Aku bersumpah tidak akan memaafkan Ibu. Ia selalu melarangku untuk berdekatan dengan Bapak. Pernah suatu sore, aku merajuk ingin mandi bersama Bapak. Permintaan itu segera disetujui oleh laki-laki yang merupakan suami dari perempuan yang telah mengenalkanku pada huruf-huruf vokal. Namun, ketika tangan hitam Bapak baru meraih ujung pakaianku, buru-buru Ibu menjauhkan tangan Bapak, dan gegas mendorongku masuk ke bilik kamar mandi. Aku marah sementara Bapak melahirkan lipatan-lipatan kecil di dahinya yang rimbun oleh keriput. Bibir Bapak yang merah keunguan akibat terlalu rutin mencumbu nikotin itu melemparkan pertanyaan kepada Ibu yang sedang melepaskan pakaianku. Kepada aku, Ibu memberitahu kalau anak perempuan tidak boleh dimandikan-mandi bersama Bapak. Jawaban itu seharusnya ditujukan kepada Bapak, sebab pertanyaan bermula dari sana. Tapi, kemudian aku ikut-ikutan bertanya, apa alasannya anak perempuan tidak boleh dimandikan-mandi bersama Bapak? Ibu tidak memberiku jawaban yang dapat dimengerti oleh anak usia delapan tahun. Ia lebih memilih menutup pintu kamar mandi dengan kaki, mengguyur tubuhku, kemudian meneriakkan kata ‘tidak boleh dan cukup sekali ini kau minta mandi bersama Bapakmu’ di telinga kananku. Aku mengangguk saja karena takut melihat sepasang bola mata Ibu yang hampir muncrat ke lantai kamar mandi, meski sesungguhnya dalam hati aku bertanya, mengapa tidak boleh mandi bersama Bapak?
“Kalau mancing ikan boleh, Bu?” tanyaku setelah selesai mandi.
Rencananya, esok siang, sepulang sekolah aku dan kawan-kawan akan memancing ikan di sawah. Sudah beberapa hari ini, hujan rajin turun untuk menjenguk tanah kering di kecamatan tempat tinggal kami. Kata Bapak, kalau hujan terus menerus turun, sawah-sawah akan digenangi oleh air. Kemungkinan akan ada ikan-ikan yang berjaga di sekitar padi. Syukur-syukur kalau ada ikan lele dan ikan emas milik tambak warga yang hanyut ke sawah. Aku tidak akan mempermasalahkan jika nanti hanya membawa pulang seekor ikan nila atau ikan sepat. Namun, bayangan betapa menyenangkannya pergi memancing bersama kawan-kawan lenyap begitu saja manakala Ibu kembali memuntahkan kata tidak boleh.
Memancing itu permainan anak laki-laki. Anak perempuan mainnya masak-masakan dan berdiam diri di teras rumah sembari mendandani boneka peri sedemikian rupa. Api emosi kembali melalap tubuh kecilku. Merayap pelan-pelan hingga mencapai ubun-ubun. Semisal ini dunia kartun, mungkin di kepalaku sudah muncul sepasang tanduk dan asap hitam mengepul di lubang telingaku. Ibuku ini sungguh tidak mengasyikkan. Setelah tangannya yang bau bawang merah itu selesai mengucir rambutku, aku mengambil langkah lebar-lebar. Pergi keluar.
Aku melihat Bapak sedang duduk santai di teras rumah. Di sampingnya, segelas kopi hitam mengepulkan asap tipis yang kemudian ditabrak oleh angin sore. Lalu kawin dengan asap rokok yang menyembur dari mulut Bapak. Keduanya melebur dan melahirkan bau yang cukup untuk menggoyangkan kepalaku. Bikin pusing dan sesak, tapi anehnya mampu memberiku rasa nyaman. Barangkali karena di sini ada Bapak. Bau bedak bayi yang bertaburan di pipiku melewati indra penciuman Bapak. Ia menoleh padaku sembari mempertontonkan deretan giginya yang sedikit kuning. Bapak menawariku kopi. Tapi dengan satu syarat; peluk-cium Bapak dulu.
Aku setuju tanpa ragu sedikit pun. Ibu juga selalu meminta hal yang sama padaku manakala ada sesuatu yang aku mau. Maka aku gegas mendekati Bapak. Menempelkan bibirku ke permukaan pipinya yang keriput. Lalu, mendekap tubuhnya yang tegap. Satu syarat yang diminta telah kupenuhi. Gelas kopi digeser ke arahku. Pelan-pelan kuangkat menggunakan kedua tangan. Meniup gumpalan asap tipis sambil terus mempertimbangkan apakah suhu panasnya sudah aman untuk tidak melepuhkan lidahku. Baru saja aku hendak meneguknya, telingaku kembali dilabrak oleh teriakan bernada cempreng milik Ibu. Drama apalagi ini tuhan?
