Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Transformasi Politik Ekonomi Negeri Tirai Bambu

Kukuh Basuki

3 min read

Tak bisa dipungkiri kekuatan ekonomi Tiongkok terus menggeliat hebat di beberapa dekade terakhir. Negara yang tahun 70-an terkesan kumuh, miskin, dan terbelakang itu kini bertransformasi menjadi negara modern yang gemerlap, berteknologi canggih, dan bersih.

Produk Tiongkok membanjiri pasar dunia, pendapatan per kapita masyarakanya terus naik dari tahun ke tahun, dan kualitas pendidikannya di atas rata-rata dunia. Tiongkok menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nomor satu di dunia mengalahkan negara-negara maju di benua Eropa dan Amerika.

Bagi negara-negara berkembang, Tiongkok menjadi pusat perhatian dan sumber kekaguman. Namun bagi negara adidaya Amerika, Tiongkok dianggap ancaman yang memicu terjadinya perang dagang di beberapa tahun terakhir. Walaupun saling berseberangan, kedua sudut pandang itu muncul dari informasi yang tak utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi di Tiongkok. Hal itu rentan menimbulkan stereotipe dan bias kesalahpahaman.

Dalam buku Strategi Baru Tiongkok: Melampaui Sosialisme dan Kapitalisme, Keyu Jin mencoba memberikan informasi yang proporsional tentang Tiongkok. Buku setebal 371 halaman tersebut merangkum beragam faktor yang berkontribusi dalam bangkitnya ekonomi Tiongkok. Dengan data ilmiah yang melimpah, alumni program Doktoral Harvard University tersebut memberikan informasi yang lebih komprehensif, objektif, dan lebih bernuansa tentang Tiongkok ketimbang segudang anekdot dan stereotipe hampa yang sering kita percayai begitu saja.          

Program Satu Anak

Sejak awal Keyu Jin berpesan pada pembaca bahwa kondisi di Tiongkok tidak bisa serta merta ditiru. Alih-alih membanggakan berlebihan tanah kelahirannya, profesor London School of Economic tersebut memberikan informasi tentang hal-hal yang di negara lain, paling tidak untuk saat ini mustahil dilakukan. Salah satunya adalah eksperimen sosial terbesar yang pernah dilakukan di dunia, yaitu program satu anak.

Baca juga:

Di Era Mao Zedong perempuan didorong untuk mempunyai anak sebanyak-banyaknya karena negara membutuhkan tentara dan tenaga kerja yang besar. Program itu membuat Tiongkok inflasi karena kelebihan populasi. Oleh sebab itulah pada 1978, presiden selanjutnya, Deng Xiaoping memutar kebijakan 180 derajat menjadi program satu anak. Ia menganggap bahwa populasi yang besar menghambat PDB (Produk Domestik Bruto).

Konsekuensi dari program satu anak tersebut membuat orang tua tidak ingin gagal pada  satu-satunya kesempatan dalam mengasuh anak. Mereka berusaha mati-matian berinvestasi pada pendidikan terbaik untuk memastikan anak semata wayangnya sukses. Hal itu juga didukung oleh program pertukaran pelajar yang mulai dibuka oleh pemerintah. Akhirnya hal itu membuat banyak masyarakat Tiongkok generasi 80’an sampai sekarang adalah generasi cerdas, sukses, dan kaya.

Sistem Ekonomi

Pemerintahan Deng Xiaoping juga menandai diperbolehkannya swasta membuka usaha di Tiongkok. Tentunya hal ini akan sangat ditentang oleh pejabat senior negara yang sudah kuat dengan akar ideologi komunis. Ia pun mengkompensasikannya dengan kontrol ketat ekonomi oleh negara. Swasta harus menuruti apa pun yang diinstruksikan negara terkait pasar, alih-alih memberikannya kebebasan pasar sebebas-bebasnya.

Tiongkon adalah satu dari sebagian kecil negara yang masih memegang teguh ideologi komunis. Sekertaris jenderal partai menjabat sebagai kepala negara dan ketua Komisi Militer Pusat. Di bawahnya ada sejumlah kementerian di bawah Dewan Negara. Pemimpin tertinggi dalam organisasi dan lembaga apa pun di negara tersebut adalah sekretaris partai.

Namun, untuk manajemen ekonomi sehari-hari, strukturnya berbeda dan tidak sentralistik sekaku negara-negara komunis lainnya. Pemerintah daerah, mulai provinsi, kota, kabupaten, kecamatan dan seterusnya mempunyai kebebasan kreativitas untuk menggenjot pemasukan ekonomi dan PDB.

