Kadang membaca, kadang menulis, tapi lebih sering ngopi

Buku dan Ingatan, Dua Hal yang Tak Bisa Dihancurkan

Gema Rohullah Khumaini

2 min read

Kita mungkin jarang menyaksikan buku dilempar ke dalam api hari ini, tapi sejarah sudah mencatat berulang kali bagaimana gagasan dianggap lebih berbahaya daripada peluru.

Sejak aksara pertama diukir di tanah liat Sumeria hingga tersusun di rak buku ruang tamu kita, manusia selalu menyimpan sesuatu yang paling rapuh sekaligus paling kuat: ingatan. Dan setiap kali penguasa merasa terancam, buku adalah korban pertama yang diseret ke tiang gantungan.

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Begitulah yang dikatakan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika belaka, melainkan sebuah kenyataan yang tercermin dalam sejarah panjang peradaban manusia.

Buku menjadi media pendokumentasian pengetahuan manusia sejak pertama kali ditemukan. Manusia sudah sejak lama bertanya dan mencari jawaban atas segala peristiwa yang ditemuinya. Lantas ketika manusia mulai menemukan pengetahuan, mereka sadar bahwa mengandalkan ingatan saja tidak akan cukup, ingatan terlalu rapuh. Karena itulah, mereka mulai mencatat, mengkristalkan pikiran ke dalam bentuk tulisan. Disitulah produk budaya bernama buku dikenal, meski pada saat itu bentuknya masih belum seperti saat ini.

Baca juga:

Sejak dahulu buku menjadi cara untuk menyimpan dan memperpanjang ingatan. Di dalamnya terdapat pengetahuan, budaya, dan identitas yang coba diwariskan penulisnya. Jika mikroskop sebagai perpanjangan penglihatan, telepon sebagai perpanjangan pendengaran, maka buku sebagai perpanjangan ingatan dan imajinasi. Tentu ini hal baik, tapi setiap hal baik pasti mempunyai tantangannya. Sejak ditemukan hingga saat ini buku senantiasa menghadapi ancaman pemusnahan.

Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Setidaknya dalam kurun 3 zaman selalu, terdapat sejarah tentang pemusnahan buku, seperti itulah yang dikatakan Fernando Baez dalam buku Penghacuran Buku dari Masa ke Masa. Pemusnahan terjadi sejak zaman kuno, zaman Byzantium, dan zaman abad ke-20, sampai sekarang.

Banyak motif yang melatarbelakangi pemusnahan buku. Tapi dua di antaranya paling sering diakibatkan kepentingan politis dan religius. Seperti yang terjadi di Eropa pada masa Galileo Galilei, yang diadili dan seluruh catatannya dibakar. Hal tersebut lantaran dirinya mendukung teori heliosentris dan dianggap menentang pengetahuan dari gereja dan dikhawatirkan membawa kesesatan.

Akibatnya, seluruh catatannya dibumihanguskan. Tujuannya untuk menjaga ”kestabilan pengetahuan masyarakat” versi penguasa. Penghancuran buku juga tercatat jauh sebelum itu. Perpustakaan Alexandria milik bangsa Mesir yang menyimpan 40.000 buku hancur akibat perang. Penghancuran perpustakaan sebagai sumber pengetahuan juga terjadi pada era keemasan Islam di Baghdad, perpustakaan Bait Al-Hikmah dihancurkan saat invasi bangsa Mongol dibawah Hulagu Khan.

Penghancuran yang terjadi pada abad ke-20 terjadi pada masa Perang Dunia II. Nazi melakukan penghancuran buku-buku Yahudi, peristiwa tersebut dinamakan bibliocaust. Sebuah simbol nyata dari kekerasan ideologis sebelum dimulainya Holocaust. Memang benar seperti yang dikatakan Heinrich Heane, “di mana mereka membakar buku, pada akhirnya mereka akan membakar manusia”.

Di Indonesia sendiri, sejarah mencatat pernah terjadi pelarangan terhadap buku-buku yang dianggap kiri, dengan melakukan sensor dan pembredelan oleh rezim penguasa.

Semua penghacuran buku memiliki satu tujuan, yakni menghilangkan identitas. Menghancurkan buku-buku sama saja dengan menghapus memori kolektif. Dan tidak akan pernah ada identitas yang terbentuk tanpa adanya ingatan. Penghancuran buku adalah tiang gantungan massal bagi pertumbuhan peradaban.

Bagi saya pribadi, menghancurkan buku adalah tindak kekerasan. Penghancuran buku dapat dikatakan sebagai simbol penindasan, penghapusan sejarah, pengetahuan, dan budaya. Hal ini juga bisa disebut sebagai penghinaan terhadap intelektualitas.

Baca juga:

Sudah sepantasnya ide dijunjung tinggi. Jika merasa terancam terhadap sebuah gagasan, membakar buku tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, justru tindakan tersebut akan membuat orang-orang semakin penasaran. Lebih dari itu, membakar buku akan memutus kesempatan peradaban manusia untuk belajar.  Ketakutan terhadap sebuah ide mestinya dibalas dengan membuat ide lain. Jika meminjam dari istilah Gramsci, ini disebut counter hegemony. Ide dibalas dengan ide.

Pada akhirnya, membakar buku tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah, Ia adalah bentuk penekanan kebebasan berekspresi. Hal tersebut malah akan menumbuhkan persoalan yang lain, sebab sebuah gagasan tak akan pernah mati kecuali dibunuh oleh pemiliknya sendiri.

Selagi pikiran tersebut sempat dituliskan, ia telah melewati banyak saluran dan akan terus mengalir. Melalui buku, peradaban akan terbangun dan kesadaran akan terpupuk. Buku selayaknya rahim pengetahuan, tempat lahirnya perlawanan.

Membaca membuat kita hidup dan sadar. Pikiran manusia sepertihalnya tanaman, dia akan terus tumbuh dan berkembang jika kita bisa merawatnya. Tentu cara terbaik untuk merawatnya adalah dengan membaca dan menuliskannya, sehingga gagasan akan tetap menemukan cara untuk terus hidup dan berlipat ganda.

Nyawa bisa pergi, jasad bisa mati, tapi tidak dengan gagasan. Ia abadi. Maka hargailah buku, ia bukan sekadar tumpukan lembaran kertas tapi napas hidup sebuah zaman. Bacalah, bukan bakarlah!

 

 

Editor: Prihandini N 

Gema Rohullah Khumaini
Gema Rohullah Khumaini Kadang membaca, kadang menulis, tapi lebih sering ngopi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email