Penyuka Sejarah, Arkeologi dan Heritage, Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Ratu Boko, Cerita Rakyat, dan Cara Kita Memahami Masa Lalu

Shinta Dwi Prasasti

2 min read

Respon positif dari tayangan video dari Watchdoc tentang Situs Ratu Boko (di kalangan arkeologi, istilah Situs lebih sering digunakan daripada Keraton) pada  Desember 2025 lalu cukup mengejutkan saya sebenarnya. Mengapa? Karena tayangan serupa biasanya tidak mendapat respon yang positif kecuali menggunakan diksi yang sedikit sensasional.

Respon positif dari warganet yang bisa dilihat dari jumlah like dan komentar di kedua platform tersebut. Beberapa komentar tersebut bahkan menyampaikan jika baru mengetahui tentang informasi sejarah yang termuat dalam video. Informasi tersebut antara lain bagian perubahan fungsi dari Situs Ratu Boko  maupun cerita rakyat yang kerap disebut sebagai asal usul dari situs.

Tentu masyarakat tidak asing dengan cerita rakyat Roro Jonggrang. Di dalam cerita disebutkan tentang nama Prabu Boko, yaitu ayah dari Roro Jonggrang. Sang Prabu disebut tinggal di lokasi yang sekarang menjadi situs tersebut.

Cerita rakyat inilah yang menghubungkan situs Ratu Boko dengan Candi Prambanan. Situs Ratu Boko dikenal sebagai keraton tempat tinggal Roro Jonggrang. Sementara Candi Prambanan adalah akhir kisah sang putri yang telah dikutuk menjadi batu yang sekaligus menjadi pelengkap dari seribu candi yang dimintanya untuk dibangun oleh Bandung Bondowoso.

***

Berbicara tentang Ratu Boko, kita mengetahui bahwa penyebutan keraton bersumber dari cerita rakyat masa itu. Semua peneliti Eropa yang datang dari abad 18 senantiasa menerima kisah tersebut tanpa mempertanyakannya. Sebut saja Colin Mackenzie, J.F.G. Brumund, Groeneveld, J.W. Ijzerman dan R.D.M. Verbeek. Mereka masing masing menuliskan dalam laporannya, menjadikan cerita ini tersebar secara masif di kalangan masyarakat.

Baca juga:

Popularitas cerita rakyat yang sangat tinggi di kalangan masyarakat ini menjadikannya sebagai sebuah penanda dari situs ini. Hal yang tentu sangat disayangkan bagi kalangan akademisi dan ahli arkeologi. Mengingat sebuah tulisan yang berasal dari Berkala Arkeologi tahun 1995 oleh Kusen, seorang  arkeolog Indonesia berani menguraikan fakta yang sedikit berbeda. Tulisan tersebut berjudul Kompleks Ratu Boko: Latar Belakang Pemilihan Pembangunannya.

Uraian fakta yang saya sampaikan dalam video, mulai dari awal mula dari fungsi kawasan Ratu Boko tersebut, semuanya bersumber dari tulisan tersebut. Memang nampaknya versi digital dari artikel sepanjang 6 halaman tersebut baru diunggah di awal abad 21. Sebuah rentang waktu yang panjang, meski saat ini aksesnya sudah dibuka untuk umum.

***

Tantangan serupa tentang bagaimana menyajikan data yang bisa jadi berbeda dengan cerita rakyat juga melingkupi sejumlah situs maupun cagar budaya. Sebut saja dengan Candi Prambanan. Candi Prambanan yang berdasar data prasasti dibangun pada 856 Masehi memiliki sejumlah cerita rakyat. Selain Arca Durga yang dihubungkan dengan cerita Roro Jonggrang, masih ada arca Agastya dan Ganesha yang juga mendapat penamaan dan pemaknaan yang berbeda dari masyarakat sekitar pada abad 19.

Arca Agastya disebut oleh masyarakat sebagai Kyai Budur. Ini disebut oleh William Barrington D’Almeida dalam bukunya Life in Java With The Sketches of The Javanese (1864), yang terjemahannya Kehidupan Jawa dalam Sketsa Orang Jawa (2020). Dia dipuja sebagai penyebar agama Islam pertama di tanah Jawa. Sebuah anomali bukan?

Sementara arca Ganesha disebut sebagai dewa penolong untuk para pencuri dan kecu. Ganesha dianggap memberikan kepandaian dan keberuntungan dalam usaha-usaha yang berbahaya. Mereka memujanya dengan rajin mengurapi boreh dan membakar dupa. Penjelasan ini disampaikan oleh J.W. Ijzerman dalam bukunya Beschrijving der Oudheden nabij de grens der residenties Soerakarta en Djogdjakarta (1891). Namun penamaan dan cerita yang berbeda tadi memang tidak sekuat pada arca Durga sebagai Roro Jonggrang.

Penamaan dan munculnya cerita rakyat pada sebuah arca atau reruntuhan candi di Indonesia bukanlah hal yang aneh. Salah satu sebabnya adalah keterputusan informasi dari masa awal pembangunan/pembuatan hingga masa penemuan kembali. Memang ada masa yang tidak diketahui pada periode ini. Saya kerap menyampaikan saat memandu masyarakat yang berkunjung ke candi, bahwa masyarakat yang membangun dan menemukan kembali itu berbeda.

Mereka yang membangun sejatinya mendasarkan pada naskah dan pedoman agama Hindu atau pun Buddha yang berkembang pesat pada masa itu. Sementara masyarakat yang menemukan kembali dengan jarak beberapa abad kemudian memaknai dan memberi nama yang berbeda sesuai dengan pedoman pada masa tersebut. Bisa jadi pada masa itu ajaran Hindu dan Buddha sudah tidak semendalam pada masa sebelumnya. Apalagi di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang sudah tidak lagi menjadi pusat kekuasaan dari Mataram Kuno.

Baca juga:

Tim Hannigan dalam bukunya yang berjudul Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa, mencoba berintepretasi. Masyarakat pada masa itu menjumpai bangunan-bangunan besar yang ada di sekitar sawah mereka. Mereka tidak mengetahui apa pun tentang asal usul atau kisah di balik bangunan tersebut. Bangunan tersebut kemudian digunakan oleh mereka yang gemar melakukan kegiatan ritual.

Mereka juga yang melepas mitologi asing yang sejatinya menamai arca dan bangunan tersebut. Mereka memberi nama baru yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat sekitar. Nama baru ini muncul sesuai dengan kepercayaan masyarakat pada masa itu.

Maka, tak usah heran jika di setiap penemuan kembali bangunan candi maupun arca, pasti akan beriringan dengan cerita rakyat dari masyarakat sekitar. Tak ada yang salah dengan cerita itu, karena mereka lahir dari ketidaktahuan masyarakat pada asal usul dari bangunan atau arca tersebut. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Shinta Dwi Prasasti
Shinta Dwi Prasasti Penyuka Sejarah, Arkeologi dan Heritage, Pamong Budaya Ahli Pertama di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email