Negara dalam Impian Tan Malaka Kala Itu

sajad khawarismi maulana musthofa

2 min read

Negara dalam pandangan Tan Malaka bukan sekadar tumpukan batas wilayah atau institusi formal, melainkan wujud nyata kedaulatan yang dijalankan dari akar rumput. Di tengah gejolak kolonialisme dan pergolakan politik global, ia merumuskan visi tentang republik yang benarbenar “milik rakyat”. Lewat tulisan-tulisannya, Tan Malaka menantang cara berpikir konvensional soal demokrasi dan pemerintahan membuka ruang refleksi tentang bagaimana seharusnya negara bisa menjadi instrumen keadilan sosial.

Tan Malaka, Republik, dan Demokrasi dari Akar Rumput

Bicara soal kemerdekaan Indonesia, nama Tan Malaka memang jarang muncul di buku pelajaran secara mendalam. Padahal, di masa sebelum Indonesia merdeka, ia adalah salah satu tokoh yang paling keras menyuarakan pentingnya republik bukan sekadar merdeka dari Belanda, tapi membangun negara yang benar-benar berpihak pada rakyat. Bagi Tan, kemerdekaan bukan akhir, tapi jalan panjang menuju tatanan baru: negara sosialis yang adil dan merdeka dari segala bentuk penindasan, baik kolonial maupun kapitalistik.

Dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (1925), Tan sudah berbicara jauh ke depan. Ia tidak hanya ingin Indonesia merdeka, tapi juga ingin negara ini dibentuk berdasarkan kekuasaan rakyat pekerja bukan elit feodal atau borjuasi. Di masa itu, belum banyak tokoh nasionalis yang berpikir sejauh dan setajam Tan. Ia membayangkan negara Indonesia sebagai republik satu partai yang digerakkan oleh kekuatan massa rakyat: petani, buruh, dan kaum intelektual yang tercerahkan.

Baca juga:

Apa yang ia bayangkan bukan demokrasi parlementer ala Barat. Tan melihat model itu terlalu kaku, elit, dan penuh kompromi dengan kepentingan pemilik modal. Ia ingin demokrasi yang hidup dari bawah, dari rapat-rapat desa, dari dewan-dewan rakyat, dan bukan sekadar kotak suara lima tahun sekali. Dalam Aksi Massa (1926), ia bahkan mengusulkan agar wakil rakyat bisa diberhentikan kapan saja oleh konstituen mereka bukan menunggu masa jabatan selesai. Itu cara dia membayangkan demokrasi yang betul-betul dinamis, langsung, dan berpihak ke rakyat kecil.

Tan juga mengkritik konsep trias politica: pembagian kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Bagi dia, sistem itu justru membuat negara tidak efisien. Ia menyebutnya “kekonyolan ala Eropa.” Dalam pandangan Tan, negara ideal adalah negara yang dijalankan satu organisasi besar yang mewakili suara mayoritas rakyat dan langsung bekerja. Tan ingin negara yang gesit, bukan yang sibuk bersilang pendapat di parlemen tanpa aksi nyata.

Impian yang Lahir di Pengasingan dan Mati Sebelum Dikenal

Impian Tan Malaka soal negara yang ideal tidak muncul begitu saja. Ia mengalami pengasingan, pelarian, bahkan penjara di berbagai negara: Belanda, Filipina, Tiongkok, sampai Uni Soviet. Ia menyaksikan langsung bagaimana sistem pemerintahan berjalan di berbagai tempat, lalu membandingkannya dengan nasib rakyat di tanah jajahan seperti Indonesia. Dari sanalah pandangannya tentang negara dan demokrasi terbentuk bukan sekadar dari buku, tapi dari pengalaman pahit sebagai pelarian politik.

Ketika Jepang menjajah Indonesia, Tan sempat kembali ke tanah air. Dalam buku Madilog (1943), ia mulai menyusun dasar-dasar berpikir ilmiah untuk membangun bangsa. Di akhir buku itu, ia melukiskan gagasan tentang negara Indonesia merdeka dan sosialis, di mana ilmu pengetahuan menjadi senjata rakyat untuk bebas dari kebodohan dan penindasan. Ini bukan utopia kosong. Tan sadar bahwa tanpa cara berpikir rasional dan kritis, rakyat akan terus dijajah bahkan oleh bangsanya sendiri.

Sayangnya, impian Tan Malaka mati sebelum sempat diwujudkan. Setelah proklamasi, ia sempat membentuk Partai Murba dan aktif dalam Revolusi 1945. Tapi lagi-lagi, idealismenya dianggap terlalu radikal. Ia berselisih paham dengan Soekarno-Hatta yang lebih kompromis dalam berpolitik. Dalam dinamika yang makin kacau, Tan Malaka ditangkap oleh sesama pejuang dan akhirnya dieksekusi pada 1949, tanpa pengadilan, di Kediri. Tragis, negara yang ia impikan justru menyingkirkannya sebelum sempat tumbuh.

Baca juga:

Namun, warisan pemikiran Tan tetap hidup. Di tengah riuhnya demokrasi elektoral yang sering kali kering makna, ide-ide Tan tentang demokrasi akar rumput, keterlibatan langsung rakyat, dan negara yang berpihak pada buruh dan petani tetap relevan. Ia mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar seremoni, tapi kerja panjang membangun sistem yang adil dan setara. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

sajad khawarismi maulana musthofa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email