Pembelajar, editor, penulis lepas

Atrangi Re: Sosok Imajiner yang Ideal dalam Trauma Masa Kecil

Dinda Tri Puspita Sari

2 min read

Pernyataan populer bahwa “ayah adalah cinta pertama anak perempuan” sudah terlalu bercokol di alam bawah sadar lingkup sosial terkecil, yaitu keluarga. Kalimat yang seolah telah menjadi anggapan dan bentuk “ideal” dari setiap dunia anak-anak terhadap format keluarga yang semestinya. Padahal kenyataan tak pernah menjanjikan kenormalan tersebut. Ada sisi-sisi ketiadaan dan ketidaknormalan yang lekat dengan dunia manusia. Namun, dalam sebuah dunia simbolik anak atau dalam hal ini “bayi” mereka akan meniru (mimicry). Sosok ayah sedari awal sudah dibentuk menjadi sosok penjaga, pelindung, dan “kekasih” pertama.

Hingga pada titik ketika ketiadaan sosok itu, tak jarang menimbulkan guncangan hebat dalam diri seorang anak. Mereka hanya beradaptasi, meniru, dan menyerap apa yang dibentuk lingkungannya. Guncangan itulah yang tanpa sadar membentuk trauma, hingga akhirnya menciptakan sosok ideal–bahkan hampir sempurna–dalam alam bawah sadar anak. Seperti itulah yang dialami Rinku (diperankan oleh Sara Ali Khan) dalam film India yang disutradarai Aanand L. Rai: Atrangi Re (2021). 

Rinku anak perempuan yang menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa ayahnya dibakar oleh keluarga ibunya, yang dilatarbelakangi oleh tak direstuinya hubungan ayah dan ibu Rinku sebab perbedaan keyakinan. Pola keluarga yang ketat, kolot, ditambah api nirempati memusnahkan ayah dan ibu Rinku selama-lamanya. 

Namun, tanpa sadar, kepahitan realita yang harus ditelan anak itu sendirian, tanpa kepedulian keluarga besar, justru menimbulkan problematika psikologis. Rinku dewasa menganggap dirinya mempunyai kekasih, sosok ideal bernama Sajjad–berprofesi sebagai pemimpin sirkus. Sajjad selalu menghibur Rinku, berusaha membawa kabur Rinku dari rumah keluarganya yang mengekang, dan Sajjad akan hadir di saat-saat gadis itu merasa kesepian.

Keluarga besar Rinku selalu mengatakan Rinku hanya berbual, gila, dan mengada-ada, serta mengatakan Sajjad itu fana. Mereka pula yang berani mengatakan bahwa kematian kedua orang tuanya adalah takdir yang pantas Rinku terima, tanpa rasa iba sedikit pun pada gadis itu. Hingga kekesalan mereka terhadap bualan Rinku berujung pada menikahkan paksa Rinku dengan pemuda bernama Vishu (diperankan oleh Dhanush), dengan harapan Rinku akan dibawa pergi jauh oleh suaminya setelah menikah. Vishu tidak menikah dengan sukarela, melainkan dijebak oleh keluarga Rinku. Vishu seorang mahasiswa akhir kedokteran yang tengah ditugaskan ke Bihar, wilayah Rinku tinggal. Di situasi tersebut, bahkan Vishu sendiri sudah memiliki tunangan, yakni putri dari dosennya.

Alih-alih tugasnya berjalan lancar, Vishu justru masuk perangkap pernikahan dengan Rinku–orang yang tidak dikenalnya. Singkat cerita, Vishu terpaksa membawa Rinku kembali ke New Delhi. Di sinilah Rinku dan Vishu mulai saling menceritakan kehidupannya, termasuk tentang kekasihnya masing-masing. Sosok ideal Sajjad diceritakan dengan begitu jelas, Vishu pun memercayai semua cerita Rinku tentang Sajjad. Mereka pun bersepakat untuk kembali ke kekasih masing-masing dan mengurus perceraian di New Delhi nanti. 

Hingga akhirnya sosok Sajjad datang menjemput Rinku di New Delhi. Akan tetapi, tubuh tegap, hebat, yang diceritakan Rinku itu tak dapat dilihat oleh Vishu, bahkan oleh semua orang. Bukan sosok gaib, bukan juga jin yang berhubungan dengan sosok mistis. Melainkan Sajjad adalah sosok imajiner yang diciptakan alam bawah sadar Rinku. Kisah cinta yang Rinku ceritakan adalah kisah kedua orang tuanya. Ciri fisik Sajjad adalah wujud almarhum ayah Rinku.

Dari sinilah Anda akan semakin sadar, Rinku tidak salah secara perkataan, dia menceritakan kisah sepasang kekasih yang nyata. Hanya saja bukan dirinya sendiri sebagai pelakunya, melainkan sosok ideal di otaknya dari kenangan dan pengamatan masa kecilnya.

Vishu yang menyadari itu, dan atas dasar rasa cinta yang semakin lama tumbuh–sebab bagaimanapun Rinku masih menjadi istri sahnya– akhirnya ia bertekad menyembuhkan luka mental Rinku. 

Fantasi Rinku tentang sosok imajiner itu harus dipupuskan, dengan cara membawa Rinku perlahan menyadari batas-batas sadar dan tak sadar. Membuat Rinku menyadari bahwa “yang nyata” dan “yang imajiner” itu terpisah. 

Hal ini menjadi konsentrasi yang cukup menarik, sebab perilisan film Atrangi Re yang bertepatan dengan tahun-tahun pemulihan pandemi Covid-19. Kondisi di saat banyak dari kita tertekan secara mental, yang juga beberapa mengalami ketidakstabilan mental akibat isolasi dan pembatasan aktivitas sosial yang ekstrem.

Kemunculan sosok-sosok imajiner yang ideal semacam ini memang perlu menjadi perhatian. Di tengah zaman yang semakin pelik, terutama perihal kondisi mental manusia, kasus seperti ini perlu ditangani atau setidaknya disadari orang-orang sekitar. Sebab tanpa disadari, munculnya sosok “yang ideal” dalam pikiran seseorang sering kali menimbulkan ekspektasi-ekspektasi yang berlebihan terhadap dunia realitas. Tentu akan berakibat buruk pula bagi yang mengalami.

Kesadaran tentang gangguan ini semestinya ditolong oleh orang terdekat, memutus trauma, dan menanggapinya dengan tepat. Balutan drama romansa dan komedi membuat film Atrangi Re juga terasa dekat dan mudah dipahami. Memang tidak bisa keseluruhan gejala tokoh Rinku dibenarkan atas satu alasan “trauma” saja, tetapi ini bisa menjadi jalan simbolisasi untuk menumbuhkan kesadaran terhadap kesehatan mental dan juga terhadap stigma-stigma kecil di lingkungan keluarga. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Dinda Tri Puspita Sari
Dinda Tri Puspita Sari Pembelajar, editor, penulis lepas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email