Menaklukan Rindu
Ada tunggu di bibir kita
saat insomnia ini melaut.
Aku tidak minum kopi
sebab rindu sama pahit
Samudra sebagai batas
telah memainkan peran
Dan kita belum juga
menaklukkan
nya.
(2023)
–
Mencemaskan yang Kau Inginkan
Biru yang resap di ujung jari
setiap dingin bangun pagi.
Sedang mimpi buruk begadang,
masih terjaga.
Kau benci sulit bernafas karena pekerjaan
cicilan dan asmara membuntutimu setiap hari.
Kau benci mencemaskan apa yang kau inginkan.
(2024)
–
Buat Sahabat Kuliah
Kita terlalu cepat dari jalanan Purwakarta
terlalu cepat dari kenangan kita sendiri
terlalu cepat berpisah.
Di kosan itu
Waktu bukan transaksi kesepian
Apalagi sampah masa depan.
Kosan adalah pena
Sampai hari ini
ingatan kita ditulis
gitar-patungan rokok-saybia
Masa lalu nyala dan abadi
sampai ke ujung-ujungnya
Dan hanya itu yang tersisa.
(2024)
–
Pulang Kerja di Karawang
Kita terlalu kecil di depan kendali
Bahkan terlalu kecil untuk berharap.
Kau pun bilang
kalau bukan karena ibu
lebih baik aku durhaka
Pemegang ugal-ugalan
Tak ada alasan untuk tetap
Kota telah lama berlubang
nyawa kita dibiar karam
Sementara Tan Malaka berani
lantas, dibuang.
Aku cuma karyawan.
(2025)
Memetakan Luka
Dirimu pukul 12 malam
memetakan luka-luka kantor
—Siang itu mengetik namamu
dengan kalimat paling racun
Kau meminta siasat
pada kosong sudut kamar
putih dadamu terbakar
matang jadi dendam.
(2023)
*****
Editor: Moch Aldy MA
