Pendiri dan penggiat komunitas Lintasastra Salatiga

Di Taman Munggur

Kala Lail

8 min read

“Dulu kau dijuluki tangan kecil di kampung. Kau suka mencuri.”

“Bukan. Aku hanya bermain.”

“Semua orang tua menyuruh anaknya menjauhimu.”

“Aku hanya anak kecil. Tak ada orang tua. Aku penasaran pada barang-barang yang tak kupunya.”

“Kau pernah mengambil kaset pita depan rumahmu lalu melilitkannya ke pohon-pohon mengitari kampung. Seperti jaring laba-laba.”

“Kukira memang begitu cara memainkannya.”

“Kau menjadi sombong sejak lulus bangku menengah.”

“Aku kehilangan diri sejak itu seperti kepiting berganti cangkang. Masa kecilku yang tak tahu menahu kutinggalkan di rerumputan. Di belakang perpustakaan sekolah. Persentuhan pertama dengan dunia yang gegap gempita dan penuh lecet itu sudah berakhir. Sejak itu, aku hanya bertahan hidup. Semua sudah kucoba dan tak lagi penasaran.”

“Kau dulu selalu duduk di depan”

“Benar.”

“Kau kakak kelasku dua tahun.”

“Tentu.”

“Kita berdua dijuluki anak emas Kertosari.”

“Mereka bilang begitu, tapi aku tidak pernah merasa sehebat itu.”

“Dulu aku merasa lebih hebat dan akan menggantikanmu.”

“Ya. Pialamu menumpuk di ruang tamu dan jauh lebih banyak.”

“Kau pandai matematika dan memetik gitar. Kau seperti lahir dengan bakat itu.”

“Tidak. Aku tidak pernah menyentuh gitar sejak lulus sekolah.”

“Mereka bilang, perempuan pandai karena rajin. Laki-laki pandai karena bakat. Kau punya bakat sedangkan aku masih kurang rajin.”

“Aku mulai malas setelah lulus.”

“Ke mana semua bakatmu?”

“Bicara yang lain saja.”

“Baiklah. Matahari hampir jatuh.”

“Ya. Hampir malam.”

“Apakah kita punya rumah untuk pulang?”

“Tak tahu. Aku baru sampai sini.”

“Aku tahu rumahmu. Kau menikah waktu itu tapi aku sedang terpuruk. Tak punya uang. Jadi tak bisa datang.”

“Tak apa. Kau juga sudah menikah, kan? Aku tidak datang. Kita sudah terlalu lama merantau padahal rumah kita dekat.”

“Dulu kau tak segemuk ini.”

“Dulu kau tak sebersih ini.”

“Setelah lulus, aku merawat diri supaya ada lelaki yang mau menikahiku. Aku banyak berubah. Bahkan kau tak mengenaliku saat menghampiriku dua hari lalu.”

“Aku tak tahu itu kau. Tubuhku juga banyak berubah dan sepertinya teman tak akan mengenaliku di kota rantau ini.”

“Aku baru di kota ini. Setahun lalu menikah dan ambil kontrakan di belakang pasar.”

“Maafkan aku.”

“Bagaimana denganmu?”

“Maafkan aku.”

“Tidak. Setahun lalu apa yang kau lakukan?”

“Sudah sembilan tahun buka soto tangkar di utara pasar. Tahun lalu pasar kebakaran. Lokasi-lokasi dagang berantakan. Mereka minta dua puluh juta supaya bisa menempati lokasi lama.”

“Mereka siapa?”

“Kau tak perlu tahu dan tak terlalu penting.”

“Baiklah. Bagaimana kau bisa selamat dari kebakaran itu?”

“Pedagang sayur langgananku menyuruhku untuk libur dua hari sebelum kejadian. Dia memintaku untuk memercayainya. Kebetulan waktu itu aku hendak pulang kampung. Kudengar lagi, ia membunuh seorang lelaki yang memperkosa istrinya lalu hari berikutnya pasar kebakaran. Ia menghilang sampai sekarang. Mungkin dipenjara. Mungkin ikut terbakar.”

