Redaksi Omong-Omong

Percakapan Paling Tidak Penting tentang Manusia Sempurna

Moch Aldy MA

4 min read

“Aku punya teori.”

“Berbahaya. Semua kekacauan di dunia bermula dari kalimat itu.”

“Dengarkan dulu. Teori ini cukup jinak. Tidak bombastis. Tidak melibatkan kudeta, mercon, atau seminar motivasi.”

“Seminar motivasi jelas yang paling berbahaya.”

“Setuju. Tapi ini bukan tentang itu. Aku sedang mencoba membayangkan manusia sempurna.”

“Terdengar tolol tapi cukup menarik.”

“Jangan berlagak sapioseksual.”

“Aku tidak pernah punya ketertarikan terhadap sapi. Apakah aku nampak serupa seseorang yang penasaran bagaimana rasanya bersetubuh dengan sapi?”

“Inilah pentingnya untuk tidak mempunyai mulut yang lebih besar dari otak.”

“Aku hanya bercanda. Aku tahu arti sapioseksual. Aku tidak cukup bloon untuk percaya bahwa biseksual adalah sekumpulan orang-orang yang tertarik dengan bis dan akan terangsang setiap kali telolet dibunyikan.”

“Jadi kau mau mendengarkanku atau tidak?”

“Silakan berbusa.”

“Oke, begini… aku punya teori tentang manusia sempurna. Dan, mari kumulai dari kepala. Menurutku, otak manusia sempurna itu otak filsuf.”

“Filsuf yang mana?”

“Apa maksudmu?”

“Ada dua jenis filsuf. Yang pertama menjelaskan dunia dan tak mengubah apa-apa. Yang kedua mengubah dunia dengan mengatakan ada yang tidak beres di balik ini semua.”

“Aku pilih yang ketiga. Yang berani mengatakan bahwa segalanya aneh bin tidak jelas tapi tetap punya resiliensi untuk menyeduh kopi setiap pagi.”

“Kau merujuk seorang tampan yang kebetulan hobi bepikir sehingga dicap filsuf itu? Pilihan yang rasional.”

“Rasional bagaimana?”

“Ya rasional. Kau memilih dia sebab kau telanjur gandrung dengan apa-apa yang berbau Prancis.”

“Tidak semua. Aku benci Foucault.”

“Karena dia gay dan pedofil?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Karena dia botak.”

“Hanya karena dia botak? Itu tidak masuk akal.”

“Apakah kebencian harus masuk akal?”

“Tidak.”

“Ya sudah.”

“Tapi kita mesti kembali… setelah otak apalagi? Otak saja tak cukup, manusia sempurna mesti bisa mendengar.”

“Tentu, dan aku memilih telinga psikolog. Telinga yang tak hanya mendengar suara, tapi juga napas trauma dan residu masa kecil. Dan tetap, secara profesional, berpura-pura tertarik meski pasiennya mulai melantur bicara soal ibunya selama tiga jam tanpa henti. Telinga yang mendengar sambil mencatat diam-diam: ‘manusia sinting ini mengidap delusi superioritas bercampur ketakutan akan kematian yang disublimasi menjadi obsesi terhadap gym.’ Lalu ia mengangguk pelan dan berkata, ‘hmmm… menarik.’”

“Kau tahu, bakat akting terbesar abad ini bukan di Hollywood. Tapi di kursi empuk ruang praktik psikolog.”

“Hahahaha… bisa jadi.”

“Jadi, kita punya kepala filsuf, telinga psikolog. Sekarang, bagaimana dengan mulut?”

“Mulut seorang orator. Yang bisa membikin sekelompok manusia mengangkat senjata, atau menurunkan tensi, hanya bermodal retorika. Mulut yang mengerti betul kapan diam lebih nyaring ketimbang berbicara. Dan kapan satu kalimat bisa menyalakan revolusi atau membunuh cinta.”

“Tapi mulut seperti itu berbahaya.”

“Justru sebab berbahaya, ia dibutuhkan. Kita terlalu lama dikuasai oleh yang gagap, pengecut, dan tidak punya wibawa.”