“Sudah Ibu bilang jangan dekat-dekat Bapakmu! Kamu ini punya telinga enggak sih?!”
Apakah Ibu tidak melihat ada dua telinga yang menempel di kanan-kiri kepalaku? Sepertinya, aku juga harus mempertanyakan apakah Ibu punya mata atau tidak. Lagi pula, antara aku dan Bapak masih ada jarak. Kami tidak duduk merapat. Apa seperti ini juga termasuk kategori berdekatan bagi kamus Ibu? Aku segera membasahi mulutku dengan kopi hitam. Rasa pahit yang menjalar di lidah sama sekali tidak membantuku merasa tenang. Lalu, tiba-tiba saja Ibu merebut gelas kopi di genggamanku dan meminta aku memuntahkan kopi yang telanjur diteguk.
Ibu menarik pundakku hingga setengah membungkuk, memukul punggung atasku, tidak peduli aku batuk-batuk karena tersedak kopi yang belum sepenuhnya masuk ke tenggorokan.
“Buang yang kau minum barusan!”
“Uhuk.. uhuk.. huk…”
“Kau menyakiti putri kecil kita, Bu.”
Bapak berusaha membebaskan tangan Ibu yang masih betah memukul punggungku. Tapi sayang, sebab itu tidak membuahkan hasil. Tubuh Ibu yang dikuasai emosi menjadi begitu kuat dari biasanya. “Biar dia tahu kalau kopi itu bukan minuman buat perempuan!” seru Ibu.
Di bawah cengkeraman tangan Ibu, aku merintih dan tertatih-tatih menyebutkan kata maaf dan tolong ampuni aku. Kopi sudah kumuntahkan. Seharusnya Ibu juga menghentikan pukulannya di punggungku. Sia-sia saja tadi Ibu mendandaniku dengan bedak bayi dan minyak wangi khusus anak kecil karena kini bedak itu luntur akibat air mata yang mulai mengalir. Bulir-bulir keringat dingin sebesar biji padi telah menyingkirkan aroma minyak wangi pada pakaianku.
“Sudah, Bu!” Bapak menarikku dengan kuat. Membawaku ke dalam dekapannya yang erat. Ibu nyaris terjungkal, sedikit terkejut dengan tindakan Bapak barusan. Setelah alam sadarnya kembali, melihatku didekap oleh Bapak, tubuh Ibu lagi-lagi dikelilingi api. Hawa panasnya sampai hingga ke pipiku.
“Kau ini aneh. Apa salahnya Num berdekatan denganku? Aku ini kan Bapaknya. Ada darahku dalam tubuh Num. Mengapa kau marah sekali melihat Num berdekatan denganku? Apa kau cemburu karena aku lebih menyayangi buah hati kita?”
“Justru karena kau bapaknya, anak perempuan kita tak boleh ada di dekatmu!”
Sekuat tenaga Ibu mencoba menarik aku dari pelukan Bapak. Sekuat itu pula Bapak mendekapku. Melindungiku dari amukan Ibu. Barangkali karena sadar diri kalau tenaganya tidak akan pernah sebanding dengan tenaga Bapak, Ibu tidak lagi menarikku. Ia tampak pasrah sekaligus marah. Marah karena lahir ke dunia dengan membawa sebutan perempuan. Marah karena memiliki tubuh yang tidak sekuat laki-laki. Marah karena aku begitu bandel.
“Terserah kau saja, Nak.”
Lalu, Ibu pergi ke dalam rumah meninggalkan kami yang termangu di teras.
Perhatianku berpindah pada tangan Bapak yang mengelus lembut bekas pukulan Ibu di punggungku. Kelembutan yang disalurkan oleh tangan Bapak rasanya aneh. Tidak seperti usapan yang biasa diberikan oleh Ibu menjelang tidur. Apa mungkin karena baru kali ini aku dapat merasakan usapan tangan Bapak?
“Kau ingin pergi memancing kan dengan kawan-kawanmu besok?”
Aku menganggukkan kepala dengan lesu. Paham kalau rencana itu tidak akan pernah terjadi di hari esok ataupun nanti. Selagi kata tidak boleh masih merebah di lidah Ibu, aku tidak akan bisa pergi memancing bersama kawan-kawan. Apalagi dengan kawan laki-laki. “Tentu kau boleh pergi,” tutur Bapak.
Aku tidak salah dengar kan?
Bapak mengizinkan aku pergi memancing. Sekalipun itu dengan kawan laki-laki? Tidak ada yang melarangmu. Tetapi, semua itu ada syaratnya. Lanjut Bapak.
