Waktu Melamun Kian Memanjang
Senja yang sibuk adalah tetanggamu
ketika kau duduk di muka rumah
pada kursi biru tua yang tak kau tahu usianya,
sembari menyaksikan orang-orang
bersicepat pulang bekerja, sementara
kau sedari pagi tak sesibuk mereka;
seolah rasanya untuk sesaat
kau adalah orang paling tak berguna, sedunia.
Atau
pada lain hari …
Senja yang basah adalah objek pengamatanmu
selain gigil daun-daun pohon mangga
yang tak ingin kau sibak,
tapi justru tempat biliar
yang tutup berbulan-bulan itu,
lantaran diam tegaknya
menutupi sungai, cahaya,
dan segala hijau yang kau suka;
seolah rasanya kau hanya bisa
membayangkan keindahan di baliknya
dari riuh-redam kepala.
Apakah selamanya begitu?
Jawabmu ‘tak tahu’,
karena beberapa hari lalu
kau tanda tangani surat pernyataan
bermaterai elektronik sepuluh ribu,
suatu peluang yang kau harap
membawamu keluar dari kota,
tetapi saat kau mengupas kejujuran diri,
sebenarnya kau agak takut
kelak menjadi kacang yang lupa
pada cangkang kulitmu sendiri.
Lalu, entah siapa di dalam kepala,
sibuk mengingatkanmu bahwa
masa dewasa yang bising adalah
teman yang tak kau ajak duduk dan bicara,
tapi amat cerewet,
suka mencerocos dan berkata rucah,
berujung merunyamkan segala lamun dan renung
yang kadang-kadang membuatmu tantrum
sehingga rasa-rasanya ingin kau tiup enyah
seringan daun belimbing wuluh di samping muka rumah
yang kerap kau pandang dalam penantian yang entah.
Kau gemas sendiri:
jadwal dan tenggat waktu sering tak tepat waktu,
seolah mereka punya kaki
dan melangkah mundur berkali-kali,
lamunanmu terus berlanjut,
dan kau tak mengetahui
apakah di dalam instansi yang kau pilih
sungguh-sungguh masih ada formasi.
(K, 2025)
–
Kudapan Bukan Sembarang Kudapan
Waktu tergulung nyaris sempurna
Gulungannya tinggal sejengkal lagi
Batas tanggal telah tertera
Ketidakpastian baru menebas sana sini
“Kolom demi kolom telah kami isi,
kapan sebaiknya kami akhiri?”
“Di tengah hiruk-pikuk, hari terakhir saja.”
“Adakah jaminan kami tidak tertinggal?”
“Jelas tidak ada.”
“Bagaimana jika kami akhiri hari ini saja?”
“Bisa, tetapi kalau ada apa-apa,
pengumuman terbaru misalnya,
yang telanjur resume ya telanjur, ya.”
Kata demi kata bersahutan
Di ruang percakapan rahasia
Semuanya terenkripsi
Kecuali bila sudah menjelma puisi
Pada jam malam
Saudara tertua menggelar tikar dan cerita
Baris demi baris pengalaman
Ia sajikan sebagai kudapan semanis gula-gula
Kami, adik-adik
Duduk diam memerhatikan
Menyimak keadaan
Dengan saksama, juga tanya
“Jika pekerjaan adalah kue besar
yang sedang dibagi-bagikan ke ribuan orang,
bisakah kami mendapat bagian?”
“Tidak bisakah kami langsung mengajar?”
Hening
Menjalar
Tikar masih kami sesaki
Remah-remah kudapan masih kami jumputi
Sementara harapan …
Kami lipat rapi di sudut ruangan
Sembari mengamati
Alur panjang proses seleksi
(K, 2024-2025)
–
Angin yang Berkisik, Angin yang Berembus
Aku suka angin tengah hari
Berkisik mendesis di jendela kaca nako
Ruang tamu rumahmu yang tirainya terbuai
Ketika kantuk kian mendamparkanku
Di paragraf-paragraf buku yang sulit kubaca
Karena Lampu Kuning yang kau putar
Lebih riuh menyesaki kepala
Liriknya … terlalu kita
Sesekali kupandangi genting kaca
Cahaya yang terpancar dari sana
Makin menampakkan debu-debu di udara
Ringan menari-nari seperti serbuk peri
Dan semua partikel itu
Kita sedot ke dalam paru-paru
Ketika di atas kibor jemarimu meloncat-loncat
Dikejar tenggat
Sejujurnya aku lebih suka
Angin tengah hari masa kecil kita
Embusnya ikut bersandiwara
Mengayun duka pada daun-daun
Ketika kita menangisi pohon jati muda
Dengan batang terukir nama
Seolah itu jirat tokoh lelaki
Yang berkorban demi wanita yang ia kasihi
Masih ingat namanya Jack? Jack Dawson
Kisah heroiknya kita hafal luar kepala
Kita tonton habis lewat layar kaca
Tanpa mengerti itu film khusus orang dewasa
Dan kini setelah jadi dewasa yang sesungguhnya
Mengapa kadang-kadang kita justru tak suka?
Cinta begitu rumit
Beban kerja kerap menghimpit
Kita baru pergi usai bercalit
Dan jiwa kita … sesekali menjerit
(K, Maret 2025)
–
Kesabaran Persegi Panjang Atas Kebijakan yang Persegi
Tuhan,
karuniakan kepada hamba:
luas kesabaran persegi panjang
terhadap
panjang masa tunggu pengangkatan,
dan lebar jarak antara realita dan mimpi.
Sebab,
akhir-akhir ini
segala kebijakan
tampaknya berbentuk persegi,
semua sama sisi:
sisi-sisi yang kerap tak hangat,
di hati rakyat.
(K, Maret-April 2025)
–
Kastil
Aku selalu mengira
Kau tengah membangun kastil
Dari susun batu bata
Peluh keringat hingga air matamu sendiri
Musim demi musim
Kau terus menebalkan dinding
Dari cuaca paling hangat
Hingga cuaca paling dingin
Kadang aku ingin sekadar berlalu
Mungkin melemparimu senyum malu-malu
Bisa kau aduk bersama semen, senyumku itu
Yang nanti ‘kan melekatkan batu-batu
Jika memang benar
Kau tengah membangun kastil
Dari susun batu bata
Peluh keringat hingga air matamu sendiri
Bolehkah aku bertepuk menyemangati?
Menyisipkan doa dalam sepi
Suatu hari nanti
Kau gagah berdiri di kastilmu sendiri
(K, Februari 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
