TUBUH YANG TERBAKAR
Semakin terbakar dermaga itu
dan menjalar ke arahku
Apa yang para api itu cari
di halaman rumahku?
Mata mereka menyebar
seakan para api itu ada yang menugaskan
Satu-persatu para api mulai menjelanak
mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang
Dan tubuhku tersambar
Tubuhku adalah emas
dan kumpulan brilian yang kusembunyikan
Tubuhku kedinginan—
Tubuhku dengan paksa dilucuti
beribu mata api yang semakin membakar
Tubuhku berkobar—
Teriakan hanyalah tembang rohani
tuk para api menjelma
tubuhnya lebih hayawani
Aku habis terbakar—
Tubuhku yang kaya akan emas dan brilian
sudah jadi usang
Tubuhku kian kumpulan arang
Juga luka bakar yang tak pernah hilang
(Cirebon, 2025)
–
PENDUDUK POHON GERSANG
Ia tinggal di sebatang pohon nun jauh di sana
dengan kemarau panjang sebagai sahabat karibnya
pula sarang lebah di kepalanya yang tak jemu-jemu
menyantap batang tubuhnya: seakan ia bisa mati besok
atau bisa juga sekarang
Ranting-ranting pun tak pernah menggoyangkan jari-jarinya
mereka biarkan tubuh yang kering kerontang itu terpanggang
punggungnya.
“Peduli apa saya… yang penting pohon ini kekar,
lagi pula kalian yang rasakan lapar.”
Sekelebat ada bunyi Tuhan memanggil ia dengan suara khas-Nya
Ia pun meringkuk lalu sibuk mencari siulan Tuhan
Mungkin anggapnya hanya Ia yang Mahaadil dan Menghidupkan
Dan siulan Tuhan semakin kencang, ia temukan Tuhan di pohon seberang
“Pindah saja kesini,” kata Tuhan,
“di pohon yang kamu singgahi saya tidak laku dimiliki.”
(Cirebon, 2025)
–
LORONG PANJANG
Kian—kau telah membawaku kepada lorong panjang
yang sedikit pun tak kauberi udara
Ataupun setitik cahaya di ujung sana
Karena hitam—adalah warna yang paling kausuka
Dan hitamlah yang membuat tubuhku
membunuh tubuhku yang lain
Di sepanjang lorong
Ada lampion beterbangan membuka jalan
Di sepanjang lorong
Serigala melolong jika warna paling terang tetaplah hitam
(Cirebon, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