“Kalau aku mengontrak rumah milik tukang cukur, ia bilang sebaiknya lima tahun saja mengontrak jangan lebih. Pasar selalu terbakar setiap lima tahun. Sebaiknya cari aman.”

“Sebaiknya memang begitu. Aku sudah dua kali menyaksikan pasar itu terbakar. Pedagang selalu mencari desas-desus setiap menjelang lima tahun. Tepatnya setelah ada kepala daerah yang dilantik. Selalu ada penyelamat di antara kami yang memberi tahu untuk libur sehari dua hari. Kadang tukang sol sepatu. Kadang tukang payung. Kadang tukang parkir. Kadang tukang potong rambut. Kita tak perlu tanya ini itu pada orang-orang itu. Mau percaya atau tidak, itu nasib masing-masing. Semuanya terjadi mendadak dan buru-buru. Tak ada waktu untuk memperdebatkannya atau memvalidasi kabar itu. Tak perlu tanya juga dapat kabar dari mana.”

“Aku tidak bisa mengontrak rumah lebih dari lima tahun. Kontrak kerjaku paling cepat dua tahun. Mereka lebih suka pekerja baru lulus sekolah. Lebih mudah diatur dan tak banyak protes. Setiap tahun selalu ada angkatan pekerja baru. Jumlahnya ribuan. Gajinya rendah. Sponsorku bilang akan mengusahakan kontrak dua sampai tiga kali tapi potongan gajiku jadi 20%. Ah setan!”

“Ya, mengumpatlah.”

“Dulu tak ada yang bilang bahwa kelak untuk menerima gaji kita harus menggaji orang lain.”

“Semua celah telah diisi orang-orang untuk mencari uang. Dulu saudaraku menjanjikan untung jika mau depo lima ratus ribu.”

“Judi?”

“Katanya permainan.”

“Itu judi. Aku tak pernah membukanya tapi tahu.”

“Saudaraku untung dan mengembalikannya jadi satu juta.”

“Hebat.”

“Tidak. Aku tidak bisa berhenti. Semua kusuruh untuk melipatkannya sampai habis.”

“Sayang sekali.”

“Semua modal dagangku habis. Aku tak punya cara lain.”

“Lalu kau mendapatiku sendirian malam itu.”

“Maafkan aku.”

“Sudah lama aku tak mengamati turunnya matahari.”

“Maafkan aku.”

“Kau pandai berhitung. Seharusnya tahu kau akan rugi.”

“Bukan. Ini bukan soal hitung-hitungan.”

“Tahu.”

“Aku hanya pandai di sekolah tapi tak becus mengelola diri.“

“Kita tak pernah mempelajari itu di sekolah.“

“Maafkan aku.”

“Tidak, tidak. Sudah cukup meminta maaf. Kita sudah sampai sini. Lihatlah turunnya matahari itu dan bicaralah dengan santai.”

“Kita tidak pernah dipersiapkan untuk mengelola uang dan mengelola diri di bangku sekolah. Semua nilai bagus di rapor itu tak ada artinya. Sama sekali tak berguna.”

“Setuju.”

“Lagi pula siapa yang bertanggung jawab pada kedewasaan?”

“Orang tua?”

“Mereka juga sama bingungnya.”

“Tidak ada yang benar-benar dewasa. Kita masih anak kecil yang bingung dan ingin lari ke sana sini, berteriak di atas meja. Tapi tubuh kita membesar dan orang lain memerhatikan kita. Semua yang kita lakukan seperti tanggung jawab besar. Kita harus membuat tiga puluh lima ribu keputusan setiap hari. Makan apa, bagaimana caranya, pakaian apa, berkata apa, dan bagaimana cara mengatakannya.”

“Aku pinjam bank sepuluh juta. Sudah dua kali. Awalnya bisa kukembalikan dengan bunga jadi tiga belas juta. Yang kedua hanya mampu bayar lim juta.”

“Kau pakai judi?”

“Itu hanya permainan, saudaraku bilang. Lagi pula aku sudah menghitung probabilitasnya. Hitunganku tidak pernah meleset.”