“Kau percaya kekuatan kata-kata bisa menyelamatkan dunia?”

“Kata-kata, tentu, tidak bisa membengkokkan rudal kendali. Tapi kata-kata bisa sedikit melipur kenyataan bahwa dunia sedang terbakar, pemerintah inkompeten, dan kita menunggu hangus. Mampus. Dan terkadang, itu cukup.”

“Cukup bagaimana?”

“Cukup sebagai obat pereda nyeri. Sakitnya memang tetap ada. Tapi nyerinya berkurang. Meski dunia tetap terbakar hebat. Dan pemerintah tetap berjalan dengan tolol.”

“Hahahaha… baiklah pembual setelah kepala filsuf, telinga psikolog, mulut orator. Apalagi?”

“Aku bukan pembual. Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa.”

“Ya…. ya…”

“Sekarang hati. Menurutku, manusia sempurna pastilah punya hati penyair. Yang mudah patah hanya sebab hujan terjadi di pertengahan tahun. Bukan sebab lupa mengangkat jemuran. Yang bisa menulis dua halaman puisi hanya sebab menontoni sepasang merpati duduk berdampingan. Dan menangis sebab kata ‘sendu’ terlalu pendek, hanya lima huruf, untuk menggambarkan kesedihan yang panjang dan berliku.”

“Sebentar, apa gunanya hati penyair?”

“Memang tidak berguna. Lagipula, dunia ini terlalu mekanis, kejam, dan materialistis. Lebih butuh aksi nyata dan materi ketimbang rima dan metafora. Aku membayangkan hati penyair sebagai atribut manusia sempurna hanya agar puitis saja. Tidak kurang, tidak lebih.”

“Oke baik. Otak sudah. Telinga sudah. Mulut sudah. Hati sudah. Tangan?”

“Tangan seniman. Yang mampu memahat marmer jadi patung monumental atau melukis komposisi musik di atas kanvas kosong. Yang tahu bahwa ketidaksempurnaan adalah sumber keindahan. Dan manusia semacam ini tidak pernah kenyang dan selalu lapar.”

“Lapar estetika, momen puitik, atau lapar secara literal?”

“Ketiganya.”

“Kau lapar?”

“Tidak.”

“Baiklah. Kepala filsuf, telinga psikolog, mulut orator, hati penyair, tangan seniman. Sekarang, matanya.”

“Mata sebenarnya kurang tepat. Tepatnya visi. Visi seorang arsitek. Yang bisa memetakan kota dalam sebongkah batu bata. Meneroka simetri dalam kekeosan. Yang bisa mengukur masa depan dengan jangka dan sketsa. Dan tahu bahwa garis lurus terkadang lebih jujur ketimbang janji manusia. Tapi juga tahu bahwa lekuk adalah bahasa tubuh bangunan. Visi arsitek yang bisa menerawang kemungkinan di atas reruntuhan. Yang percaya bahwa bangunan bukan hanya tempat tinggal, tapi cara berdialog dengan langit. Dan cara diam terhadap sejarah.”

“Dalam sekali.”

“Apa yang dalam?”

“Palung Mariana.”

“Brengsek.”

“Sabar.”

“Benar kau. Ini yang paling sulit… kesabaran pemancing.”

“Mengapa?”

“Sebab memancing itu menunggu tanpa tahu apakah yang ditunggu akan datang atau justru tak pernah ada. Dan tetap duduk, meski yang datang hanya angin malam.”

“Kau suka mancing?”

“Tidak. Aku tidak punya stok kesabaran sebanyak itu.”

“Aku suka mancing. Tapi aku tidak pernah merasa tenang.”

“Inilah potongan selanjutnya untuk manusia sempurna. Ketenangan dokter bedah. Yang bisa mengiris kulit manusia tanpa gentar, tanpa tergoda untuk menangis. Yang memandang jantung berdetak bukan sebagai simbol cinta, tapi sebagai organ yang pada dasarnya memang bekerja untuk memompa darah. Dan tetap makan siang setelah operasi amputasi.”

