Setancap Ciuman Melepas Kematian dan Puisi Lainnya

Ubaidillah Arif

1 min read

serendibity

di depan pintu aku menunggu hujan. hujan tak kunjung pulang. kemarin ia datang tapi pintu tak memberi ruang. aku membuka pintu. hujan menjelma aku. pintu menutupku. aku menjadi pintu. akhirnya hujan turun ke jalan. ia demo depan pintu menuntut aku. pintu dan hujan berseteru. hujan menarik lengan pintu. menggedor-gedor aku. aku jatuh dari langit dan hujan masih menggapai-gapai pintu. hujan menangis. pintu berteriak ‘pergi!’. hujan mendatangi aku. aku memanggil pintu. 

hujan & pintu berpeluk dalam aku.

(2025)

saronen ibu

jauh di seberang pulau, saronen 
kutanam di dadamu. jangan sekali-kali
lebih nyaring dari bunyi siut angin.

seperti gempa dari rahim tana
menggerakkan segala benda,

tiuplah di dada dan getarkan semesta.

(2025)

rahasia di ruang tamu

malam itu tangan-tangan jendela sibuk berdoa
di hadapan hujan yang debur dan langit yang subur

mimpimu adalah cahaya setengah purnama
bagi rumah tanpa kelip neon dan aji pusaka

tasbih dedaun pohon mangga di beranda
maklum bagi reranting atas luka-luka

sebuah rahasia tergeletak di ruang tamu
terendam genang air mata ibu

lewat pintu belakang angin mengendap-endap
tebar senyum di kamar-kamar hati yang pengap

(2025)

di hatiku tumbuh bunga

ada harap penuh hirup 
pada bunga yang tumbuh di hatiku
biarkan mekar, sekali saja.

kemarau panjang telah gugurkan, nasib 
baik yang lunak. dan kulihat bayang-bayang 
perjumpaan makin jauh di batas tanah yang retak.

akan kusirami tiap-tiap kelopak dengan keringat,
dengan darah kata-kata yang mengalir hangat,
dengan kisah penuh kasih di palung kalimat. 

mendekatlah!
bunga itu segera mekar
kau kecuplah, sekali saja.

(2025)

setancap ciuman melepas kematian

sementara aku duduk menunggu tamu 
di vestibula—kulihat samar-samar suar 
pilar api langit dan tarian pinggul senja, 
kau bangkit dari ranjang. terkapah-kapah

melangkah matikan lampu, nyalakan birahiku 
lewat liuk lidahmu. seolah tak kan ada yang dengar 
tak ada yang intip dari suatu entah, mungkin 

di pojok rumah. di bilik-bilik jendela. bahkan derit 
pintu yang mengancam bunuh anak kita, satu 
minggu lalu. kautancap bibirmu di bibirku. 

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ubaidillah Arif

Pemandu Wisata Maut

Galih Santoso Galih Santoso
4 min read

Telan

May Wagiman May Wagiman
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email