Dalam percakapan sehari-hari, frasa sakit mental terdengar begitu ringan seolah ia menunjuk sesuatu yang jelas dan tak perlu diperdebatkan. Seseorang disebut sakit mental karena cemas berlebihan, murung berkepanjangan, sulit beradaptasi, atau sekadar merasa asing di tengah dunia yang berisik. Istilah itu beredar luas. Namun justru karena kelazimannya itulah, pertanyaan mendasar jarang diajukan, apakah yang kita sebut sakit mental benar-benar menunjuk pada sesuatu yang “sakit” dalam pengertian medis, atau ia lebih dekat dengan penilaian normatif tentang bagaimana seharusnya seseorang hidup, berpikir, dan merasakan?
Pertanyaan ini menjadi penting karena kata “sakit” tidak pernah netral. Ia selalu membawa asumsi tentang normalitas. Dalam dunia medis, sakit menunjuk pada gangguan fungsi biologis yang dapat ditelusuri, diukur, dan dijelaskan secara kausal. Paru-paru yang rusak, tulang yang patah, atau virus yang menyerang tubuh, semuanya memiliki rujukan material yang relatif jelas. Tetapi ketika kata sakit disandingkan dengan kata mental, wilayahnya menjadi kabur. Pikiran bukan organ seperti hati atau ginjal. Ia tidak bisa dipotret secara langsung apalagi dibedah. Hal yang dapat kita amati hanyalah perilaku, ujaran, emosi, dan respons seseorang terhadap dunia. Dari sinilah persoalannya dimulai.
Dari Masalah Hidup ke Diagnosis
Thomas Szasz, seorang psikiater yang kerap dianggap kontroversial, pernah menyatakan bahwa penyakit mental adalah mitos. Dalam The Myth of Mental Illness (1961), Szasz berargumen bahwa apa yang disebut penyakit mental sejatinya adalah masalah hidup atau kesulitan eksistensial yang kemudian diberi label medis. Menurutnya, ketika seseorang disebut sakit mental, yang terjadi bukanlah diagnosis atas kerusakan biologis, melainkan penghakiman sosial atas perilaku yang dianggap menyimpang dari norma.
Baca juga:
Pandangan Szasz tentu tidak berdiri tanpa kritik. Banyak psikiater dan neurosaintis menunjukkan adanya korelasi antara gangguan mental tertentu dengan perubahan neurokimia otak. Depresi, misalnya, sering dikaitkan dengan disregulasi serotonin atau dopamin. Skizofrenia dihubungkan dengan aktivitas dopamin yang tidak seimbang. Temuan-temuan ini memberi kesan bahwa gangguan mental memiliki dasar biologis yang nyata. Namun korelasi bukanlah identitas. Bahwa ada perubahan kimia di otak tidak serta-merta berarti perubahan itu adalah sebab utama, bukan akibat, atau sekadar penanda dari pengalaman hidup yang kompleks.
Di titik ini Michel Foucault memberi kita kacamata yang lebih genealogis. Dalam Madness and Civilization (1961), Foucault menelusuri bagaimana kegilaan dipahami secara berbeda dalam berbagai zaman. Ia menunjukkan bahwa apa yang disebut “waras” dan “gila” bukan kategori alamiah yang tetap, melainkan hasil dari praktik historis, institusional, dan diskursif. Pada Abad Pertengahan, orang yang dianggap gila masih hidup berdampingan dengan masyarakat. Mereka menjadi bagian dari lanskap sosial. Baru dalam modernitas kegilaan dipisahkan, dikurung, dan dijadikan objek pengetahuan medis. Dengan kata lain, sakit mental lahir bersamaan dengan rezim rasionalitas tertentu.