“Tapi, menurutku, ini menurutku, ketenangan seperti itu menakutkan.”

“Tapi perlu. Tanpa itu, manusia sempurna kita akan panik hanya karena lupa kata sandi m-banking yang pedahal hanyalah kombinasi tanggal, bulan, dan tahun lahirnya.”

“Kau bercerita tentang dirimu sendiri?”

“Sedikit.”

“Kenapa kau begitu pelupa?”

“Dulu, aku pernah diberitahu oleh psikiaterku kenapa aku begitu pikun. Sayangnya, kini aku lupa.”

“Astaga.”

“Sekarang apa?”

“Apa?”

“Apa astaga?!?!?!”

“Maksudmu, atribut manusia sempurna?”

“Ya selanjutnya adalah… sebentar… oh ya… tubuh… nah… tubuh manusia sempurna barangkali begini: tubuh dewa Yunani. Punggung lebar, pinggang kecil, perut kotak-kotak, dada bidang, tangan kekar, dan bahu membulat sempurna umpama ukiran Michelangelo.”

“Terdengar sangat lelaki. Bagaimana dengan perempuan?”

“Aku tidak tahu.”

“Mengapa?”

“Sebab aku lelaki.”

“Itu bukan alasan. Bilang saja kau misoginis. Patriarki.”

“Tidak begitu cara berpikirnya, idiot.”

“Lalu bagaimana?”

“Mau dilanjut atau tidak?”

“Sebentar… aku sebenarnya tidak sepakat soal tubuh ini. Menurutku perut buncit lebih jujur daripada yang atletis. Seolah-olah ingin mengatakan: aku hidup, aku makan, aku malas olahraga. Dan di dalam tubuh yang obesitas terdapat aku yang makan tanpa batas.”

“Terserah. Tapi manusia sempurna, pada hakikatnya, harus tampil sempurna. Tanpa cela.”

“Tidak masuk logika.”

“Memang. Segala sesuatu yang ideal memang tidak pernah masuk logika.”

“Jadi dia semacam katalog keinginan yang nonsens?”

“Bisa dibilang begitu. Manusia yang nyaris mustahil tapi terus menerus kita cari, meski diam-diam kita benci.”

“Ya, kalau memang ada, aku akan membenci manusia seperti ini.”

“Tapi mungkin kau tidak benar-benar membenci dia. Kau benci diri kau yang bukan dia. Sebab tak ada sedikit pun ruang bagimu untuk mengisi kekurangannya.”

“Maksudmu dia tak membutuhkan manusia lain?”

“Besar kemungkinan, iya. Dan itu menyakitkan. Barangkali itulah mengapa kita mencintai manusia “cacat”. Yang pincang emosinya, gagap rasionalitasnya, dan jelek fisiknya. Sebab di dalam kekurangannya, kita merasa dibutuhkan. Dan dalam ketidaksempurnaannya, kita merasa aman.”

“Lalu, mengapa kita terus membincangkan tentang manusia sempurna?”

“Kubilang aku punya teori dan kau telah setuju untuk mendengarkan.”

“Masalahnya hanya satu: manusia sempurna itu tidak lebih nyata ketimbang manusia di sebelah kamar kita.”

“Tentu. Manusia di sebelah kamar kita begitu manusia. Kadang mendengkur, berhutang, dan lupa hari ulang tahun kita. Sedang manusia sempurna terlalu pintar, selalu ingat waktu, tahu batas kesabaran, bicara pelan ketika kita cemas, tidak defensif ketika kita menyampaikan kritik, dan tak buang angin ketika kita sedang membincangkan sesuatu yang begitu genting.”

“Aku mengantuk.”

“Aku tahu.”

“Kau Tuhan?”

“Bukan. Aku hanya punya teori.”

*****

Editor: Ghufroni An’ars

Moch Aldy MA
Moch Aldy MA Redaksi Omong-Omong

One Reply to “Percakapan Paling Tidak Penting tentang Manusia Sempurna”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email