Manusia kerap disebut sebagai makhluk paling sempurna, seolah tatanan dunia ini memang dikhususkan bagi kita sebagai tokoh utamanya. Kemampuan otak yang superior seringkali dianggap sebagai pemicu terkuat dan pembeda mutlak dari makhluk lain. Peradaban yang kita bangun, begitu narasinya, adalah mahakarya dari para jenius agung yang dianugerahi kecerdasan luar biasa. Namun, Dede Mulyanto dalam bukunya, Marxisme dan Evolusi Manusia, dengan mengacu pada pemikiran Friedrich Engels dan Karl Marx, mengajak kita untuk membongkar kembali narasi yang membanggakan ini. Ia mengingatkan kita pada sebuah proses panjang yang kerap kita lupakan.
Dalam kerangka ini, Engels secara radikal berpendapat bahwa otak bukanlah penyebab; ia justru adalah akibat.
Kisah evolusi manusia, dalam perspektif materialis ini, tidak dimulai di dalam tempurung kepala, melainkan di sabana Afrika ketika nenek moyang kita turun dari pepohonan. Perubahan alam yang menyusutkan hutan memaksa leluhur kita untuk beradaptasi dengan kehidupan di darat. Langkah pertama yang menentukan dalam peralihan menuju manusia adalah berdirinya tubuh secara tegak (bipedalisme). Konsekuensinya fundamental: tangan, yang selama jutaan tahun berfungsi sebagai penopang tubuh dan alat memanjat, kini bebas untuk melakukan tugas-tugas baru.
Baca juga:
Tangan yang bebas inilah yang menjadi alat produksi pertama. Dengannya, manusia purba mulai mengubah dirinya dan alam sekitar. Ia mulai membuat perkakas untuk membantunya mengumpulkan, mencari, atau mencacah makanan. Inilah titik nol evolusi manusia yang sesungguhnya: kerja. Dari tangan yang mulai bekerja dengan alam, dan dari interaksi inilah pikiran secara perlahan dibentuk. Namun, kehidupan di tanah datar juga membawa kerentanan baru. Dengan berdiri tegak, hominin awal menjadi lebih lambat dan lebih mudah terlihat oleh pemangsa. Kondisi berbahaya inilah yang secara alamiah mendorong mereka untuk tidak beraktivitas sendirian dan menuntut adanya sosialitas sebagai strategi bertahan hidup.
Percikan Kolektif – Bagaimana Kerja Sosial Melahirkan Bahasa dan Otak
Solusi dari kerentanan itu adalah kerja kolektif. Aktivitas yang berat dan berbahaya seperti berburu atau mempertahankan wilayah menuntut kerjasama yang erat. Kerja kolektif inilah yang kemudian menjadi inkubator bagi dua ciri khas manusia yang paling kita banggakan: bahasa yang kompleks dan otak yang besar. Bukan bahasa dan otak yang menyebabkan adanya kerja, melainkan kerja sosial-lah yang menciptakan kebutuhan mendesak akan keduanya.
Untuk dapat bekerja sama secara efektif, diperlukan sebuah cara untuk menyampaikan tujuan dan maksud yang sama. Maka, bahasa pun lahir sebagai sarana paling ampuh untuk mempertautkan individu dalam sebuah kelompok. Seiring dengan semakin kompleksnya interaksi sosial dan tugas-tugas yang harus dikoordinasikan, otak pun mengalami tekanan selektif untuk berkembang (ensefalisasi). Otak yang lebih besar dibutuhkan untuk memproses bahasa, merencanakan strategi, dan mengelola hubungan sosial. Proses ini adalah sebuah dialektika: kerja mendorong bahasa, bahasa mendorong otak, dan otak yang lebih baik memungkinkan kerja yang lebih kompleks lagi.
Fondasi dari kerja sosial dan bahasa yang kompleks inilah yang memungkinkan lahirnya apa yang kita sebut sebagai “peradaban”. Kemampuan untuk bekerja sama dalam skala besar, diikat oleh bahasa dan memori kolektif, memungkinkan terjadinya revolusi pertanian, pembangunan pemukiman permanen (kota), dan ledakan teknologi yang terus berlanjut hingga hari ini. Setiap gedung pencakar langit, setiap baris kode komputer, pada dasarnya adalah buah dari pohon yang akarnya adalah kerja tangan nenek moyang kita.
Lalu, mengapa evolusi manusia lebih maju daripada primata lain?
Teori pergeseran lempeng bumi menjelaskan bahwa dulu manusia dan primata lain berbagi habitat yang sama. Sebuah keretakan besar di bumi (Rift Valley di Afrika) memisahkan mereka menjadi dua wilayah dengan kondisi ekologis yang berbeda. Nenek moyang manusia terdampar di lingkungan yang lebih menantang, yang memaksa mereka untuk beradaptasi dengan cara baru: memproduksi alat dengan tangan mereka. Inilah perbedaan fundamentalnya. Evolusi manusia digerakkan oleh proses dialektika antara kondisi material dan kerja sosial, bukan semata-mata oleh perubahan biologis yang pasif.
Baca juga:
Buku ini tentu mengajarkan kita untuk berpikir dari perspektif evolusi filosofis, bahwa semua bermula dari sebuah proses. Teori yang digagas oleh Angels ini telah mendapat banyak pertentangan dari pelbagai kelompok pada masanya, namun apa yang kini ingin disampaikan oleh perspektif Evolusi Manusia yang ditulis Dedi Mulyanto perlunya kita renungkan.
Nenek moyang kita adalah manusia biasa yang juga mengalami suka dan duka. Namun, karena mereka hidup di masa permulaan, kerja keras mereka menjadi warisan fundamental bagi kita semua. Otak yang kita banggakan ini bukanlah hadiah, melainkan sebuah amanah—hasil dari jutaan tahun kerja kolektif yang kini ada di tangan kita untuk dijaga dan digunakan dengan bijaksana. (*)
Editor: Kukuh Basuki
