Penikmat Kopi dan Senja

Kemenangan di Layar Kaca: Potret Frustrasi Politik dalam Popularitas Dracin

Ali Afifi

2 min read

Hari ini, drama Cina (Dracin) telah bertransformasi menjadi tontonan sejuta umat. Di Indonesia, jangkauannya menembus berbagai sekat sosial; mulai dari kaula muda, ibu-ibu, pekerja kantoran, hingga mahasiswa.

Di lingkungan saya sendiri, drama Cina seolah menjadi ritual wajib pengantar tidur. Awalnya mungkin hanya sekadar cuplikan singkat yang lewat di feed media sosial, memicu rasa penasaran, lalu dicarilah judulnya. Begitu tombol play ditekan, hampir bisa dipastikan Anda akan terjebak menontonnya sampai episode terakhir. Dalam satu lingkaran pertemanan, pasti ada satu atau dua orang yang menjadi pengikut setianya—baik secara terang-terangan maupun diam-diam, karena sebagian mungkin masih malu mengakui kecanduan ini di tengah gempuran tren drakor atau serial Barat.

Jujur saja, awalnya saya skeptis. Saya sempat berpikir mengapa orang-orang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk drama yang alurnya terasa repetitif dan “itu-itu saja”. Namun, rasa penasaran membawa saya mencoba menonton satu judul, dan seperti yang bisa ditebak, saya terjebak hingga episode final. Di sana, saya menemukan rahasianya: alur Poetic Justice—kondisi di mana kebaikan akhirnya menang telak dan kejahatan dihukum tanpa ampun—adalah magnet utamanya.

Hampir setiap drama Cina populer memiliki pola yang serupa. Tokoh utama ditampilkan begitu superior, jenius, atau memiliki kekuatan tersembunyi. Sebaliknya, tokoh antagonis yang biasanya berasal dari kelas penguasa atau orang kaya yang sombong, akan dihukum sekeras-kerasnya di akhir cerita. Tema dikemas dengan beragam, dari reinkarnasi di zaman kerajaan, persaingan di dunia medis, hingga romansa CEO modern. Formula ini selalu laku keras di pasaran. Namun, mengapa pola yang “mudah ditebak” ini justru menjadi candu bagi masyarakat Indonesia?

Jawabannya terletak pada apa yang kita sebut sebagai eskapisme sosiologis. Popularitas drama Cina di Indonesia dapat dibaca sebagai respons bawah sadar terhadap ketimpangan kekuasaan yang nyata. Di tengah krisis kepercayaan terhadap lembaga peradilan dan sistem hukum yang sering kali dianggap “bisa dibeli”, masyarakat cenderung mencari kompensasi psikologis melalui konsumsi media.

Tokoh utama yang superior dan kehancuran total sang antagonis berfungsi sebagai katarsis bagi penonton yang sehari-harinya hidup dalam realitas politik yang opresif. Di sini, drama bukan lagi sekadar komoditas budaya, melainkan sebuah ‘dunia alternatif’ tempat kebenaran selalu menang—sesuatu yang kian mewah dan sulit ditemukan dalam kehidupan nyata.

Baca juga:

Mari kita bedah fenomena face-slapping yang menjadi ciri khas Dracin. Adegan di mana tokoh utama mempermalukan sosok sombong atau berkuasa di depan umum adalah puncak kenikmatan bagi penonton. Alasannya sederhana, karena di dunia nyata, rakyat Indonesia sering kali hanya bisa mengurut dada melihat arogansi oknum pemerintahan, nepotisme di berbagai lini, hingga putusan pengadilan yang mencederai akal sehat.

Baca juga:

Ketika kita melihat seorang antagonis yang kaya raya bersimpuh meminta maaf di kaki tokoh utama yang dulunya mereka remehkan atau pelaku kejahatan kemudian diadili dengan keras, ada rasa “dendam yang terbayar” secara kolektif. Kita sedang memproyeksikan diri kita pada sosok sang pahlawan tersebut.

Drama Cina menjadi tempat pelarian yang paling nyaman bagi mereka yang merasa tak berdaya. Tokoh utamanya sering kali berangkat dari kelas rendah—seorang budak yang ternyata putri bangsawan, atau karyawan biasa yang memiliki kemampuan luar biasa. Transformasi mereka menjadi pemenang merupakan harapan bersama rakyat yang merasa tidak pernah berkutik di hadapan hukum dan kepentingan elite.

Dalam narasi ini, kita tidak hanya menonton hiburan; kita sedang merayakan fantasi tentang keadilan yang presisi, sesuatu yang absen dalam dinamika politik kita yang lebih sering membela kaum atas.

Lebih jauh lagi, fenomena ini sejatinya adalah sindiran tajam pada realitas. Kemenangan kelas rendah di layar kaca adalah refleksi dari cita-cita yang tak kunjung ditemui di kehidupan sehari-hari.

Kita begitu haus akan pemimpin atau sosok yang bisa membela yang lemah tanpa kompromi, sehingga ketika sosok itu muncul di layar perak—meskipun hanya fiksi—kita memberikan kesetiaan sepenuhnya. Masyarakat kita sedang sakit karena ketidakadilan, dan drama Cina adalah obat penenang dosis tinggi yang meredakan rasa sakit itu, setidaknya untuk durasi 45 menit per episode.

Pada akhirnya, kegandrungan kita pada drama Cina adalah sinyal peringatan bagi kondisi sosial-politik kita sendiri. Semakin absurd dan “superior” tokoh utama yang kita dambakan di layar, semakin besar pula lubang kekosongan keadilan yang kita rasakan di dunia nyata.

Kita terus menonton bukan karena kita menyukai alur yang repetitif, melainkan karena kita rindu melihat kejahatan benar-benar bisa kalah, tanpa perlu ada “orang dalam” atau suap di bawah meja. Kita mencintai drama Cina karena di sanalah, untuk sementara waktu, kita bisa berhenti menjadi pecundang dalam realitas politik kita sendiri.

 

 

Editor: Prihandini N

Ali Afifi
Ali Afifi Penikmat Kopi dan Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email