Modernitas, dengan obsesinya pada produktivitas, efisiensi, dan kontrol diri, membutuhkan subjek yang stabil dan berfungsi. Mereka yang tidak sesuai dengan model ini akan menjadi masalah. Kecemasan berlebihan mengganggu ritme kerja. Kesedihan mendalam menghambat produktivitas. Keengganan bersosialisasi dianggap sebagai kegagalan adaptasi. Dari sini, pengalaman manusia yang sejatinya jamak dan berlapis diperas menjadi gejala. Bahasa eksistensial diganti dengan bahasa klinis. Kesedihan berubah menjadi depresi, kegelisahan menjadi gangguan kecemasan, kebingungan menjadi disfungsi kognitif.
Paradoks Penyakit Mental
Meski demikian, apakah penderitaan itu sendiri bisa disangkal? Tentu tidak. Banyak orang yang sungguh-sungguh menderita. Mereka tidak bisa tidur, kehilangan makna hidup, atau terjebak dalam pikiran yang melukai diri sendiri. Mengabaikan pengalaman tersebut sama bermasalahnya dengan memperlakukannya secara berlebihan sebagai persoalan medis. Di sinilah letak paradoksnya. Jika kita mengatakan penyakit mental sepenuhnya mitos, kita berisiko menyepelekan penderitaan nyata. Tetapi jika kita menerimanya mentah-mentah sebagai penyakit medis murni, kita berisiko mengabaikan konteks sosial, politik, maupun eksistensial yang melahirkannya.
Erich Fromm menawarkan jalan tengah yang menarik. Dalam The Sane Society (1955), Fromm mengajukan pertanyaan terbalik: bagaimana jika justru masyarakatlah yang sakit? Menurut Fromm, seseorang bisa dianggap “sehat” secara psikologis dalam masyarakat yang tidak sehat, atau sebaliknya, tampak “sakit” karena ia tidak mampu menyesuaikan diri dengan tatanan yang menindas dan alienatif. Dalam masyarakat yang mengagungkan kompetisi tanpa henti, keterasingan, dan konsumsi berlebihan, kecemasan dan depresi ialah respons yang hampir wajar.
Baca juga:
Dari sudut pandang ini, gangguan mental bukan semata-mata kegagalan individu tetapi gejala struktural. Ia mencerminkan ketegangan antara kebutuhan manusia akan makna, relasi, dan otonomi dengan tuntutan sistem yang mekanistik. Ketika seseorang merasa hampa di tengah kelimpahan, cemas di tengah keamanan, atau terasing di tengah keramaian, mungkin yang bermasalah bukan hanya jiwanya, melainkan dunia yang ia huni.
Mencari Arti Sakit yang Lebih Luas
Namun bahasa medis memiliki kekuatan simbolik yang besar. Ia memberi nama, legitimasi, maupun solusi. Dengan diagnosis penderitaan kemudian menjadi sah, obat-obatan menawarkan harapan akan perbaikan cepat, dan terapi menyediakan ruang narasi yang terstruktur. Semua ini memiliki manfaat nyata. Tetapi bahasa medis juga menyederhanakan. Ia cenderung menarik masalah ke dalam tubuh individu lalu mengabaikan relasi kuasa, kondisi kerja, kemiskinan, kekerasan simbolik, serta tekanan kultural yang menyertainya.
Di sinilah pertanyaan “Benarkah kita sakit secara mental?” menemukan kedalaman sebenarnya. Jika sakit mental dipahami sebagai fakta biologis murni, maka solusi akan berfokus pada intervensi medis. Jika ia dipahami sebagai konstruksi sosial semata, maka kita berisiko menafikan kebutuhan akan perawatan. Tetapi jika kita memahaminya sebagai persilangan sejarah hidup dan struktur sosial, maka ruang refleksi menjadi lebih luas.
Barangkali kita memang sakit, tetapi bukan semata-mata secara mental. Hal yang sakit adalah relasi kita dengan waktu, dengan kerja, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Diagnosis medis bisa membantu tetapi ia tidak cukup. Penyembuhan, jika kata itu masih relevan, menuntut perubahan yang lebih luas, yakni cara kita memaknai keberhasilan, merawat kegagalan, dan memberi ruang bagi kerentanan tanpa segera menganggapnya sebagai patologi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
