Jeritan yang Tidak Didengar: Membaca Ulang Monolog “Tolong” Nano Riantiarno

Ratih Ayu Puspitasari

4 min read

Monolog Tolong karya Nano Riantiarno menyampaikan pergulatan batin manusia dengan cara sederhana namun memilukan. Lewat tokoh Atikah, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang disekap dan mengalami kekerasan di luar negeri, Nano tidak sekadar menceritakan penderitaan individu, melainkan juga menyingkap bagaimana struktur sosial memungkinkan hilangnya martabat seseorang. Dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, monolog ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap ketidakadilan sosial, hilangnya empati, dan kesepian manusia modern.

Sejak awal monolog, kata “tolong” diulang berkali-kali. Namun, pengulangan itu bukan sekadar permintaan bantuan biasa, melainkan tanda keputusasaan seseorang yang merasa sendirian dan diabaikan. Atikah berteriak, “Tolong! Siapa saja di situ, tolong! Saya di sini! Tolong! Ada manusia di sini. Perempuan.” Penggalan dialog tersebut menjadi penanda penting bahwa yang sedang meminta pertolongan bukan sekadar korban kekerasan, melainkan seorang manusia yang sedang berusaha mempertahankan keberadaannya. Situasi ini diperkuat oleh petunjuk laku yang menyertai adegan pembuka: (“Seketika tergeragap, bangun, mengejar ke jendela, berteriak”). Sejak awal, Nano menghadirkan suasana panik yang menunjukkan betapa putus asanya tokoh utama.

Baca juga:

Atikah berteriak meminta pertolongan, namun tidak ada yang datang. Ia terjebak di tempat sempit, menderita, dan kehilangan harapan. Penderitaan itu diperkuat melalui gambaran ruang yang sangat konkret ketika Atikah berkata, “Empat dinding ini, hanya satu jendela berjeruji besi jauh di atas sana. Tembok yang tebal. Tidak ada perabotan. Hanya tikar dan bantal.” Secara denotatif, kalimat tersebut menggambarkan ruang penyekapan yang sederhana. Namun secara konotatif, ruang itu menjadi simbol keterasingan dan kebuntuan. Atikah tidak hanya dipenjara secara fisik, tetapi juga diputus dari dunia luar, dari hukum, dan dari kemungkinan memperoleh pertolongan. Ruang sempit tersebut menjadi metafora bagi kondisi manusia yang terperangkap dalam sistem yang tidak adil.

Gaya bahasa Nano mengombinasikan realitas dan ilusi secara tajam. Atikah berulang kali berbicara kepada suaminya, Mudasir, seolah-olah ia benar-benar hadir di hadapannya. Ia berkata, “Mudasir? Kamu Mudasir? Bagaimana caranya kamu masuk kamar ini?” Akan tetapi, Mudasir tidak pernah benar-benar muncul sebagai tokoh nyata di atas panggung. Kehadirannya dapat dibaca sebagai simbol harapan terakhir yang masih dimiliki Atikah. Dalam kesendirian yang ekstrem, ia menciptakan ruang dialog agar tetap merasa hidup. Ketika pada bagian akhir ia memanggil, “Mudasir? Mudasir? Di mana kamu? Kamu juga pergi?,” penonton menyaksikan runtuhnya harapan tersebut. Bahkan bayangan yang selama ini menjadi tempat bergantung pun akhirnya meninggalkannya.

Kritik sosial dalam naskah ini terlihat dari perlakuan terhadap Atikah yang diposisikan sebagai penyumbang devisa negara namun tidak memperoleh perlindungan yang memadai. Atikah dengan getir mengatakan, “Kita binatang penghasil devisa negara. Sebutan pahlawan hanya slogan.” Kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana pekerja migran sering dipuji ketika menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi diabaikan ketika mengalami masalah. Nano menegaskan lemahnya perlindungan terhadap pekerja migran dan ketidakadilan hukum yang sering berpihak kepada mereka yang memiliki kekuasaan. Atikah dituduh mencuri, dipukul, disiksa, dan dikurung tanpa kesempatan membela diri. Dalam situasi tersebut, identitasnya sebagai manusia perlahan dihapus dan digantikan oleh berbagai stigma yang dilekatkan kepadanya.

Monolog ini juga sangat relevan dengan kehidupan masyarakat digital saat ini. Di era media sosial, permintaan tolong sering hadir dalam bentuk yang lebih samar: unggahan bernada sedih, status WhatsApp yang penuh keluhan, cuitan tentang kelelahan hidup, atau video yang memperlihatkan tanda-tanda depresi. Namun seperti teriakan Atikah yang tidak mendapatkan respons, banyak jeritan semacam itu justru berlalu begitu saja di linimasa. Budaya scrolling membuat masyarakat terbiasa melihat penderitaan orang lain tanpa benar-benar berhenti untuk mendengar. Tidak jarang seseorang yang sedang mengalami krisis mental justru dicap sebagai pencari perhatian (attention seeking). Dalam konteks ini, kata “tolong” dalam monolog Nano tidak lagi menjadi milik Atikah seorang, melainkan suara banyak orang yang berusaha mencari bantuan di ruang digital tetapi gagal dipahami.

