Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Membaca HTS lewat Freud dan Sartre

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf

3 min read

Belakangan ini saya kerap mengamati satu jenis hubungan yang tak pernah benar-benar diresmikan, tetapi juga enggan disebut sementara. Ia hadir dalam percakapan warung kopi, unggahan media sosial, hingga ruang-ruang curhat daring yang kini menjelma semacam pengakuan massal. Hubungan tanpa status atau yang lazim dipendekkan menjadi HTS, bukan hanya istilah gaul generasi mutakhir. Ia adalah gejala, semacam tanda zaman, yang menyimpan kegelisahan psikologis sekaligus paradoks eksistensial.

Fenomena ini tidak lahir dari kevakuman. Data dari Indonesian Digital Relationship Survey 2025 yang dirilis salah satu lembaga riset perilaku digital menunjukkan bahwa sekitar 38 persen responden usia 18–30 tahun pernah atau sedang berada dalam hubungan yang mereka definisikan sebagai “dekat, intens, tetapi tanpa komitmen formal”. Angka itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan temuan serupa pada tahun 2018. Relasi semacam ini biasanya ditandai oleh keintiman emosional, kontak fisik yang ambigu, tetapi tanpa kesepakatan masa depan.

 Baca juga:

Saya tertarik membaca fenomena ini bukan dari sudut moral atau nasihat asmara yang cenderung normatif, melainkan dari dua tokoh yang jarang disandingkan dalam percakapan cinta populer: Sigmund Freud dan Jean-Paul Sartre. Keduanya tidak pernah membahas HTS secara literal. Namun gagasan mereka tentang hasrat, kecemasan, kebebasan, dan tanggung jawab masih menjadi pisau analisis yang tajam untuk membedah relasi semacam ini.

Freud dalam banyak tulisannya tentang cinta dan libido, memandang relasi intim sebagai arena pertemuan antara dorongan tak sadar dan mekanisme pertahanan diri. Dalam esainya yang terkenal, On Narcissism (1914), Freud menyinggung bagaimana cinta sering kali menjadi cara seseorang mencintai pantulan dirinya sendiri pada orang lain. Dalam fenomena HTS, relasi yang tanpa status kerap berfungsi sebagai ruang aman bagi hasrat, tanpa harus menanggung risiko kehilangan citra diri atau luka ego yang terlalu dalam.

Bagi Freud, manusia tidak pernah sepenuhnya rasional dalam urusan cinta. Ada dorongan eros yang bekerja senyap, tetapi juga ada kecemasan laten akan penolakan. HTS, yang dalam kacamata psikoanalisis bisa dibaca sebagai kompromi psikologis. Hasrat tetap tersalurkan, tetapi ego dilindungi oleh ketidakjelasan. Tidak ada janji, maka tidak ada pula pengkhianatan yang bisa sepenuhnya disebut pengkhianatan.

Penelitian psikologi yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships edisi 2024–2025 menunjukkan bahwa individu yang memilih relasi ambigu cenderung memiliki tingkat attachment anxiety dan avoidant attachment yang lebih tinggi. Mereka menginginkan kedekatan tetapi sekaligus takut pada keterikatan. Ini seolah mengafirmasi intuisi Freud tentang manusia yang terus-menerus bernegosiasi antara keinginan dan ketakutan, antara kenikmatan dan rasa aman.

Namun Freud saja tidak cukup. Jika psikoanalisis membantu kita memahami dorongan batin yang mendorong HTS, maka Sartre membantu kita melihat dimensi tanggung jawab dan kebebasan yang sering kali dihindari. Dalam Being and Nothingness (1943), Sartre menulis bahwa cinta adalah upaya paradoks untuk memiliki kebebasan orang lain, tanpa menghancurkan kebebasan itu sendiri. Di sanalah konflik cinta bermula.

Hubungan tanpa status dari perspektif Sartre tampak seperti strategi eksistensial untuk menghindari konflik tersebut. Dengan menolak status, seseorang menolak kewajiban ontologis untuk bertanggung jawab atas kebebasan orang lain.

