Apakah Budaya Benar-Benar Hanya Milik Manusia?

Abimanyu ismoyo Santoso

3 min read

Ada satu pertanyaan yang terus menghantui saya setelah menonton The Sheep Detectives (2026). Mengapa kita begitu yakin bahwa budaya hanya dimiliki manusia?

Film itu memang fiksi. Kawanan domba menjadi tokoh utama yang berusaha mengungkap kematian gembala mereka sendiri. Setiap malam George sang gembala, membacakan novel detektif kepada mereka. Ia meyakini bahwa kawanan domba tidak memahami apapun. Domba-domba itu hanyalah pendengar yang setia.

Lalu George meninggal. Kawanan yang selama ini dianggap sekadar mendengar justru mampu mengingat berbagai peristiwa, merangkai petunjuk, lalu bergerak bersama mencari jawaban atas kematiannya.

Tentu saja domba sungguhan tidak menyelidiki kasus pembunuhan. Namun film itu berhasil melakukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar menyajikan misteri. Ia membuat saya mempertanyakan satu keyakinan yang selama ini terasa begitu biasa hingga hampir tidak pernah dipersoalkan. Mengapa kita begitu mudah menganggap bahwa budaya hanya mungkin dimiliki manusia?

Semakin saya memikirkan pertanyaan itu, semakin saya merasa persoalannya mungkin bukan terletak pada hewan. Persoalannya bisa jadi berada pada cara kita mendefinisikan budaya sejak awal.

Selama ini budaya hampir selalu hadir bersama bahasa, seni, agama, hukum, dan tradisi. Semua itu tampak begitu manusiawi sehingga batasnya terasa seolah sudah ada sejak awal. Akibatnya, ketika ilmuwan mulai berbicara tentang budaya pada paus, simpanse, atau burung, reaksi pertama banyak orang bukan rasa ingin tahu. Reaksi pertama justru penolakan.

Baca juga:

Cara berpikir seperti itu bukan sekadar anggapan sehari-hari. Selama puluhan tahun, ia juga menjadi salah satu pijakan penting dalam ilmu sosial.

Salah satu rumusan yang paling berpengaruh datang dari antropolog Clifford Geertz. Dalam The Interpretation of Cultures, ia mendefinisikan budaya sebagai sistem makna simbolik yang ditenun manusia sendiri. Karena itu, mempelajari budaya bukan berarti mencari hukum-hukum universal seperti ilmu alam. Yang dilakukan seorang antropolog adalah menafsirkan makna yang hidup dalam kehidupan manusia (Geertz, 1973).

Tidak sulit memahami mengapa gagasan ini begitu berpengaruh. Jika budaya dipahami sebagai dunia makna simbolik, sementara simbol dianggap bergantung pada bahasa, maka kesimpulannya tampak sederhana. Budaya adalah urusan manusia. Perilaku hewan, betapapun rumitnya, lebih mudah dijelaskan sebagai insting. Namun, ada satu persoalan. Ketika Geertz menulis bukunya pada 1973, sebagian besar penelitian tentang pembelajaran sosial pada hewan belum berkembang seperti sekarang.

Para peneliti perilaku hewan memulai dari pertanyaan yang berbeda. Mereka tidak lebih dulu bertanya apa itu budaya. Mereka bertanya bagaimana suatu perilaku diwariskan. Jika sebuah perilaku dipelajari dari individu lain, diwariskan antargenerasi, dan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor genetik, perilaku itu mulai dipertimbangkan sebagai bentuk budaya dalam pengertian biologis (Brakes et al., 2021).

Perbedaan ini penting. Geertz dan para ahli perilaku hewan sebenarnya tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama. Geertz berbicara tentang budaya sebagai sistem makna. Para ahli perilaku hewan berbicara tentang penyebaran perilaku melalui pembelajaran sosial. Keduanya bekerja pada tingkat analisis yang berbeda.

