“Kita membentuk sains, dan kemudian sains membentuk kita. Tapi di mana manusia dalam semua itu?” – Edmund Husserl
Pada tahun 1935, Edmund Husserl berdiri di hadapan para akademisi Sorbonne, Paris, menyampaikan kuliah yang kemudian dikenal sebagai Krisis Kemanusiaan Eropa dan Filsafat. Dalam pidatonya, Husserl mengkritik keras arah modernitas Barat yang, menurutnya, telah tersesat dalam pengagungan terhadap ilmu pengetahuan eksak, sambil melupakan makna terdalam dari eksistensi manusia. Sains berkembang pesat, teknologi melaju cepat, namun manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Sekilas, kuliah itu mungkin terdengar seperti catatan sejarah lama Eropa. Namun jika kita tarik ke konteks Indonesia hari ini, suara Husserl seakan menjadi gema yang menyentak nalar dan nurani. Di tengah gegap gempita digitalisasi pendidikan, kurikulum berbasis proyek, dan integrasi kecerdasan buatan dalam proses belajar-mengajar, pertanyaannya tetap sama: benarkah pendidikan kita semakin memanusiakan, atau justru menjauh dari kemanusiaan itu sendiri?
Ketika berbicara tentang pendidikan, kita kerap terjebak dalam logika permintaan pasar kerja. Kurikulum disusun berdasarkan apa yang dianggap dibutuhkan oleh industri, seakan-akan tujuan utama pendidikan adalah mencetak pekerja yang sesuai dengan kebutuhan kantor atau perusahaan. Dalam sistem seperti ini, pendidikan menjadi teknokratis: keberhasilan siswa diukur melalui data kuantitatif, nilai rapor, indeks prestasi, dan hasil asesmen nasional. Sementara itu, guru dibebani perangkat ajar yang rumit dan standar administrasi yang kaku. Akibatnya, relasi manusiawi dalam proses belajar justru terpinggirkan.
Program Merdeka Belajar, meskipun mengusung semangat kebebasan pedagogis, dalam praktiknya masih terperangkap dalam logika output dan efisiensi. Alih-alih mendorong rasa ingin tahu, sistem ini kadang justru membebani guru dan siswa dengan target-target tak kasatmata yang semakin menjauhkan mereka dari pengalaman belajar yang bermakna.
Dalam konteks inilah peringatan Husserl terasa semakin relevan. Baginya, ketika ilmu pengetahuan tercerabut dari dunia kehidupan (lebenswelt), maka ia kehilangan akarnya. Demikian pula pendidikan, jika ia hanya melayani tuntutan pasar kerja, mengejar akreditasi, dan mendewakan sertifikasi, maka ia telah terlepas dari kehidupan manusia yang konkret.
Peserta Didik sebagai Subjek yang Sadar
Fenomenologi Husserl menekankan pentingnya kembali pada pengalaman subjektif. Ini berarti, pendidikan harus memandang peserta didik sebagai subjek yang sadar, bukan objek yang diprogram. Murid bukanlah wadah kosong yang menunggu diisi oleh pemahaman guru, bukan pula mesin yang harus bergerak mengikuti kehendak sistem. Sayangnya, pandangan ini masih sering diabaikan dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Masalah pendidikan bukan semata terletak pada metode, melainkan pada moral. Kita hidup dalam era banjir informasi, tetapi sekaligus mengalami krisis kebijaksanaan. Siswa tahu cara mencari jawaban di internet dengan cepat, namun tak selalu mampu membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Demikian pula guru, mampu mengajar, mampu menyampaikan materi, tetapi tak selalu hadir sebagai teladan. Padahal, bukankah pendidikan sejati adalah soal keteladanan? Mungkin itulah hal yang semakin hilang dari sistem pendidikan kita hari ini.
Baca juga:
Membaca kembali pemikiran Husserl tidak berarti menolak teknologi, sains, atau modernisasi dalam pendidikan. Yang perlu dikritisi adalah pendekatan yang menyingkirkan kemanusiaan dari proses belajar-mengajar. Ketika siswa hanya dilihat sebagai angka, dan guru sekadar sebagai orator kurikulum, maka yang hilang bukan sekadar rasa, melainkan makna sejati dari belajar itu sendiri.
Ruang kelas seharusnya tidak hanya menjadi tempat transmisi pengetahuan teknis, tetapi menjelma sebagai ruang perenungan dan dialog yang bermakna. Guru tidak hanya hadir sebagai pengajar, melainkan sebagai pendamping batin yang mendekatkan siswa pada dirinya sendiri dan pada kehidupan.
Namun realitas berkata lain. Beban kerja administratif yang berlebihan sering kali memisahkan guru dari muridnya. Alih-alih memperkuat hubungan antarmanusia, waktu mereka justru tersita untuk formulir, pelaporan, dan dokumentasi yang tak henti-henti. Padahal inti pendidikan bukan pada laporan-laporan itu, melainkan pada tatapan mata yang jujur, percakapan kecil yang tulus, dan kepercayaan yang tumbuh secara perlahan.
Di tengah sistem yang menuntut jawaban cepat dan benar, keberanian untuk bertanya seharusnya tumbuh, bukan diredam. Budaya berpikir kritis hanya akan hidup dalam ruang yang menghargai keraguan, perbedaan pandangan, dan proses pencarian yang tidak selalu selesai. Pendidikan tidak boleh berubah menjadi arena perlombaan jawaban, tetapi harus menjadi tempat yang aman untuk mencari makna.
Di Mana letak Filsafat dan Etika?
Dalam kerangka ini, filsafat dan etika tidak cukup hanya hadir sebagai pelajaran tambahan dalam kurikulum. Ia perlu dihidupkan sebagai proses pembentukan diri, bukan sekadar hafalan teori, tetapi latihan untuk menengok ke dalam, memahami sesama, dan mengambil sikap di tengah dunia yang kompleks.
Baca juga:
Pendidikan tidak boleh lagi diperlakukan sebagai komoditas. Ia bukan produk yang diperjualbelikan, bukan layanan pasar yang tunduk pada prinsip untung-rugi. Pendidikan adalah hak yang melekat pada setiap manusia, dan lebih dari itu: ia adalah jalan sunyi namun bermakna menuju masyarakat yang adil, sadar, dan beradab.
Husserl menutup kuliah Paris-nya dengan harapan besar: bahwa hanya filsafat, dan dalam konteks kita, pendidikan yang berpijak pada kesadaran, yang dapat menyelamatkan Eropa dari kehancuran spiritual. Kita pun menghadapi tantangan serupa. Jika pendidikan terus bergerak tanpa jiwa, maka sesungguhnya kita bukan sedang mendidik manusia, melainkan sedang membentuk mesin.
Maka tugas kita hari ini bukan semata memperbaiki kurikulum atau teknologi, melainkan mengembalikan makna pendidikan sebagai jalan menjadi manusia. Di tengah gempuran dunia yang serba cepat dan instan, pendidikan harus menjadi ruang perlambatan, tempat kita belajar merenung, merasa, dan membangun kembali hubungan yang tulus dengan dunia.
Editor: Prihandini N