Aku rasa, orang dewasa senang memberikan anak-anak syarat. Mengapa tidak langsung mengabulkan saja? Sungguh, ini sangat membuang-buang waktu, tenaga, dan pikiran. Kali ini, Bapak memberiku dua buah syarat. Kesatu, esok berangkat sekolah bareng Bapak. Kedua, malam ini tidur dengan Bapak.
Aku tidak masalah berangkat ke sekolah diantar Bapak. Sesungguhnya, inilah yang aku tunggu-tunggu. Bosan juga rasanya setiap hari diantar ke sekolah sambil jalan kaki bersama Ibu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya pergi ke sekolah naik motor bersama Bapak. Ibu tidak pernah mengantarku dengan sepeda motor karena ia tidak pandai menyetir. Aku sanggup memenuhi syarat pertama. Untuk syarat yang kedua, aku sama sekali tidak mengerti mengapa harus tidur dengan Bapak malam ini. Aku adalah anak perempuan berusia delapan tahun yang telah memiliki kamar sendiri.
Di dalam kamarku, ada banyak kawan-kawan yang dibawakan oleh Ibu dari pasar. Kawan-kawanku banyak. Ada Sam si boneka panda, Be si bebek imut dari toko Pak Mamat, ada But, Ter, dan Felai trio kupu-kupu kelap-kelip yang diadopsi Ibu dari toko kuning. Mereka semua adalah teman tidurku.
Ibu adalah teman tidur Bapak. Seharusnya Bapak tidur dengannya dan aku tidur dengan teman tidurku di dalam kamarku yang lucu. Bapak menjelaskan kepadaku kalau Ibu sedang marah. Kemungkinan Ibu tidak akan tidur di kamar bersama Bapak. Mulut Bapak yang bau tembakau itu mengaku kepadaku, tidak akan bisa tidur kalau tidak ada teman tidur di sampingnya. Oleh karena itu, Bapak membutuhkan aku sebagai ganti Ibu. Hanya untuk malam ini, katanya memelas sembari mengiming-imingi izin pergi memancing. Apabila aku sudah mengantongi satu izin dari orang tua, baik Ibu maupun tuhan tidak akan marah kepadaku.
Bayangan betapa asyik dan serunya memancing ikan di sawah bersama kawan-kawan mendorong aku untuk menyepakati dua syarat yang diajukan oleh Bapak. Dalam hati, aku tidak berbohong kalau kedua syarat itu adalah hal yang aku mau. Maka, ketika langit dipoles warna hitam pekat, Bapak menggiringku masuk ke kamarku yang dipenuhi cat biru lucu.
Jam dinding baru menunjuk ke pukul delapan. Belum saatnya aku tidur. Ada PR matematika yang belum kukerjakan. Terlebih lagi, aku belum menonton kartun kesukaanku. Tapi, Bapak kukuh meminta aku berbaring. Urusan PR matematika, nanti ia sendiri yang akan menyelesaikannya. Sekarang, Bapak akan membacakanku dongeng sebagai pengantar tidur.
“Aku belum gosok gigi, mencuci kaki, dan membasuh wajah,” ucapku sembari bersiap turun dari kasur. Bapak mencegah. Ia bilang itu tidak perlu dilakukan oleh anak kecil ketika hendak tidur. Yang perlu dilakukan oleh anak-anak sebelum tidur adalah mendengarkan dongeng dari para orang tua. Mulutku urung untuk mengeluarkan kata-kata penolakan lagi ketika Bapak memberitahuku, semakin cepat tidur semakin cepat aku bisa pergi memancing. Akhirnya, aku menurut.
Sebelum memulai membacakan dongeng, Bapak memintaku menanggalkan pakaian. Cuaca malam ini begitu gersang. Langit kosong melompong tanpa taburan bintang dan angin pun enggan naik ke daratan. Tubuhku tidak merasakan hawa panas yang dibilang Bapak dan sama sekali tidak mengeluarkan keringat. Tetapi hati kecilku mengatakan aku harus melakukan itu agar bisa lekas menangkap ikan-ikan kecil esok atau Ibu akan melarangmu kembali. Aku melepaskan pakaianku sambil dibantu Bapak. Lalu, dongeng pengantar tidur dibacakan bersamaan dengan telapak tangan Bapak yang mulai mengelus-elus tubuhku.
Entahlah, yang Bapak lakukan itu mengelus atau meraba? Yang jelas aku jadi lekas menemui pulas. Aku sendiri tidak tahu itu disebabkan oleh apa. Oleh dongeng pengantar tidur yang diceritakan oleh Bapak atau efek dari telapak tangan Bapak yang terus-terusan mengelus tubuhku?
Telingaku menangkap suara pintu didorong dari luar. Lalu, sebuah suara cempreng yang tidak asing meloncat dari mulut seorang perempuan dan berhasil menabrak gendang telingaku.
“Sudah Ibu bilang, jangan dekat-dekat dengan Bapakmu!”
*****
Editor: Moch Aldy MA
