Anjing Gila
waktu adalah anjing gila, sayangku.
ia akan menggonggong sambil berlari
(secepat motor balap) mengejarmu.
angka tak lagi bisa menghitung
kecepatanya; di suatu tempat,
ilmuwan mencoba menghitungnya,
tapi malah berakhir dengan paradoks
yang sukar dicerna.
manusia memang tetap akan hidup
bersama tawa, tangis, dan berahi
bersama kekasihnya. namun, akan
tiba masanya anjing menggigit
lehernya dengan giginya yang
penuh lendir, sembari menyatakan,
“aku sedang lapar. aku ingin melahap
manusia. aku ingin melahap-lahap
segalanya!”
tentu tidak apa-apa, jika tak ingin
menghiraukannya. tapi ingatlah!
anjing itu gila, sayangku. ia lapar!
–
Di Suatu Kampung
ia duduk di atas pohon mangga
milik seorang tetangga yang tak
jelas siapa dia, sebab tetangga itu
konon katanya hanya akan pulang
ketika unggas tak lagi memakan
padinya di sawah.
seorang lelaki tua renta
tengah tertidur di pondok sawahnya,
dan unggas sedang mematuki
saku celananya. “alamak,
mau makan apa kau esok hari,
jika unggas saja tak segan
memakan jatah makanmu,”
ucap istrinya yang mematung-diam
melihat suaminya.
ia jatuh dari atas pohon mangga
milik seorang tetangga, saat
ayahnya sudah teriak-teriak
memanggilnya, “turun kau bujang,
hari sudah magrib. waktunya
sembahyang di surau.”
–
Petualangan Kafka
Aku masih di sini
menunggumu; memang aku
tak lagi di sana—di kawahmu,
kau tenggelam. Kata-kata
tanpa rasa, kutahu
tidak mampu menggapai
tanganmu. Tenggelamlah,
jauh lebih dalam dari cinta.
Bulan menyinari katak
yang lumpuh, dua belas
ikan capung berenang
di cakrawala. Di lautan
matahari tenggelam.
Hatiku memang bukan lagi
punyamu—dan hatimu
juga bukan lagi punyaku.
Kulihat lagi kawahmu, se-
makin jauh tenggelam.
Segalanya tentangmu
melebur, menjadi tiada.
Sayup angin bertiup,
angin asing yang me-
nemaniku hingga mem-
batu menunggumu.
–
D’un soir triste*
Senja yang resah;
malam tak kunjung sampai.
Sejak malaikat mati,
air mata-Mu masih tergenang
di ranjangku.
*terinspirasi dari lagu karya Lili Boulanger, “D’un soir triste.”
*****
Editor: Moch Aldy MA