Di Tiongkok, pemerintah pusat menangani politik domestik dan internasional serta menetapkan kebijakan ekonomi secara keseluruhan, sementara pemerintah daerah mengelola ekonominya sendiri” (hal. 136)

Uniknya, BUMD dan swasta bisa bekerja sama untuk meningkatkan pendapatannya. Negara malah memberi insentif besar-besaran kepada pemerintah daerah untuk berani mencoba ide-ide baru, bahkan tidak ada sanksi jika gagal. Pemerintah pusat memberikan penghargaan bagi kepala daerah yang berhasil mencapai PDB tertinggi dengan promosi jabatan.

Tentunya hal ini akan membuka peluang pemimpin daerah melakukan korupsi dan berpotensi besar meruntuhkan ekonomi secara keseluruhan. Oleh sebab itu, pada 2013 Presiden Xi Jinping meluncurkan program antikorupsi terbesar di dunia yang berhasil menghukum 2,3 juta pejabat daerah yang melanggar aturan.

Kondisi pemerintahan yang bersih dari korupsi dan berdaya saing ini semakin mengencangkan laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu seolah menjadi negara perusahaan raksasa yang terus bekerja tiap hari tanpa henti. Kini Tiongkok menjadi negara yang mempunyai angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, bahkan mengalahkan AS.

Teknologi dan Keamanan

Pada era digital, teknologi menentukan siapa pemenang dan pecundang geopolitik. Oleh sebab itu, Tiongkok tidak mau main-main dengan konsentrasi dan investasi di bidang teknologi. Tiongkok sudah menjadi nomor satu dalam inovasi produk, yakni memberikan fitur atau karakteristik baru agar lebih murah, bersih, dan efisien. Hal itulah yang membuat produk-produk Tiongkok dari mainan sederhana, peralatan rumah tangga, hingga teknologi berbasiskan kecerdasan artifisial membanjiri dunia.

Namun Keyu Jin masih menyoroti kelemahan negaranya dalam hal menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, bukan hanya sekadar inovasi dari yang sudah ada. Tentunya ini membutuhkan sumber daya peneliti dan biaya riset yang sangat besar. Namun sayangnya hingga kini masih jarang sekali sumber daya terdidik Tiongkok yang melanjutkan karier di bidang penelitian.

Baca juga:

Terkait pengawasan ketat terhadap warganya melalui big data dan kamera pengintai, masyarakat Tiongkok tidak keberatan asalkan itu menghasilkan keamanan dan kesehatan yang meningkat. Sebaliknya, pemerintah juga mau mendengarkan keluh kesah masyarakat melalui media digital. Jadi di dunia maya seperti ada pengawasan dua arah yang konstruktif. Tak seperti prasangka buruk dunia, tekanan dari masyarakatnya juga membuat Tiongkok membuat undang-undang perlindungan data dan privasi konsumen paling ketat di dunia.

Masa Depan Ekonomi Tiongkok

Walaupun mempunyai angka perkembangan ekonomi yang tinggi, pasar saham Tiongkok masih belum stabil dan mata uangnya masih belum sekuat dolar AS. Hal ini tentunya akan menjadi PR tersendiri dari pemerintah Tiongkok dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan bijak, Keyu Jin menyarankan bagi negara-negara adidaya untuk tidak menganggap kemajuan Tiongkok ini sebagai ancaman. Sebaliknya, ia menawarkan sebuah konsep kolaborasi dan saling mengisi, alih-alih kompetisi.

Sementara bagi negara-negara berkembang dan ekonomi lemah, ia berharap apa yang dituliskannya menjadi inspirasi dengan mengambil apa yang mungkin dilakukan dan membuang apa yang mustahil, untuk selanjutnya dikombinasikan dengan kebijakan ekonomi yang lebih sesuai dengan kondisi lokal.

Terlepas dari semua perkembangan yang terjadi di Tiongkok, pastinya muncul pertanyaan pada kita semua tentang ideologi macam apa yang sekarang berlaku di Tiongkok. Apakah komunis? Kapitalis? Atau entitas baru hasil penggabungan dari kedua sistem ekonomi tersebut?

Untuk menjawab itu, Deng Xiaoping mengatakan, “Tidak masalah apakah seekor kucing berwarna hitam atau putih, asalkan ia bisa menangkap tikus” (hal. 6), untuk menyudahi perdebatan ideologis dan kembali berfokus mengusahakan kesejahteraan bangsa dan negaranya. 

 

 

Editor: Prihandini N

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email