Saat Ulama dan Intelektual Memilih Diam di Tengah Kezaliman

Dwi Kurniadi

3 min read

Negeri-negeri Muslim hari ini, dari jantung Arab hingga pinggiran Asia Tenggara, semakin mengeras dalam ketakutan yang dibungkus rapi oleh dalil dan retorika pembangunan. Mereka memiliki masjid megah dan konstitusi yang konon terinspirasi dari nilai-nilai ilahiah. Tapi, di bawah menara adzan yang menjulang, banyak rakyat yang bungkam dan yang lebih memilukan, banyak ulama serta kaum intelektual yang memilih diam, menundukkan kepala di hadapan kekuasaan yang zalim.

Ini bukan sekadar diam yang pasif, melainkan diam yang permisif, diam yang memperpanjang umur kezaliman, bahkan menyamakannya dengan takdir. Di depan para penguasa yang mengikis demokrasi, menindas oposisi, dan memperdagangkan agama demi stabilitas semu, para juru dakwah justru membacakan doa-doa keselamatan negara, bukan keselamatan manusia.

Dalam sunyi podium mereka, dalam getar suara khutbah yang tak pernah menyebutkan kemiskinan sebagai produk ketimpangan, dalam tulisan ilmiah yang tak pernah menyinggung hilangnya hak bersuara, di situlah otoritarianisme tumbuh bukan dari kekerasan semata, tapi dari legitimasi yang diselubungkan oleh jubah suci dan gelar akademik.

Sebagaimana pernah ditulis Noam Chomsky, “Terkadang manusia tidak mencari kebenaran, mereka mencari kenyamanan untuk mendukung posisi mereka.” Dan dalam masyarakat yang telah menjadikan kenyamanan sebagai Tuhan baru, kebenaran adalah barang haram, ia membahayakan jabatan, meresahkan relasi kekuasaan, dan mengancam fasilitas.

Ulama yang seharusnya menjadi pelita dalam gelap, justru menjadi lentera di ruang penguasa. Ia bersinar hanya untuk satu sisi. Intelektual yang katanya penjaga akal dan penafsir zaman, menjelma juru ketik proyek-proyek legitimasi, dengan bahasa akademik yang kaku dan steril dari keberpihakan.

Baca juga:

Mereka diam bukan karena tak tahu, tetapi karena tak mau menanggung risikonya. Mereka paham betul tentang kezaliman, namun merasa tak perlu bersuara, karena di sekitarnya tak ada yang terluka secara langsung. Mungkin karena gaji mereka tak dipotong, anak mereka tak ditangkap, dan mimbar mereka tak dirobohkan. Maka yang lahir bukan kejujuran, tapi kehati-hatian yang licik.

Ketika Kekuasaan Disucikan, Perlawanan Menjadi Dosa

Kekuasaan yang zalim tak tumbuh sendirian. Ia dirawat oleh keheningan dan dijaga oleh mereka yang seharusnya menggugat. Ia disiram oleh ayat-ayat yang dibaca setengah, dipupuk oleh tafsir-tafsir yang dibelokkan demi status quo. Ketika para ulama sibuk menasihati rakyat agar taat pada pemimpin, tetapi tak pernah menasihati pemimpin agar adil kepada rakyat, maka agama telah kehilangan arah profetiknya.

Dalam sejarah Islam yang panjang, suara-suara perlawanan justru datang dari mereka yang memelihara nurani. Imam Nawawi menolak tunduk pada penguasa, walau harus kehilangan jabatan. Ibn Taymiyyah lebih memilih penjara daripada menjadi juru damai bagi tirani. Mereka tidak diam di hadapan kekuasaan karena tahu, kebenaran bukan untuk ditunda, dan keadilan bukan proyek jangka panjang.

Namun kini, narasi itu diganti. Ketika ada yang berbicara, disebut pembangkang. Ketika ada yang menulis, disebut subversif. Ketika ada yang menyerukan keadilan, dituduh memecah belah umat. Perlawanan dikriminalisasi, dan ketaatan disucikan.

