Kritik Praktik Keberimanan dalam Robohnya Surau Kami

Melsa Nurpuzianah

3 min read

Ada satu cerpen yang sangat amat saya suka sedari menginjak bangku SMP yaitu Robohnya Surau Kami (RSK). Itulah cerpen yang dikarang oleh Ali Akbar Navis dan terdokumentasi dalam Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005: 171-181). Cerpen ini pertama kali diterbitkan dalam majalah Kisah pada 1955. Cerpen ini pula yang membuatnya terkenal dan langsung menuai kontroversial karena substansi ceritanya, yang menurut sejumlah kalangan mencemooh Islam. Dalam autobiografinya, Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994), Navis menulis bahwa karena cerpen ini, di Bukittinggi muncul tuduhan bahwa dia komunis atau kader Murba, partai kiri yang didirikan Tan Malaka.

Di dalam cerpen RSK diceritakan percakapan Haji Saleh yang mengomentari putusan Tuhan terkait tempatnya di neraka. Pertanyaan dan jawaban saling dilempar satu sama lain antara Haji Saleh dengan Tuhan. Haji Saleh menjelaskan dirinya yang berasal dari negeri Indonesia yang kaya, tanah yang subur. Sementara ia hanya taat beribadah kepada Tuhannya saja. Saya kira dalam percakapan tersebut A.A. Navis berhasil membuat atmosfer yang begitu rupawan ditambah dengan dialog klimaks dari Tuhan yang menyayat hati. Begini kalimatnya:

“.. Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua.. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Perlu kita ketahui dulu bahwasanya sastra sendiri ialah cerminan masyarakat. Oleh sebab itu, yang ditulis oleh A.A Navis ini tentu adalah cerminan masyarakat Indonesia saat itu pada zamannya. Seperti tertulis pada kutipan sebelumnya, jelas penulis mengkritik tajam sikap masyarakat yang mengaku bergama namun cenderung dogmatis dan kolot dalam menjalankan syariat. Hal ini didasari dengan maraknya masyarakat miskin yang enggan mengolah kekayaan alam Indonesia yang ada di sekitarnya. Mereka seolah menganggap bahwa hidup hanyalah ditujukan untuk ibadah vertikal saja, yang akhirnya malah melahirkan kemiskinan struktural yang mengakar sampai ke generasi mendatang.

Karya fiksi buatan AA Navis ini membuat saya sepakat terhadap pandangannya sebagai penulis yang membuat tokoh Ajo Sidi sebagai pembual yang menceritakan kisah Pak Haji yang dijebloskan oleh Allah ke neraka. Dan setelah mendengar cerita itu, si kakek meninggal dengan cara bunuh diri yang umat Islam yakini itu adalah hal yang dilarang Allah. Ending dari cerita ini memberikan sudut pandang penulis yang kontra terhadap apa yang dilakukan si kakek semasa hidupnya yaitu beribadah terus menerus kepada Allah tetapi menelantarkan anak cucunya di tanah yang seharusnya tidak meninggalkan bekas kesengsaraan.

Baca juga:

Fiksi bukan sembarang fiksi. Banyak sekali kasus serupa yang terjadi sepanjang sejarah bahkan sampai saat ini. Studi kasus yang nyata ada dalam lingkungan sekitar saya sendiri di mana manusia berbondong-bondong memperbanyak hablumminallah tanpa hablumminannas. Banyak orang—terutama orang-orang terdahulu—yang menganut pemikiran kejarlah akhirat maka dunia akan mengejarmu tanpa memahami lebih dalam apa maksud dari ungkapan tersebut. Seolah mengejar akhirat berarti melaksanakan ibadah-ibadah yang bersifat vertikal saja.

Kalau kita merujuk kepada Nabi Muhammad SAW, beliau merupakan pedagang. Bahkan isterinya, Khadijah RA merupakah saudagar yang kaya raya. Nabi, manusia yang sudah terjamin akhiratnya, memilih tetap menjalankan kehidupan biasa dengan berjualan untuk mendapat asupan rezeki di dunia. Lalu, apakah mencari rezeki itu bukan termasuk ibadah? Padahal Nabi saja melakukannya. Dan, kita sebagai manusia biasa apakah boleh hanya fokus pada ibadah spiritual yang bersifat ritual tanpa memperhatikan “ibadah” yang lain?

A.A Navis dalam karyanya tersebut seakan mengkritik fenomena ini.  Ia menunjukkan bahwa kesalehan spiritual saja tidak cukup jika mengabaikan tanggung jawab sosial, ekonomi, dan lainnya. Jika seseorang hanya beribadah tanpa memperhatikan kebutuhan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar, maka ibadahnya menjadi tidak seimbang. Islam sendiri menekankan keseimbangan antara hablumminallah dan hablumminannas.

Konsep ini juga dapat ditemukan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis. Misalnya, dalam QS. Al-Baqarah: 201 disebutkan bahwa doa yang terbaik bukan hanya meminta kebaikan di akhirat, tetapi juga di dunia:

“Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.”

Doa ini menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan dunia demi akhirat, tetapi justru mengajarkan keseimbangan. Kisah dalam fiksi AA Navis menjadi pengingat bahwa seseorang tidak bisa hanya beribadah secara individu dan melupakan tanggung jawab sosialnya.

Baca juga:

Di kehidupan nyata, kita sering melihat orang yang sibuk beribadah namun lalai dalam menjalankan perannya sebagai ayah, ibu, pemimpin, atau anggota masyarakat. Mereka mungkin rajin ke masjid, berpuasa sunnah, dan rajin bersedekah, tetapi tidak peduli dengan pendidikan anak, kesejahteraan keluarga, atau kebutuhan masyarakat sekitar. Hal ini justru bertentangan dengan ajaran Islam yang menuntut keseimbangan antara aspek spiritual dan duniawi.

Di tengah-tengah pemikiran masyarakat yang feodal, yang mengaku kental agama atau si paling agamis, juga masyarakat yang menjunjung tinggi ajaran leluhur nenek moyang tanpa menyaring keabsahannya, cerpen Robohnya Surau Kami ini menjadi sindiran tajam. Dalam perspektif Gramsci, ini adalah bentuk hegemoni, di mana ideologi agama dipahami secara sempit dan diwariskan turun-temurun tanpa kritik. Pemahaman yang menekankan ibadah ritual semata telah menjadi dominan, sehingga aspek sosial dan ekonomi dalam agama justru terabaikan.

Cerpen ini memberikan dimensi lain mengenai betapa karya sastra melahirkan peringatan dalam bentuk tulisan yang berlaku jangka panjang. Betapa karya sastra memiliki relevansi dengan karya Tuhan. Betapa masyarakat Indonesia masih banyak yang belum bisa mengartikan arahan agama secara komprehensif, masih terlalu sempit dan sulit menerima sesuatu yang dianggap beda atau baru.

Betapa Hablumminannas tak diacuhkan padahal Tuhan sendiri yang menyuruhnya. Maka dari itu, semua umat beragama memang seharusnya mengambil andil yang seimbang dalam membangun kesejahteraan negeri ini sebagian negara yang maju. Entaskan kemiskinan dengan pendidikan. Putuskan rantai kemelaratan. Jangan egois hanya demi untuk masuk surga. Ibadah bukan hanya persoalan ritual sembah-menyembah kepada Tuhan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

 

 

Melsa Nurpuzianah

One Reply to “Kritik Praktik Keberimanan dalam Robohnya Surau Kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email