“Kau ingat pernah bermain layangan di depan rumahku? Kau lari sepanjang jalan tapi layangannya tak pernah naik ke atas?”

“Kau ingat rambutmu pernah berkutu sampai jatuh di karpet musala?”

“Kau ingat kau kebobolan enam puluh gol dan adikmu yang jadi kipernya? Selalu begitu.”

“Jika aku yang jadi kiper, mukaku yang jadi sasaran. Aku selalu pulang menangis. Aku trauma pada sepakbola sampai dewasa.”

“Itu latihan mental. Mereka melampiaskannya padamu karena…”

“Karena begitu cara kerjanya? Selalu ada yang kuat dan lemah. Tidak ada yang kuat jika tak ada yang lemah. Kekuatan mereka tidak akan terlihat.”

“Kau ingat pernah hutang lima ribu pada anak-anak itu karena kalah main kelereng?”

“Awalnya hanya lima ribu tapi selama satu semester jadi lima puluh ribu. Aku baru kelas tiga dan harus menanggung bunga sebesar itu.”

“Mereka masih kanak-kanak, kau bisa saja melawannya.”

“Tapi kau juga penakut. Kau pernah diadu di depan mushola. Aku tidak pernah tega melihatmu dipukul. Kau sendiri juga tak tega memukul lawanmu. Kalian ditonton seperti adu ayam pesakitan. Tak ada pukulan. Tak ada tarik-tarikan rambut.”

“Aku bukan tak tega, tapi takut dibalas.”

“Kau penakut.”

“Aku perempuan.”

“Laki-laki juga bisa takut.”

“Bagaimana dia sekarang?”

“Dia selalu duduk di belakang.”

“Kudengar jadi polisi.”

“Mereka yang mau dihormati dan masa dewasanya mau terjamin tapi otaknya bodoh selalu jadi polisi.”

“Kau kecewa?”

“Dia menghancurkan masa kecilku.”

“Selalu ada yang pantas mendapatkan sesuatu tapi tidak mendapatkannya dan ada yang sebaliknya.“

“Siapa yang menentukan pantas dan tidak?

“Tuhan?”

“Kau percaya Tuhan?”

“Sebaiknya kita memercayainya sekarang. Meski banyak sekali yang mengecewakan.”

“Aku tidak mau terus-terusan jadi pecundang.”

“Itu alasanmu ikut kelompok motor itu?”

“Aku bosan mencuci piring bekas orang. Aku bosan bongkar pasang lapak. Aku mau jadi si kuat dan si kaya. Setidaknya sekali seumur hidup.”

“Itu berbahaya.”

“Tahu.”

“Lebih baik hidup aman.”

“Tapi kau kuliah. Ada setitik keinginan itu, kan? Menjadi orang penting atau lebih baik dari pedagang soto sepertiku yang selalu bersitegang dengan ormas dan satpol?”

“Tapi itu semua usahaku.”

“Semua usaha yang dikerjakan orang berkat keinginannya lepas dari belenggu penindasan. Artinya pada akhirnya ia akan jadi penindas juga.”

“Aku tak begitu.”

“Kau belum mencapai itu.”

“Kau juga belum.”

“Bicarakan yang lain saja. Kita sama-sama pecundang, tak akan mengerti pikiran penindas.”

“Menurutku penindas hanya pecundang yang nekat. Mereka takut pada keamanannya sendiri.”

“Artinya kita pecundang yang lebih baik.”

“Aku, iya. Kau, tidak. Dan kau harusnya tidak nekat.”

“Maafkan aku. Aku terpaksa. Aku takut.”

“Sudah kubilang. Cukup minta maafnya. Permintaan maaf ada kalanya tak berguna.”

“Tapi aku tulus.”

“Tahu.”

“Aku menyesal.”

“Itu juga ada kalanya tak berguna. Penyesalan hanya berguna ketika masih ada kesempatan. Kau sudah tak punya itu. Lagi pula, memaafkanmu tak akan mengubah apa pun. Kau tetap menyesal dan tak lega.”

“Setidaknya tak ada dendam.”

