Lahir dan besar di Nganjuk, 2006. Mahasiswa sastra Indonesia di Surabaya yang bergiat di Komunitas Rabo Sore. Jumpai melalui Instagram @citrashads

Segelas Kopi dan Cara Kita Menjadi Kelas Menengah

Shafa Citra Faradisa

2 min read

Pagi hari di kota selalu dimulai dengan rutinitas yang sama. Motor lalu-lalang, pedagang kaki lima membuka lapak, dan warung kopi (warkop) mulai ramai oleh orang-orang yang mencari jeda sebelum bekerja. Di sudut-sudut tertentu, warkop menjadi ruang paling hidup. Bukan karena desainnya menarik atau menunya beragam, tetapi karena di sanalah orang-orang duduk tanpa beban, berbagi cerita, dan menunda sejenak tuntutan hidup.

Sewaktu masih menjadi mahasiswa baru warkop, TPS dan Alexa menjadi dua tempat yang sering kami datangi setelah kelas selesai. Dua tempat ini sederhana, bahkan jauh dari kesan estetik. Kursi dan mejanya dari kayu usang, serta menunya tidak rumit. Kopi hitam, kopi susu, gorengan, dan rokok. Namun justru di ruang seperti ini, relasi sosial bekerja secara paling jujur. Tidak ada tuntutan untuk terlihat keren. Tidak ada kewajiban membeli minuman mahal. Orang datang untuk duduk, bukan untuk dipamerkan.

Bagi banyak orang, nongkrong sering dianggap sebagai aktivitas santai tanpa makna. Padahal, kebiasaan ini menyimpan banyak lapisan sosial. Di warkop, nongkrong menjadi cara bertahan hidup secara psikologis. Orang-orang yang lelah bekerja, mahasiswa yang pusing tugas, atau pengemudi ojek yang menunggu order, semua bertemu dalam kondisi yang setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang perlu direndahkan.

Baca juga:

Di sisi lain, coffee shop modern menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ruangnya bersih, pencahayaannya diatur, musiknya tenang. Harga kopi di sana sering kali setara dengan satu porsi makan. Nongkrong di tempat ini bukan sekadar minum kopi, tetapi juga mengonsumsi suasana. Orang datang untuk bekerja dengan laptop, mengunggah foto, atau sekadar menunjukkan bahwa ia bagian dari gaya hidup tertentu.

Perbedaan ini terlihat sepele, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan kelas sosial.

Dalam kacamata Marxisme, kapitalisme bekerja dengan cara mengatur produksi dan konsumsi. Manusia tidak hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga untuk terus mengonsumsi. Kopi menjadi contoh sederhana. Kopi tidak lagi sekadar minuman penghilang kantuk. Ia berubah menjadi komoditas gaya hidup.

Ketika seseorang membeli kopi di coffee shop, ia tidak hanya membayar rasa. Ia membayar citra, pengalaman, dan identitas. Kapitalisme mengemas semua itu agar terlihat wajar dan diinginkan. Konsumsi menjadi tanda siapa diri kita. Minum kopi tertentu menandakan selera, kelas, bahkan pandangan hidup.

Namun, ini tidak berarti bahwa setiap tindakan konsumsi otomatis salah. Membeli kopi dari UMKM atau abang F&B keliling juga bagian dari sistem ekonomi. Uang tetap berputar. Produsen kecil tetap hidup. Yang membedakan adalah relasi kuasa di baliknya. Siapa yang diuntungkan lebih besar. Siapa yang memiliki kontrol atas produksi dan distribusi.

Warkop TPS dan Alexa menunjukkan bagaimana ruang nongkrong kelas bawah bekerja. Di sana, orang tidak dituntut untuk produktif secara terus-menerus. Duduk berjam-jam tidak dianggap pemborosan. Mengobrol dianggap sama pentingnya dengan bekerja.

Dalam istilah Althusser, ruang seperti warkop bisa dilihat sebagai aparatus ideologis informal. Ia tidak mengajarkan ideologi secara eksplisit, tetapi membentuk kebiasaan dan cara berpikir. Di warkop, solidaritas tumbuh secara alami. Orang belajar berbagi cerita, mendengar keluhan, dan memahami bahwa hidup tidak selalu tentang kompetisi.

Sebaliknya, coffee shop modern sering kali mereproduksi ideologi produktivitas. Nongkrong harus sambil bekerja. Duduk lama harus sebanding dengan hasil. Waktu luang tetap diikat oleh logika efisiensi.

Konsumsi, Kesadaran, dan Pilihan

Pertanyaan pentingnya bukan apakah nongkrong di coffee shop itu salah. Pertanyaannya adalah sejauh mana kita sadar atas pilihan tersebut. Kesadaran kelas dalam Marxisme bukan berarti menolak konsumsi, tetapi memahami posisi kita dalam struktur ekonomi.

Ketika seseorang memilih membeli kopi sachet dari abang motor untuk diseduh di kos, itu bisa dibaca sebagai praktik ekonomi alternatif. Ia lebih murah, lebih mandiri, dan sering kali lebih dekat dengan produsen kecil. Namun pilihan ini tetap berada dalam sistem kapitalisme yang lebih besar. Tidak ada ruang yang benar-benar di luar sistem.

Baca juga:

Yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran. Menyadari bahwa selera dibentuk. Menyadari bahwa kebutuhan sering kali diciptakan. Dari kesadaran ini, seseorang bisa menentukan sikap yang lebih adil dan manusiawi.

Nongkrong sebagai Bentuk Perlawanan Kecil

Dalam skala kecil, nongkrong di warkop bisa dibaca sebagai bentuk perlawanan sehari-hari. Ia menolak tuntutan untuk selalu produktif. Ia memberi ruang bagi manusia untuk bernapas. Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan hidup, duduk sambil minum kopi murah menjadi cara mempertahankan kewarasan.

Perlawanan ini tidak heroik. Tidak revolusioner. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia terjadi secara diam-diam, berulang, dan kolektif. Orang-orang terus datang ke warkop, berbagi cerita, dan membangun jaringan sosial di luar logika pasar formal.

Menutup Gelas Kopi

Segelas kopi tidak pernah netral. Ia selalu membawa cerita tentang siapa yang membuatnya, di mana diminum, dan untuk tujuan apa. Warkop dan coffee shop menunjukkan dua wajah kapitalisme yang berbeda. Yang satu menekankan kebersamaan dan keterjangkauan. Yang lain menonjolkan citra dan produktivitas.

Sebagai mahasiswa dan bagian dari masyarakat, kita tidak harus memilih salah satu secara mutlak. Yang lebih penting adalah menjaga kesadaran. Menyadari bahwa pilihan konsumsi selalu punya implikasi sosial. Dari kesadaran itulah, ruang-ruang nongkrong bisa tetap menjadi tempat manusia bertemu sebagai manusia, bukan sekadar konsumen. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Shafa Citra Faradisa
Shafa Citra Faradisa Lahir dan besar di Nganjuk, 2006. Mahasiswa sastra Indonesia di Surabaya yang bergiat di Komunitas Rabo Sore. Jumpai melalui Instagram @citrashads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email