MENGAPA KAMU MENANGIS
aku menanam bulan di kawah mataMu—bulan yang kupotong dari leher malam
dengan pisau yang diasah pada ambigu.
kusuruh ia diam, menahan air jatuh
berkali-kali, pada kedamaian kecil
yang bahkan tak punya tempat sembunyi.
bau comberan mencakar kulit remaja
yang belum selesai mencintai.
beton menari di atas cinta monyet
yang kesurupan, sepi membekukan
Setu Gintung seperti anak hilang
yang lupa namanya sendiri.
di jalan lengang, pelukan menghitam
seperti kamera rusak yang terus menyala.
dan sketsa mural memaparkan rahim
keibuan yang dikhianati neon
dan debu bulu mata.
aku menanam bintang untuk menjaga
mataMu—bintang yang kuambil
dari saku jaket pengamen tua,
kerlipnya kubisikkan agar bertahan
dari sunyi yang menampar
tanpa suara.
kedamaian kecil itu
diselubungi daun reundeu,
yang membuka kenangan batu akik—
bau tubuh yang terlalu ketat,
terlalu harum kecut,
dan ciuman kecil di balik jas hujan
di atas motor injeksi
yang menelan uap
dan menyemburkan tawa
karena selain tertawa,
apa yang bisa kita lakukan?
bagaimana tubuh tahu arah,
jika senyum asing
datang tanpa undangan,
dan jari-jari saling meliuk
seperti kabel listrik di tengah banjir?
udara tertawa terbahak-bahak
mengejek kita
yang terus hidup dari tanya.
aku menanam matahari
di ujung mataMu
untuk menahan cahaya-cahaya
dari masa lalu yang patah.
aku rendam ia dalam minyak
dan surah-surah yang kita lupakan.
aku letakkan kedamaian
di situ—
di tempat yang bahkan
tak kausangka ada.
tapi mengapa kamu menangis
ketika duri tumbuh
dan tumbuh,
dan tumbuh
tak habis-habis
di rumah yang sudah kau bakar
dengan puisi?
(1 Mei 2024)
–
aku akan pulang
aku akan pulang ke rumah yang
dibangun dari firman
di mana langit memanggil
nama-nama
tanpa tubuh, tanpa tanah
tanpa apa-apa
di pelataran masjid, ayat menguap
dari sajadah usang
dan tangan yang tak sempat basah
menggigil dalam hijaiyah yang terbakar
ada tiga belas lanskap jihad
yang kini tertidur dalam frame digital:
sebuah potret hijrah, menoleh
ke arah mata angin yang belum
ditukar dengan iklan properti syariah
alif dan nun tak lagi tertawa
hanya berdengung
seperti kawanan lebah dalam khutbah—
dan tajwid suci
menyisipkan pedang ke lidah kita
tanpa kita sadar
barangkali seorang pria
melintasi jalan-jalan kota,
membawa fatwa yang patah
untuk bertanya:
apakah rumah masih mengenalku?
namun kota ini
hanya menjawab dengan dengung
dari toa yang lupa dikubur
dari jemari kasir yang masih sibuk
menghitung sedekah dengan sisa resah
ia seperti mesin waktu
yang direparasi oleh fatwa
seperti cerobong kereta
yang melunakkan kayu
dengan asap khutbah
yang tak pernah sampai ke dada
aku akan pulang—
meski tanah telah digadaikan,
meski syair hanya jadi tanda
bahwa tubuh tak pernah benar-benar
berakar di kota ini
aku akan pulang
kepada diriku yang dahulu
bersembunyi di antara hijaiyah
yang kaueja dalam tidur
dengan lidah pecah
dan mata yang terus menghafal
gelap, kekal
(2025)
–
redalah
redalah hujan di kota
di perempatan kitab dan neon.
satu buku jatuh dari rak
membuka halaman yang
memuat nama-nama
tanpa tubuh, tanpa tanah, tanpa azab
tangan penyair mengangkat cangkir
yang berisi debu dan hijaiyah yang remuk.
ia letakkan puisi di atas aspal
di bawah toa yang enggan bersuara
dan di dekat brosur kredit syariah
sebuah buku telentang seperti jenazah.
punggungnya patah, halamannya
robek oleh jari pembaca
yang sedang mencari fatwa
dalam cinta atau ciuman dalam tafsir
penyair menulis peluk
dengan darah dari kata yang ditolak.
ia tumpahkan cium
ke dalam gelas yang penuh janji
yang tidak sempat disesap siapa pun
burung-burung terbang
membawa koma dan jeda.
jendela tertutup oleh risalah
yang tak pernah dikirim
setiap rumah
menjadi perpustakaan kosong
yang menyimpan diam
beberapa kolom bibliografi
tergantung banyak mimpi.
tak ada penanda halaman.
tak ada penutup.
hanya jilid yang mengerut
oleh waktu dan kehilangan
penyair tetap duduk,
menyebut kalam
dengan sisa metrum khutbah.
di dahinya, doa menjadi peron
yang menunggu kereta
yang tak lagi datang dari surga
redalah hujan di kota
dari kelamin puisi
yang membangun tubuh kekasih
dari muqaddimah dan nota kaki.
mini puisi berlutut
di hadapan pembaca
yang tak membawa napas
hanya plastik dan struk belanja
sebelum penyair hanyut
oleh alirannya sendiri—
redalah hujan di kota.
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
