“You can’t plant trees and call it ecology if you’re not also confronting the relations that created deforestation in the first place.”
“Without confronting capitalism as a system of Cheap Nature, ‘planting trees’ becomes gardening — a cosmetic act that preserves the system, not challenges it.”
Dua kutipan Jason W. Moore di atas dalam bukunya Capitalism in the Web of Life adalah sebuah kritik tajam pada perilaku kita dalam ‘menyelamatkan bumi’ hari ini. Sebuah misi pembersihan sampah tanpa membersihkan akar dari segala akar sampah – akar kekacauan dan kerusakan, dan justru terjebak dalam logika sistemnya.
Tidak asing bagi kita hari-hari ini melihat produk-produk ramah lingkungan, kampanye anti plastik, anti bahan bakar fosil, gerakan membersihkan sampah, dan aksi-aksi go green lainnya yang dibalut dengan misi serta citra yang terkesan progresif dan berkelanjutan. Namun yang kerap luput dari pembacaan adalah bahwa aksi berkelanjutan ini merupakan penjinakan perlawanan sekaligus kooptasi wajah kapitalisme yang lain.
Baca juga:
Narasi go green tanpa sering disadari justru berfungsi sebagai katup pengaman sistem, bukan tantangan terhadapnya. Ia mengarahkan kegelisahan ekologis masyarakat ke jalur yang tidak membahayakan kepentingan korporasi atau struktur kekuasaan global. Membuat kita hanya fokus pada persoalan sedotan plastik, puntung rokok, kantong plastik, tanpa kritis dan melawan tambang batu bara, tambang nikel, tambang emas, pengerukan gunung, proyek geothermal, perkebunan sawit, dan proyek-proyek destruktif lainnya.
Narasi go green justru dimanfaatkan dan direduksi oleh kapitalisme menjadi bentuk konsumsi baru. Kampanye go green yang semula bertujuan untuk mengubah cara hidup manusia agar lebih selaras dengan ekosistem kini telah dikooptasi menjadi green consumerism—yakni membeli lebih banyak produk yang diberi label “ramah lingkungan”.
Kapitalisme menciptakan kebutuhan palsu untuk mempertahankan kontrol. Dalam konteks go green, kebutuhan untuk “berpartisipasi menyelamatkan bumi” justru diarahkan ke pembelian produk-produk tertentu, menciptakan ilusi perubahan tanpa menyentuh akar persoalan: struktur ekonomi-politik yang destruktif. Maka, setiap tindakan “ramah lingkungan” yang tidak meruntuhkan logika pertumbuhan tanpa batas dan tanpa pembongkaran sistem kapitalisme yang melandasi eksploitasi alam, hanya menjadi bentuk greenwashing—kosmetik hijau yang menutupi luka ekologis yang menganga.
Ego atau Kegagalan Ekologi Sosial?
Erich Fromm, dalam bukunya To Have or To Be?, mengurai dua mode eksistensial manusia: “memiliki” (to have) dan “menjadi” (to be). Mode “memiliki” berakar pada dorongan untuk menguasai, menimbun, dan memisahkan diri dari entitas lain, sedangkan mode “menjadi” mencerminkan relasi yang hidup, terbuka, dan terlibat secara aktif dalam keberadaan bersama. Fromm secara tajam mengkritik bagaimana kapitalisme memproduksi dan memelihara mode “memiliki” sebagai cara dominan manusia memaknai hidup dan kebahagiaan.
Namun, bila kritik ini tidak disertai pemahaman bahwa kapitalisme bukan sekadar cerminan sifat manusia yang serakah, melainkan sebuah konstruksi historis dan struktural—apa yang disebut Murray Bookchin sebagai bentuk “ekologi sosial” yang gagal—maka kita akan mudah terjebak pada determinisme biologis seperti yang dikemukakan oleh Richard Dawkins dalam The Selfish Gene. Dawkins menganggap kompetisi adalah kodrat manusia, sehingga menutup kemungkinan bagi narasi alternatif seperti mutual aid (dukungan timbal balik) yang pernah diajukan Kropotkin.
Dalam konteks ini, penting untuk menegaskan bahwa manusia merusak bukan karena ia “pada dasarnya” destruktif, tetapi karena ia hidup dalam sistem yang menormalisasi perusakan demi kuasa dan akumulasi kapital. Contohnya dapat dilihat pada persoalan sampah: kita didorong membeli produk berbungkus plastik sekali pakai bukan karena kita ingin mencemari lingkungan, tetapi karena sistem produksi dan distribusi barang tidak memberi alternatif nyata—hanya pilihan-pilihan ilusi yang dibungkus sebagai tanggung jawab individu. Bahkan ketika limbah menumpuk dan meracuni sungai atau laut, yang disalahkan adalah ‘kebiasaan buruk masyarakat’, bukan korporasi besar yang memproduksi miliaran kemasan setiap tahun. Inilah bentuk kekuasaan yang bekerja secara halus namun sistemik: mengalihkan tanggung jawab ekologis dari sistem ke individu, dari struktur ke moralitas pribadi.
