Kongres pertama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menghadirkan banyak kebaharuan. Selain menyelenggarakan pemilu raya untuk memilih Ketua Umum—sekaligus menasbihkan diri sebagai partai politik pertama di Indonesia yang memberikan hak memilih kepada anggota partai. Tersiarnya logo baru dari partai besutan Kaesang Pangarep ini juga menjadi diskursus baru di tengah masyarakat.
Harus diakui sejak kemunculan pertamanya tahun 2014 silam, partai yang menyebut diri sebagai partainya anak muda, berhasil memberi warna berbeda di kancah perpolitikan Indonesia. Bahkan pada pemilu 2024 lalu PSI nyaris meloloskan kader-kadernya ke Senayan. Meski pada akhirnya Kaesang dan kawan-kawan harus gigit jari, partai berlambang mawar ini lekas mengatur ulang barisan.
Baca juga:
Upaya mengatur ulang strategi pun terlihat lebih mudah saat PSI mampu mendistribusikan kader-kadernya di pos-pos strategis pemerintahan. Sebut saja Raja Juli Antoni yang duduk sebagai Menteri Kehutanan, Isyana Bagoes Oka duduk sebagai Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN dan Giring Ganesha duduk yang kini mendampingi Fadli Zon di Kementerian Kebudayaan sebagai wakilnya.
Selain dibantu oleh elite partai, Kaesang juga dimudahkan dengan kehadiran mantan aktivis mahasiswa Cipayung Plus ke dalam tubuh partai. Misalnya Agus Mulyono Herlambang (Ketua Umum PB PMII 2017-2021), Abdul Musawir Yahya (Ketua Umum DPP IMM 2021-2023), Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium PP PMKRI 2018-2020), I Putu Yoga Saputra (Ketua Presidium PP KMHDI 2021-2023), hingga Wiryawan (Ketua Umum PP Hikmahbudhi 2021-2023).
Karir anak-anak muda ini pun tak kalah mentereng. Sebut saja Agus Mulyono Herlambang yang begitu percaya diri menantang Kaesang Pangarep dalam perebutan kursi Ketua Umum PSI; Abdul Musawir Yahya duduk sebagai Komisaris Independen Pertamina Geothermal Energy; Juventus Prima Yoris Kago berhasil memenangkan kontestasi pilkada 2024 lalu dan duduk sebagai Bupati Sikka, NTT.
Berikutnya, ada I Putu Yoga Saputra yang ditugaskan Kaesang untuk fokus pada pembenahan struktur partai; dan terakhir Wiryawan—selain bertugas sebagai juru bicara, kini dipercaya mengemban tugas sebagai Tenaga Ahli Menteri Kehutanan Bidang Hubungan dan Koordinasi Pemerintah Daerah.
Bayang-Bayang Jokowi
Meski PSI telah diperkuat begitu banyak kader potensial, nyatanya sebagian besar gerak partai tidak pernah bisa dilepaskan dari nama Jokowi—Presiden RI ke-7. Eratnya relasi antara Jokowi dan PSI sejatinya sudah berlangsung sejak Jokowi masih menjabat Presiden. Misalnya, medio tahun 2023 PSI menggaungkan narasi Jokowisme, dipahami sebagai sebuah paham progresivitas yang dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara yang maju, adil, dan berdaulat.
Dilanjutkan dengan bergabungnya Kaesang Pangarep, anak bungsu Jokowi di akhir September 2023 dan diikuti dengan terpilihnya Kaesang menjadi Ketua Umum PSI dalam Kopdarnas Deklarasi Politik PSI dua hari kemudian. Peristiwa-peristiwa politik tersebut semakin menguatkan citra PSI sebagai “Partainya Jokowi”.
Relasi tersebut tampak menguat dalam penyelenggaraan kongres pertamanya. Beberapa peristiwa dapat dibaca sebagai indikasi terjalinnya relasi tersebut, misalnya: penyelenggaraan pemilu raya yang digadang-gadang sebagai implementasi atas wacana Jokowi yang berkeinginan membentuk sebuah partai super terbuka dengan memberi kesempatan kepada seluruh anggota untuk memilih ketua umumnya.
Pemilihan arena kongres di Graha Saba Buana, Surakarta, Jawa Tengah—sebuah gedung pertemuan milik sekaligus kampung halaman Jokowi. Semakin menguat tatkala Jokowi diberi ruang untuk menyampaikan pidato kebangsaan di hadapan ribuan kader PSI se-Indonesia. Bersamaan dengan pidato kebangsaannya, secara implisit Jokowi pun mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan PSI.
Jauh Panggang Dari Api
Harapan publik akan hadirnya sebuah partai politik dengan manajemen yang profesional dan mengedepankan meritokrasi pupus sudah. Rakyat harus kembali gigit jari tatkala relasi antara Jokowi dan PSI menguat. Klaim partai sebagai tempatnya anak-anak muda bereksperimen dengan sendirinya gugur oleh langkah PSI yang terlampau memberi ruang yang penting nan strategis kepada Jokowi dan keluarga.
Baca juga:
Terpilihnya Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI hingga 2030 mendatang dengan persentase suara yang meyakinkan, sebesar 65,28 persen dengan sendirinya memberi legitimasi yang kuat kepada anak bungsu Jokowi untuk menentukan arah gerak partai. Alih-alih menjadi sebuah partai politik yang meletakkan sepenuhnya kedaulatan di tangan anggota, terpilihnya Kaesang dan kuatnya indikasi bergabungnya Jokowi ke dalam partai justru semakin mengkristalisasi persepsi publik bahwa pelbagai keputusan dan kebijakan strategis partai hanya akan diambil oleh segelintir elite saja.
Jika hal semacam ini berlanjut, maka PSI tak ada bedanya dengan partai politik lain yang sudah lebih dulu terjebak dalam personalisasi partai—sebuah kondisi yang menempatkan segelintir individu elit memiliki posisi yang lebih penting tinimbang organisasi partai dan identitas kolektif lainnya. Alih-alih dikenal karena kuatnya platform ideologi yang dianut, partai politik justru lebih dikenal karena kepemimpinan karismatik dari elit individu belaka.
Artinya jika benar Jokowi memutuskan bergabung ke partai yang dipimpin anaknya, maka Jokowi tidak ada bedanya dengan Megawati di PDI-Perjuangan, Prabowo Subianto di Gerindra, Surya Paloh di Nasdem, hingga Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat. (*)
Editor: Kukuh Basuki