Dalam konteks teater Indonesia, monolog Tolong memperlihatkan bagaimana panggung dapat menjadi ruang kesaksian. Atikah bukan hanya tokoh rekaan; ia mewakili ribuan cerita nyata yang sering tersembunyi di balik laporan berita singkat. Ketika Nano memilih bentuk monolog, ia seolah memaksa penonton untuk berhadapan langsung dengan suara yang tidak memiliki tempat lain untuk berbicara. Tidak ada tokoh lain yang dapat mengalihkan perhatian penonton. Yang tersisa hanyalah seorang manusia yang terus berbicara agar keberadaannya tidak lenyap.

Dari perspektif dramatik, kesunyian dalam monolog ini justru berbicara paling keras. Ketika Atikah berhenti sejenak atau menarik napas panjang, jeda tersebut menjadi ruang bagi penonton untuk merasakan kecemasan dan ketakutan yang ia alami. Kesunyian berubah menjadi bagian dari narasi. Ia bukan sekadar teknik panggung, melainkan representasi dari ketidakpedulian sosial. Dalam kehidupan nyata, banyak Atikah lain yang suaranya terhenti karena tidak ada yang bersedia mendengar.

Nano juga menyuguhkan potret bagaimana sistem patriarki memperkuat penderitaan tokoh perempuan. Atikah pergi bekerja demi keluarga, namun justru menanggung risiko paling besar. Sementara itu, keberadaan Mudasir sebagai sosok yang samar memperlihatkan bagaimana perempuan sering menggantungkan harapan pada figur yang tidak selalu mampu memberi perlindungan. Hal ini menunjukkan ironi bahwa mereka yang paling setia menanggung beban justru sering menjadi pihak yang paling rentan.

Baca juga:

Pembacaan semiotik Roland Barthes membantu memahami lapisan makna yang terdapat dalam monolog ini. Secara denotatif, kata “tolong” berarti permintaan bantuan dari seseorang yang sedang berada dalam bahaya. Namun secara konotatif, kata tersebut berkembang menjadi simbol penderitaan, kesepian, ketidakberdayaan, dan jeritan yang terus diabaikan. Pengulangan kata “tolong” memperlihatkan bagaimana suara korban perlahan kehilangan daya karena terlalu sering tidak ditanggapi.

Barthes juga berbicara mengenai mitos sosial, yaitu gagasan yang diterima sebagai sesuatu yang wajar oleh masyarakat. Dalam monolog ini, Nano membongkar mitos bahwa pekerja migran dihargai sebagai pahlawan devisa. Kenyataannya, mereka sering dipandang hanya sebagai alat ekonomi yang nilainya bergantung pada kemampuan menghasilkan uang. Ketika mengalami kekerasan, eksploitasi, atau ketidakadilan, perlindungan yang dijanjikan tidak selalu hadir. Atikah menjadi simbol kelompok yang suaranya diremehkan karena tidak memiliki kekuasaan.

Puncak makna monolog ini muncul pada bagian akhir ketika Atikah berteriak, “Tolong! Tapi jangan tolong saya. Tolonglah kita semua.” Pada titik ini, kata “tolong” mengalami perluasan makna. Permintaan bantuan yang semula bersifat personal berubah menjadi seruan kolektif. Dalam kerangka semiotika Barthes, kata tersebut tidak lagi hanya menunjuk pada nasib Atikah, melainkan pada kondisi sosial yang lebih luas: hilangnya empati, normalisasi ketidakadilan, dan kegagalan masyarakat untuk mendengar suara mereka yang berada di pinggir. Nano menunjukkan paradoks zaman modern: manusia semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin peduli.

Singkatnya, Tolong bukan sekadar cerita tentang seorang pekerja migran yang mengalami kekerasan, melainkan refleksi tentang manusia yang kehilangan ruang untuk didengar. Melalui tokoh Atikah, Nano Riantiarno memperlihatkan bagaimana penderitaan dapat berlangsung bukan hanya karena adanya pelaku kekerasan, tetapi juga karena absennya kepedulian sosial.

Dengan pendekatan semiotika Roland Barthes, kata “tolong” tampil sebagai tanda yang terus berkembang maknanya: dari permintaan bantuan individu menjadi kritik terhadap masyarakat yang semakin terbiasa mengabaikan penderitaan orang lain. Monolog ini mengingatkan bahwa empati bukan hanya kemampuan merasa iba, melainkan keberanian untuk benar-benar mendengar dan bertindak ketika seseorang meminta pertolongan. Dalam dunia yang semakin ramai oleh suara, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak bicara, melainkan kesediaan untuk mendengarkan sebelum semuanya terlambat. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ratih Ayu Puspitasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email