“Tak mungkin. Dendam amatlah sia-sia. Aku tak mau bersusah payah melakukan itu.”

“Kau orang baik.”

“Aku tahu. Tak ada yang menakutiku jadi aku tetap jadi pecundang yang aman dan baik. Dulu mereka menyebutku anak emas pemenang seribu lomba. Setelah lulus, mereka menyebutku buruh tekstil nomor 0992.”

“Ini seharusnya tak terjadi.”

“Terlalu banyak hal yang tak seharusnya terjadi.”

“Kau harusnya jadi dosen atau orang kuat yang baik. Setidaknya ada satu orang yang kuat dan tak menindas.”

“Jangan bicara seperti itu. Kau hanya membuatku sedih. Jika cendekiawan, seharusnya itu kau. Mendapati kau berakhir membongkar pasang lapak daganganmu di trotoar membuatku sedih. Dulu, kita mengidamkan masa depan yang baik. Itu hadiah yang harus dibayarkan untuk mengganti belasan tahun duduk di kursi kayu dengan mata mengantuk.”

“Ya. Dulu kita yakin betul bahwa anak pintar masa depannya akan paling bagus. Strata sosial di sekolah bergantung pada isi kepala. Dulu rasanya lebih mudah.”

“Dulu pilihan yang mesti diambil dapat dirumuskan. Benar dan salah lebih konkret. Hanya satu dan bisa dicek. Setelah dewasa, pilihan tak terbatas. Benar dan salah bercabang tidak tunggal. Tidak ada yang konkret. Tak ada yang bisa dirumuskan. Semuanya improvisasi.”

“Laki-laki itu kembali.”

“Dia sejak kemarin di situ. Dia tidak pernah pergi. Besok mungkin jadi buta karena air matanya habis.”

“Aku tidak pernah melihat burung terbang seperti daun yang meluncur di tengah badai. Ini sudah gelap, burung itu tak punya alasan untuk menunggu laki-laki itu pergi.”

“Burung itu menunggu supaya bisa memakan biji-bijian yang ditabur di tanah itu. Sebaiknya kita pergi.”

“Ya, seharusnya kita tak datang ke sini. Orang tuaku juga akan segera datang. Burung itu pastilah kesal karena sudah sesore ini tapi masih ramai.”

“Bagaimana dengan besok atau sepuluh hari lagi? Apakah mereka akan datang lagi dan membiarkan burung itu menggali belatung di tanah itu. Atau mereka sudah akan disibukkan dengan tagihan air dan biaya sekolah anak?”

“Paruh burung itu seperti tusukan jarum yang menembus kulit seseorang. Seperti burung yang pernah kau lempar dengan batu dan bangkainya kau buang di dekat jendela rumahku.”

“Apa dia sudah pergi?”

“Yang mana?”

“Laki-laki itu.”

“Tidak. Dia sedang bersandar di pohon. Bajunya kotor habis tersungkur di situ.”

“Tak ada gunanya begitu.”

“Mengapa tidak?”

“Dia harusnya hidup dengan baik. Wajahnya akan cepat tua.”

“Tapi dia masih muda. Rambutnya seperti awan yang melayang rendah di atas gunung.”

“Ya, ya. Itu membuatku sedih. Aku tak seharusnya sedih. Matanya redup seperti lilin hampir padam. Ia masih terisak tapi bibirnya menutup seperti kelopak bunga tidur. Tapi ia akan baik-baik saja.”

“Benarkah?”

“Harus begitu. Hidup memang begitu. Pahit asin harus ditelan. Bukan karena itu obat atau apa, tapi memang begitu. Kau tahu kan maksudku?”

“Tahu.”

“Kita punya urusan masing-masing, bahkan jika ia sanak saudara, orang tua, atau suami sekali pun, kita punya urusan masing-masing.”

“Kukira kita akan selamanya jadi kanak-kanak.”

