Redaksi Omong-Omong

Bukan di Meja Makan

Moch Aldy MA

4 min read

“Aku tahu apa yang akan kau katakan, dan sebelum kau mengucapkannya, izinkan aku mengingatkanmu bahwa kau sedang bermain dengan daging dan darah manusia.”

“Dan kau sedang bermain dengan kata-kata, seperti biasa. Tapi jika itu daging dan darah, maka bukankah cinta juga suatu bentuk luka? Dan ciuman, pisau kecil yang kita tancapkan dengan manis ke tubuh satu sama lain?”

“Kau mengutip Bataille terlalu enteng, terlalu sembrono, seolah-olah dia seorang penyair mabuk, bukan seorang mistikus yang menyentuh batas kegilaan.”

“Apakah itu membuatnya keliru? Bahwa le baiser est le commencement de l’anthropophagie—kau tahu persis apa yang ia maksud. Memang, kalimat “ciuman adalah awal dari kanibalisme” hanyalah interpretasi puitis dan provokatif dari gagasan Bataille, yang bisa ditelusuri ke dalam buku L’Érotisme (1957), meskipun mungkin tidak ditemukan sebagai kutipan literal.”

“Dan aku menolak seluruh premisnya dan interpretasi provokatif itu. Ciuman adalah bentuk kasih, bukan pelanggaran.”

“Benarkah? Tidakkah kau merasa, ketika dua bibir saling bertemu, ada semacam penghapusan? Bahwa aku tak lagi aku dan kau tak lagi kau? Saling menelan, bahkan hanya dalam simbol, tetaplah kanibalisme.”

“Itu absurditas filsafat. Di dunia nyata, aku menciummu bukan untuk menghancurkanmu, tetapi untuk mengenalmu lebih dalam, lebih lembut.”

“Dan justru di sanalah letak bahaya itu. Sebab mengenal seseorang terlalu dalam, adalah awal dari dominasi. Dan dominasi—apakah bukan itu roh dari segala kekejaman?”

“Jadi menurutmu, cinta adalah kekejaman yang terselubung dalam kelembutan?”

“Tidak hanya cinta. Seluruh kemanusiaan kita. Seluruh proyeksi kita sebagai makhluk sosial. Aku, bahkan sekarang, hanya bicara padamu agar dapat memahami diriku lewat perlawananmu.”

“Dan aku berbicara untuk menyelamatkanmu dari kehancuran itu. Dari kehancuran pemikiran yang terlalu mencintai kehancuran.”

“Bukankah Bataille menyebut ciuman sebagai ‘ritual ekses’, sebuah bentuk pengorbanan yang dibalut kemesraan? Mengapa kau tolak kebenaran itu?”

“Sebab dia melupakan sesuatu: bahwa dalam ciuman, ada sukacita. Tak semua bentuk kedekatan adalah penaklukkan.”

“Dan tak semua sukacita murni. Lihatlah anak kecil yang merobek sayap kupu-kupu. Dia tertawa juga. Apakah itu murni?”

“Kau sedang menyamakan kasih sayang dengan kekerasan anak-anak? Itu tak adil, bahkan kejam.”

“Tapi tidakkah kau ingat malam itu, malam ketika kita pertama kali berciuman? Bagaimana tubuhmu menegang, bagaimana napasmu tercekat—seolah-olah kita sedang bersiap untuk saling mencabik?”

“Itu sebab ketegangan cinta. Bukan kebuasan.”

“Aku tak yakin. Aku melihat dalam matamu—bahwa bibirku adalah wilayah yang hendak kau taklukkan. Dan aku pun memandang bibirmu sebagai serigala yang ingin kujinakkan. Siapa yang bisa menyangkal dorongan itu?”

“Kau meromantisasi naluri terendah manusia. Itu bukan cinta. Itu nafsu.”

“Nafsu dan cinta—dua wajah dari satu koin, dan koin itu selalu dilempar ke udara sebelum kita saling menghancurkan atau menyelamatkan.”

“Jadi menurutmu, cinta adalah permainan maut?”

“Segala yang intim adalah permainan maut. Mengapa kita memejamkan mata saat mencium? Sebab kita sedang meninggalkan dunia—menuju sesuatu yang tak punya nama, sesuatu yang gelap dan nyaris magis.”

“Dan justru sebab itu kita harus percaya pada terang, pada kemungkinan bahwa sentuhan bukan selalu peristiwa memakan, tapi juga penyatuan.”

“Tapi penyatuan pun adalah penghilangan. Siapa yang masih utuh setelah menyatu? Kita larut dalam tubuh orang lain, dalam napasnya, dalam cairannya. Adakah itu bukan bentuk pengorbanan?”

“Pengorbanan, ya. Tapi bukan dalam arti kanibalisme. Pengorbanan sebab cinta membutuhkan kehilangan sebagian diri. Dan itu bukan kejahatan.”

“Aku tak yakin kita sepakat pada kata ‘kejahatan’. Dalam sistem moral siapa kita menilainya? Bataille percaya, dan aku setuju, bahwa kita telah membangun peradaban dari pelanggaran demi pelanggaran. Dan ciuman—adalah pelanggaran pertama yang dilegalkan.”

“Jadi apa yang kau usulkan? Dunia tanpa ciuman? Atau ciuman yang diakui sebagai dosa?”

“Bukan itu. Aku mengusulkan kejujuran. Bahwa ketika kita mendekatkan bibir kita, kita juga mengundang kematian kecil. Le petit mort. Sebuah kematian simbolik. Bukankah itu juga bentuk dari pembunuhan?”

“Tapi kematian kecil itu justru memperbarui. Seperti tidur, seperti kelahiran. Kau terlalu larut dalam kegelapan.”

