Pengkampanye isu lingkungan hidup di salah satu NGO lingkungan tertua

Menjalankan Ibadah Puasa yang Berprinsip Ekologis

Wahyu Eka Styawan

2 min read

Ada persoalan yang cukup pelik selama bulan Ramadan, yakni peningkatan konsumsi yang berbanding lurus dengan tumpukan sampah baik organik maupun yang anorganik, seperti kantong plastik sekali pakai, gelas plastik, styrofoam, dan sampah makanan.

Di Bandung, Jawa Barat, dan Serang, Banten, Dinas Lingkungan Hidup setempat mengungkapkan bahwa volume sampah naik selama bulan Ramadan. Hal ini terpantau dari peningkatan volume sampah di TPA. Salah satu penyebab peningkatan volume sampah ini adalah peningkatan konsumsi masyarakat, terutama pada awal puasa Ramadan.

Persoalan sampah plastik yang meningkat pada bulan Ramadan ini bukan hal yang baru. Pada Ramadan sebelum-sebelumnya, problem ini sudah menjadi isu bersama. Selama bulan Ramadan, banyak masyarakat kita merawat tradisi berbagi, terutama makanan dan minuman, baik saat menjelang berbuka puasa maupun saat memasuki jam sahur. Sangat disayangkan jika niat baik merawat tradisi berbagi tidak sejalan dengan efek yang dihasilkan, yakni tumpukan sampah plastik.

Baca juga:

Tidak semua sampah terbuang di tempatnya, banyak yang tercecer dan dibiarkan begitu saja. Sampah plastik menumpuk di setiap sudut tempat ibadah, jalan, lapangan, atau taman. Sampah makanan sisa juga tergeletak begitu saja. Masalah ini menjadi cukup serius karena banyak sampah plastik yang dibuang bersama makanan, sehingga sampah organik dan plastik berbaur. Hasilnya terkadang bau busuk menyeruak dari sampah-sampah tersebut.

Mengevaluasi Kembali Ibadah Puasa Kita

Salah satu hal penting dari ibadah puasa adalah melihat kembali apa makna sebenarnya. Nilai penting dari ibadah puasa adalah bagaimana kita mampu mengendalikan diri, terutama agar hawa nafsu tidak menguasai kita. Seperti apa contohnya? Menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat kerugian, misalnya tidak berlebihan dalam konsumsi makanan.

Mengapa demikian? Karena kita sering kali memaknai ibadah puasa hanya sekadar pola konsumsi, dari yang biasanya makan tiga kali sehari, menjadi hanya saat matahari terbenam dan sesaat sebelum terbit. Padahal puasa melampaui itu, hakikat puasa adalah apakah kita mampu mengendalikan diri untuk tidak berlebih-lebihan, terutama dalam hal kesederhanan, seperti konsumsi makan dan minum.

Kadang kita tidak sadar, perilaku saat berbuka puasa dan sahur, ternyata menambah konsumsi kita, bahkan lebih banyak dari bulan biasa saat tidak berpuasa. Dampak dari penambahan konsumsi yang sering kali tidak disadari adalah banyak makanan yang terbuang, ditambah lagi bungkusnya mayoritas plastik sekali pakai dan aneka produk turunan plastik. Alih-alih menjadi lebih baik, saat bulan puasa kita justru melakukan hal yang lebih buruk. Tentu itu semua jauh dari hakikat puasa, yakni mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu.

Baca juga:

Berangkat dari persoalan yang tengah kita hadapi dengan peningkatan konsumsi dan sampah, kita paham bahwa puasa seharusnya bukan menambah persoalan tersebut. Kita perlu melakukan perenungan mendalam, apakah ibadah puasa kita benar-benar berangkat dari upaya untuk menjadi lebih baik atau hanya menggugurkan kewajiban.

Puasa untuk Keberlanjutan Ekologis

Puasa memang memiliki nilai yang mulia. Jika dikaitkan dengan semangat menyelamatkan lingkungan hidup, puasa mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan, tidak menambah sampah, tidak membuang makanan sembarangan, dan lebih besarnya adalah bagaimana kita sebagai manusia tidak merusak alam, baik melalui praktik eksploitatif maupun menambah sampah.

Hal terpenting dari puasa adalah bagaimana kita diajarkan untuk menjadi lebih sadar diri, seperti mengonsumsi yang benar-benar kita perlukan, bukan atas dasar keinginan semata. Hal tersebut sejalan dengan perintah Sang Pencipta untuk tidak berlebih-lebihan dan memanfaatkan alam secukupnya. Kita perlu memberikan jeda kepada alam untuk memperbaiki dirinya agar keseimbangan tercipta.

Pada Ramadan kali ini harusnya kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik, tidak merusak alam dengan sampah plastik maupun makanan kita, menerapkan konsumsi yang bijak sesuai kebutuhan, serta berupaya untuk meminimalisasi kerusakan. Caranya misalnya tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai, jika belum bisa, paling tidak dapat mengurangi penggunaannya. Berubah untuk menjadi baik butuh waktu dan proses yang bertahap.

Editor: Prihandini N

Wahyu Eka Styawan
Wahyu Eka Styawan Pengkampanye isu lingkungan hidup di salah satu NGO lingkungan tertua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email