“Kukira juga begitu. Aku menangis hampir setiap hari tapi bukan karena rasa sakit yang aneh. Kadang lututku berdarah, tapi kau tahu sendiri kan? Kita mengobatinya di kebun pakai daun pisang waktu itu karena kau ngebut pakai sepeda. Lututku baru kering setelah dua pekan. Tapi setelah sembuh aku tak menangisinya lagi. Aku menangis hanya karena rasa sakit di tubuh. Itu cepat hilang.”

“Tubuh laki-laki itu baik-baik saja.”

“Bukan. Dia menangis bukan karena dia habis tersungkur di situ. Dia masih belum bangun, barangkali tak pernah bisa lagi sungguh-sungguh bangun.”

“Maafkan aku. Aku seharusnya tidak menemuimu.”

“Kau tidak menemuiku tapi kau memang harus ada di sini. Kita punya urusan bersama. Salah satunya untuk melihat usaha kembang munggur itu mekar.”

“Kita harus meninggalkan kota ini?”

“Itu salah satunya. Sore di kota ini seperti suara benturan logam di ruang kosong. Suara kendaraan seperti tembakan yang datang dari kejauhan. Kupingku berdenging setiap hari dan tak pernah berhenti. Suaranya konstan. Memang sudah waktunya aku pergi.”

“Kau tidak kesepian?”

“Setahun ini tidak. Suamiku adalah hadiah besar meski harganya sangat mahal. Aku sangat mengenali takdirku, bahkan sangat akrab. Hadiah besar semacam itu pasti membuatku tersungkur babak belur. Kami baru menikah satu tahun dan bahagianya luar biasa. Setiap pagi aku bangun dengan waspada, bencana macam apa yang sedang menujuku dan akan mengambil semuanya.”

“Istriku adalah kepedihan yang makin membuatku jadi pecundang karena aku bukan hadiah besar baginya.”

“Sayang sekali. Kau begitu tak beruntung.”

“Aku tidak percaya pada keberuntungan.”

“Tetap saja, kau selalu peringkat satu di sekolah karena isi kepalamu.”

“Itu bukan keberuntungan. Itu kerja kerasku.”

“Kerja keras kadang tidak membuat kita berhasil. Tidak selalu begitu. Selalu ada keberuntungan di sana. Kita tidak bisa mengelaknya.”

“Jika demikian, maka keberuntunganku sudah habis setelah lulus sekolah. Hidupku makin tak karuan. Aku tergoncang dan kaget pada semuanya.”

“Kau punya anak?”

“Satu putra.”

“Aku belum.”

“Kau beruntung.”

“Apanya?”

“Aku tidak menyekolahkan anakku. Aku mengajarinya baca tulis sendiri. Aku mengajarinya pegang uang dan bekerja sejak umurnya sepuluh tahun. Aku mesti mengajarinya hidup. Memilih pilihan sulit. Tidak ada rumus baku untuk menyelesaikan pilihan hidup. Tak ada pilihan ganda. Semua pelajaran berasal dari mencoba dan segalanya berguna.”

“Aku ingin melihat anakmu.”

“Sebentar lagi dia datang bersama ibunya.”

“Aku akan menunggu sembari mengamati laki-laki di bawah pohon munggur itu. Aku sudah beberapa hari tak menyentuh kulit wajahnya yang halus seperti serbuk mawar.”

“Anakku datang.”

“Anakmu sudah besar.”

“Bukan. Itu adikku.”

“Anak di belakangnya itu? Dia tak mau mendekat. Bahkan air mukanya kering. Benarkah dia anakmu?”

“Harusnya begitu. Mungkin ia kecewa.”

“Jangan begitu.”

“Ia tak akan bisa bertahan. Ia pasti akan segera kabur dari rumah. Tetangga perumahan amatlah keras. Apalagi jika ada begal di kompleks mereka.”

“Kau hanya melakukannya sekali. Mengalungkan celurit itu ke leherku lalu mendorong kepalaku sampai jatuh ke selokan. Kau harusnya bisa membawa motorku dan menjualnya untuk menutup hutangmu tapi kau malah diamuk massa dan dibakar di pinggir kali.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

Kala Lail
Kala Lail Pendiri dan penggiat komunitas Lintasastra Salatiga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email