dalam sukma

Di persimpangan jalan bercabang
Maafkan aku, Tuhan…

: Langkah-langkah tak berarah
menyusuri lembah pegunungan
di rumah peristirahatan

Di persimpangan jalan bercabang
Maafkan aku, Tuhan…

: Di musim semi
jiwa-jiwa tersesat
melihat daun-daun berguguran.

(Bogor, 2020-2022)

Teguh Tri Fauzi
Teguh Tri Fauzi Pria kelahiran Bogor 20 Oktober 1998. Manusia yang menyenangi pembelajaran di dunia perkebunan, pembacaan, dan penulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email