Aku dekat denganmu, tetapi aku tidak bertanggung jawab atas masa depanmu.” Sikap ini, dalam bahasa Sartre, berpotensi jatuh pada bad faith atau ketidakjujuran eksistensial. Sartre selalu curiga pada relasi yang mencoba menghindari pilihan. Baginya tidak memilih pun sejatinya adalah pilihan. Dalam HTS seseorang acapkali berkata, “kita jalani saja dulu,” seolah waktu bisa menunda keputusan tanpa konsekuensi. Padahal, bagi Sartre, setiap detik penundaan adalah tindakan yang membentuk makna. Tidak memberi status adalah cara halus untuk berkata, aku memilih diriku sendiri tetapi tidak mau mengakuinya secara jujur.

Menariknya, data sosiologis terbaru memperlihatkan bahwa HTS tak selalu lahir dari sikap egoistik semata. Laporan Global Love Economy Report 2025 mencatat bahwa ketidakpastian ekonomi, biaya hidup yang tinggi, dan tekanan karier turut memengaruhi pola relasi generasi muda. Banyak orang merasa tidak cukup stabil untuk berjanji, tetapi juga tidak ingin sepenuhnya sendiri. Di titik ini, HTS menjadi semacam ruang transisi antara kesepian dan komitmen.

Baca juga:

Namun Sartre barangkali akan tetap bertanya, apakah transisi ini dijalani dengan kesadaran penuh atau justru dengan pelarian? Dalam drama No Exit, Sartre memperlihatkan bagaimana relasi yang tidak jujur pada diri sendiri akan berubah menjadi neraka interpersonal. Neraka bukan selalu orang lain, melainkan kebohongan yang kita rawat bersama.

Jika Freud berbicara tentang represi maka Sartre berbicara tentang penyangkalan. Hubungan tanpa status sering kali menjadi tempat berlabuh bagi keduanya. Hasrat direpresi agar tampak santai, tanggung jawab disangkal agar kebebasan terasa ringan. Tetapi seperti yang ditunjukkan banyak studi kesehatan mental pada tahun 2025, relasi ambigu berkorelasi dengan tingkat stres emosional yang lebih tinggi dibandingkan relasi yang jelas, entah itu berkomitmen atau benar-benar kasual.

Saya teringat satu kisah yang kerap berulang dalam cerita teman-teman, dua orang saling berbagi hari bahkan berbagi trauma, tetapi selalu menghindar ketika kata “kita” mulai mengarah ke masa depan. Dalam bahasa Freud, mungkin ada ketakutan akan kehilangan objek cinta. Dalam bahasa Sartre, ada ketakutan untuk mengakui pilihan.

Membaca HTS lewat Freud dan Sartre membuat kita sadar bahwa relasi ini tak melulu soal status Facebook atau definisi pacaran. Ia adalah peristiwa batin dan eksistensial. Ia mempertemukan hasrat yang ingin dekat dan kesadaran yang takut terikat. Ia menjadi cermin bagaimana manusia modern berdamai atau justru berdusta dengan dirinya sendiri.

Mungkin saja HTS bukan selalu salah. Ia bisa menjadi ruang belajar asalkan dijalani dengan kejujuran. Freud akan mengingatkan kita untuk tidak membohongi diri tentang apa yang kita inginkan. Sartre akan menuntut kita untuk berani bertanggung jawab atas pilihan, termasuk pilihan untuk tidak memilih.

Di ujung perenungan ini saya sampai pada satu dugaan sederhana: yang membuat HTS menyakitkan bukan ketiadaan status, melainkan ketiadaan kejujuran. Ketika hasrat disamarkan dan tanggung jawab dihindari maka relasi berubah menjadi labirin tanpa pintu keluar. Pada koordinat itulah cinta, seperti kata Sartre, kehilangan kebebasannya sementara ego, seperti kata Freud, terus berusaha melindungi diri dari luka yang tak pernah benar-benar sembuh. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf
Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email