“Aku larut sebab hanya dalam kegelapan kita bisa menemukan cahaya sejati.”

“Kau berbicara seperti seorang biarawan yang patah iman.”

“Dan kau seperti seorang pengkhotbah yang tak pernah berdosa. Tidakkah kau pernah merasa bahwa mencium seseorang adalah mencoba mengambil sesuatu yang tak diberikan? Sesuatu yang dipaksa, meski lembut?”

“Aku merasa bahwa mencium adalah memberi, bukan mengambil.”

“Kalau begitu, siapa yang memberi pertama kali? Dan siapa yang memulai dengan lidah?”

“Kita tak bisa menjawab itu. Seperti kita tak bisa menjawab siapa yang pertama kali bermimpi. Tapi kenapa itu penting?”

“Itu penting sebab dalam tindakan pertama, tersembunyi niat terdalam. Apakah aku ingin mencintaimu, atau melahapmu? Apakah kau ingin memelukku, atau memenjarakanku dalam tubuhmu?”

“Kau bicara seolah cinta adalah penjara. Dan aku berkata cinta adalah rumah.”

“Rumah pun punya pintu. Dan banyak pintu yang hanya bisa dibuka dari luar.”

“Mengapa kau takut pada kedekatan?”

“Sebab aku tahu harga dari terlalu dekat. Aku pernah mencintai seseorang hingga aku tak bisa lagi memisahkan wajahnya dari wajahku. Dan ketika dia pergi, aku tak mengenal diriku sendiri.”

“Itu bukan cinta, itu ketergantungan.”

“Itu ciuman yang terlalu dalam, terlalu larut, hingga aku merasa aku telah memakan dirinya dan dia memakan aku. Apakah itu bukan kanibalisme?”

“Jika begitu, mengapa kau masih percaya pada cinta?”

“Aku percaya, sebab penghancuran adalah bagian dari keindahan.”

“Kau mengambilnya terlalu harfiah. Bagiku, ciuman adalah kebangkitan. Kau melihat darah, aku melihat bunga.”

“Bunga pun dipetik dari akarnya.”

“Dan tetap mekar dalam vas.”

“Ya, tapi sudah mati.”

“Kadang kematian itu indah.”

“Dan keindahan itu, adalah bentuk lain dari kekejaman yang kau tolak di awal.”

“Kau membelit-belit.”

“Aku hanya memutar kembali logikamu.”

“Logika tak bisa menjelaskan cinta.”

“Tapi cinta bisa menghancurkan logika.”

“Dan kita kembali ke awal.”

“Ya. Seperti dua bibir yang bertemu kembali di tengah kegelapan. Siapakah yang pertama membuka mulutnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku juga tidak.”

“Dan mungkin, di sanalah letak rahasianya.”

“Bahwa dalam setiap ciuman, ada misteri yang tak bisa dijelaskan.”

“Dan dalam misteri itu, ada kemungkinan—apakah kita akan saling mencintai, atau saling melahap.”

“Aku memilih yang pertama.”

“Aku takut pada yang kedua, tapi tak bisa menolaknya.”

“Mungkin sebab kita manusia.”

“Dan manusia, adalah binatang yang tahu ia akan mati, dan sebab itu mencium dengan lebih rakus.”

“Atau lebih lembut.”

“Tergantung siapa yang menang dalam pertempuran batin itu.”

“Kau dan aku, kita selalu bertempur.”

“Tapi kita juga selalu berciuman setelahnya.”

“Dan itu yang menyelamatkan kita?”

“Atau justru mengikat kita lebih dalam ke dalam lingkaran setan ini.”

“Mengapa kau menyebutnya setan?”

“Sebab aku tahu, suatu hari nanti, ciuman terakhir kita akan lebih pedas dari vodka.”

“Dan mungkin lebih manis dari pengampunan.”

“Aku tak tahu apakah kita sedang mencintai atau membunuh perlahan.”

“Mungkin keduanya.”

“Dan jika itu benar, apakah kau masih akan menciumku malam ini?”

“Ya.”

“Mengapa?”

“Sebab tak mencium adalah mati lebih segera.”

“Dan mencium adalah mati bersama?”

“Dan mungkin hidup bersama juga.”

“Kita seperti dua malaikat yang jatuh, saling menghangatkan dengan napas yang dipinjam dari Tuhan.”

“Atau dua iblis yang mencoba mencintai satu sama lain meski tahu cinta itu diciptakan untuk para suci.”

“Dan siapa kita?”

“Kita? Kita hanyalah manusia yang lapar.”

“Lapar akan apa?”

“Akan tubuh, akan jiwa, akan keintiman. Dan mungkin, akan kehancuran yang sinematik.”

“Jika begitu, berikan aku ciuman terakhir itu.”

“Ini bukan yang terakhir.”

“Aku tahu. Tapi setiap ciuman menyimpan kemungkinan itu.”

“Dan sebab itulah aku tetap mencium bibirmu.”

*****

Editor: Ghufroni An’ars

Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Redaksi Omong-Omong

2 Replies to “Bukan di Meja Makan”

  1. Berdasar ide sesederhana ciuman bang Aldy bisa menuliskan sesuatu sebagus ini, cinta yang bahkan ragu apakah tujuannya adalah untuk memeluk atau menguasai. Cerpen yang subtil mengajak pembaca merenung atas keputusan-keputusan hidupnya.

  2. Berdasar ide sesederhana ciuman, bang Aldy bisa menuliskan sesuatu sebagus ini, cinta yang bahkan ragu apakah tujuannya adalah untuk memeluk atau menguasai. Cerpen yang subtil mengajak pembaca merenung atas keputusan-keputusan hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email