Para ulama negeri tidak mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar sebagai kewajiban sosial, tapi sebagai upaya spiritual yang bersifat individual. Cukup dengan memperbaiki diri, katanya. Padahal kezaliman tak tumbang oleh salat tahajud seorang diri, tetapi oleh solidaritas moral yang menggetarkan dinding istana.

Pengkhianatan Kaum Intelektual Dan Kalangan Ulama

Di hadapan kekuasaan yang menindas, sikap diam adalah keberpihakan. Dan dalam masyarakat muslim yang menjadikan keadilan sebagai prinsip utama syariat, membiarkan ketidakadilan tumbuh berarti mengkhianati Islam itu sendiri. Sayangnya, sebagian ulama justru sibuk menertibkan pakaian dan gerakan jari dalam doa, ketimbang menertibkan penguasa yang menjarah tanah rakyat.

Begitu pula para intelektual. Mereka tenggelam dalam seminar dan jurnal, tapi enggan turun ke jalan. Mereka pandai menulis tentang teori keadilan, tapi tak pernah mengangkat suara ketika aktivis ditangkap. Mereka memilih menjadi penyair kekuasaan, bukan penjaga nurani sosial. Barangkali karena di dunia akademik yang korup, gelar dan dana penelitian lebih penting dari membela yang tertindas.

Jika demikian, siapakah yang akan menyuarakan kebenaran? Apakah kebenaran hanya akan diucapkan oleh mereka yang tak punya apa-apa, yang kehilangan rasa takut karena memang sudah kehilangan segalanya? Apakah ulama dan intelektual harus menunggu menjadi korban terlebih dahulu sebelum mereka bisa merasakan nyeri sosial yang sesungguhnya?

Otoritarianisme tidak hanya hidup dari peluru dan pasal, tetapi dari legitimasi yang diberi aroma suci oleh mereka yang semestinya menentangnya. Ketika kekuasaan disucikan, maka setiap upaya melawannya dianggap dosa. Dalam dunia seperti ini, revolusi menjadi kutukan, dan konformisme menjadi ibadah.

Dan di sinilah kita berada, pada titik di mana agama kehilangan kekuatannya untuk membebaskan, dan akal kehilangan keberaniannya untuk menggugat. Ketika dua pilar moral masyarakat ini runtuh dalam ketakutan dan kenyamanan, yang tersisa hanyalah rakyat yang dibiarkan bingung disuapi nasihat sabar dalam penderitaan, dididik untuk taat dalam ketercekikan.

Baca juga:

Namun, sejarah mengajarkan bahwa diam tidak pernah abadi. Ketika penderitaan mencapai titik didih, rakyat akan menemukan suara mereka sendiri. Jika para ulama memilih diam, rakyat akan mencari nabi baru yang tidak memiliki jubah. Jika para intelektual memilih bisu, sejarah akan menulis mereka sebagai kaki tangan tirani. Dan pada akhirnya, bukan hanya penguasa yang akan diadili oleh sejarah, tetapi juga mereka yang tahu kebenaran namun memilih menyimpannya demi kenyamanan.

Otoritarianisme di negeri-negeri muslim tidak bisa dipahami hanya sebagai produk politik. Ia adalah simfoni kelumpuhan moral, di mana suara-suara yang semestinya membebaskan justru bungkam karena takut kehilangan tempat duduknya di ruang kekuasaan. Maka, pertanyaannya hari ini bukan lagi “siapa yang berkuasa?”, tetapi “siapa yang berani bicara?”, sebab ketika suara keadilan dibungkam oleh kesunyian elite, kebenaran akan muncul dari celah yang paling tak terduga dari rakyat biasa yang belajar berteriak, meski sendirian.

Tulisan in tidak semena-mena ditulis, ini adalah sebuah pesan kepada semua pemegang peran agar berperan selayaknya perannya tersebut. Tidak berkhianat dan terus berkhidmat demi agama, nusa dan bangsa.

 

 

Editor: Prihandini N

Dwi Kurniadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email