Ketika pendekatan itu diterapkan di lapangan, hasilnya mulai menggoyahkan batas yang selama ini terasa kokoh.

Paus pembunuh di pesisir Pasifik diketahui mewariskan strategi berburu tertentu kepada generasi berikutnya melalui pembelajaran sosial. Bahkan ketika mangsa utama mereka berkurang, sebagian populasi tetap mempertahankan cara berburu yang sama. Pola itu tidak dapat dijelaskan hanya melalui faktor genetik (Brakes et al., 2021).

Hal serupa ditemukan pada simpanse di Afrika Barat yang menggunakan batu untuk memecah kacang. Keterampilan itu tidak dimiliki semua populasi simpanse. Anak-anak mempelajarinya dengan mengamati individu yang lebih tua. Praktik tersebut bahkan dipertimbangkan dalam kebijakan konservasi karena dianggap sebagai bagian penting dari identitas populasi tersebut (Brakes et al., 2021).

Di titik ini muncul godaan untuk menarik kesimpulan besar. Kalau perilaku dapat dipelajari dan diwariskan, bukankah itu berarti hewan juga memiliki budaya?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Brakes dan rekan-rekannya justru sangat berhati-hati. Mereka tidak pernah menyatakan bahwa budaya pada paus atau simpanse identik dengan budaya manusia. Yang mereka usulkan adalah penggunaan “lensa budaya” dalam konservasi. Dengan cara itu, perilaku yang diwariskan secara sosial dipandang sebagai sesuatu yang layak dilindungi, sama pentingnya dengan keragaman genetik suatu populasi (Brakes et al., 2021).

Semakin banyak saya membaca, semakin saya merasa bahwa persoalannya mulai bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah hewan memiliki budaya. Pertanyaannya adalah mengapa kita begitu keberatan menggunakan kata budaya untuk mereka.

Pertanyaan itu membawa saya pada filsuf Vinciane Despret.

Dalam What Would Animals Say If We Asked the Right Questions?, Despret menunjukkan bahwa cara kita memahami hewan sering kali dibatasi bukan oleh kurangnya bukti, melainkan oleh cara kita mengajukan pertanyaan sejak awal.

Baca juga:

Salah satu contoh yang ia bahas adalah seekor gajah di Thailand yang melukis menggunakan belalainya. Seorang zoolog segera menyimpulkan bahwa lukisan itu bukan karya sang gajah karena setiap gerakannya diarahkan oleh pelatih. Despret tidak membantah fakta tersebut. Yang ia pertanyakan adalah logikanya. Mengapa hasil latihan otomatis dianggap bukan pencapaian, sementara standar serupa jarang diterapkan ketika manusia belajar melukis melalui bimbingan guru atau latihan bertahun-tahun (Despret, 2016)?

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi dampaknya cukup besar. Mungkin selama ini yang kita uji bukan hanya kemampuan hewan. Mungkin kita juga sedang menguji definisi yang kita buat sendiri tentang kemampuan.

Di titik itu saya mulai bertanya, berapa banyak batas antara manusia dan hewan yang benar-benar lahir dari pengamatan, dan berapa banyak yang lahir dari cara kita mengajukan pertanyaan?

Tentu skeptisisme tetap diperlukan. Tidak setiap perilaku yang dipelajari layak disebut budaya. Tidak semua klaim tentang kecerdasan hewan dapat diterima begitu saja. Namun skeptisisme berbeda dengan penolakan otomatis. Yang pertama menjaga kita tetap hati-hati. Yang kedua bisa membuat kita berhenti bertanya terlalu cepat.

Mungkin pertanyaan yang salah sejak awal bukan apakah hewan memiliki budaya. Mungkin yang perlu kita pertanyakan adalah mengapa kita mendefinisikan budaya sedemikian rupa sehingga hanya manusia yang mungkin memilikinya.

 

 

Editor: Prihandini N

Abimanyu ismoyo Santoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email