Maka, tanpa membongkar sistem kekuasaan dan kapital yang melanggengkan mode “memiliki”, kritik terhadap kerusakan ekologis akan selalu pincang—karena yang dilawan hanyalah gejalanya, bukan akarnya.
Pembacaan atas Mighty Island
Suatu hari kawan lama saya menghubungi saya. Ia membicarakan kemungkinan untuk menggelar pertunjukkan monolog dan menggaet saya sebagai penulis naskah. Namun ada permintaan khusus darinya, ia ingin naskah yang nantinya saya tulis merupakan adaptasi dari lagu Mighty Island karya Voice of Baceprot (VoB), trio metal female asal Garut yang karya-karyanya kini berseliweran di blantika musik internasional.
Baca juga:
Saya sempat bertanya-tanya, mengapa ia ingin saya menulis naskah dari lagu tersebut, selain bahwa lagu tersebut merupakan salah satu single terbaru VoB. Kemudian ia menjelaskan tentang keresahannya terhadap lingkungan yang kian hari semakin rusak, yang baginya cukup terepresentasikan dalam lagu tersebut. Ia menyarankan saya untuk mendengarkannya, dan kesan pertama saya mendengar lagu ini sama dengan kesan saya pada lagu-lagu VoB lainnya – amaze, mesmerized, stunned, and inspired.
Lagu Mighty Island menggambarkan sebuah lanskap alam yang awalnya subur dan ajaib—“has precious oil, pearls, and unlimited magic potions”—namun berubah menjadi ladang kehancuran karena masuknya manusia yang digerakkan oleh keserakahan. Dalam lirik “domination is taken by greedy people” dan “scraping down”, terbaca jelas bahwa kehancuran ekologis bukan terjadi secara alamiah, melainkan hasil dari suatu dominasi sistematis.
Pada penggalan lirik yang lain, – “But the ego always stays above all. The life rotates at one’s pleasure” – pembacaannya mudah terjebak dalam kerangka berpikir mode eksistensial ‘memiliki’, sehingga menunjuk individu sebagai agen destruktif sambil mengabaikan rezim ekologis yang secara aktif membentuk relasi antara manusia dan alam dengan cara yang eksploitatif.
Namun jika kita melihatnya lebih lengkap, terutama menekankannya pada penggalan “the life rotates at one’s pleasure”—, maka akan tergambar jelas bahwa ego yang ditunjuk adalah kekuasaan.
Penting juga dibaca bahwa krisis ekologi sejatinya adalah krisis struktur sosial: bahwa hierarki dan dominasi dalam masyarakatlah yang menciptakan dominasi terhadap alam. Maka ketika lagu ini menyatakan “any land would be cruel, as long as what remains is human,” itu bisa dibaca sebagai peringatan terhadap bentuk-bentuk relasi sosial yang tidak pernah keluar dari logika kuasa. Bukan manusia secara biologis yang destruktif, melainkan manusia yang hidup dalam struktur sosial yang mengagungkan kuasa, akumulasi, dan eksploitasi.
Lirik Sunda di bagian tengah sambil dinyanyikan dengan gaya sinden oleh sang vokalis, Marsya, yang kemudian jadi perpaduan unik dari lagu ini—”Sacangreud pageuh, sagolèk pangkek” hingga “nyokèl jahè kedah micarèk“—mengandung nilai lokal tentang kehati-hatian, etika mengambil dari alam, dan kearifan dalam hidup. Ini menjadi kontras dengan logika kapitalisme global yang dibawa oleh “greedy people” dalam lagu tersebut. Lagu ini secara implisit menyerukan kembalinya pada kebijaksanaan lokal, pada relasi hidup yang saling menghargai, bukan sekadar mengambil.
Setelah mendengarkannya, saya jadi mengerti mengapa kawan saya ingin naskahnya berangkat dari Mighty Island. Lagu tersebut bukan hanya kritik terhadap kerusakan lingkungan, tetapi juga merupakan potret alegoris dari bagaimana kapitalisme sebagai sistem kekuasaan dan akumulasi telah merusak cara manusia memahami, memperlakukan, dan hidup bersama alam. Lagu ini dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan kultural—menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan krisis ekologis dan kesadaran akan urgensi perubahan radikal terhadap sistem yang mendasarinya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
