Ikan Bakar dan Dabu-Dabu Iris
Tubuh ikan yang hangus di panggangan
adalah tubuhmu, Ibu—
yang saban hari mengering di atas bara hidup,
tapi masih menyimpan daging penuh kasih.
Dabu-dabu:
iris luka-luka kecil yang kau sembunyikan
di balik bawang merah, tomat, dan cabai,
diperas jeruk purut agar tak terlalu pahit
bagi anak-anakmu yang tak tahu.
Setiap gigit adalah bisik luka
yang telah kauterima tanpa suara.
Pedasnya bukan sekadar sambal,
tapi semacam air mata yang kau pelajari untuk tidak dijatuhkan.
–
Santan Terong
Terong yang kau belah dua,
lalu kau goreng hingga kecokelatan—
seperti hatimu yang sabar disentuh panas,
dan tak pernah meletup di atas api hidup.
Minyak bekas gorengan masih hangat,
kau tumis sejumput bawang merah
sampai harum seperti kenangan kecil
yang tak pernah benar-benar pergi.
Lalu kau tuang santan:
air dari kelapa yang kau perah sendiri
dengan tangan berbau dapur dan hidup,
kau taburi lada dan selembar daun pandan,
agar aromanya bisa menutupi getir yang tak terucap.
Ibu,
kau ajarkan kami bahwa rasa tak pernah datang sendiri,
ia diracik pelan dari luka, waktu, dan kasih—
dan bahwa gurih,
kadang berasal dari hati yang letih tapi tak menyerah.
–
Ayam Bakar Iloni
Ayam itu diguyur bumbu
seperti kau menyiram sabar ke luka lama:
jahe, kunyit, kemiri,
dan tumbukan rempah-rempah yang lain—
adalah surat-surat cinta yang tak pernah dikirimkan ke siapa-siapa.
Kau bakar ayam itu di nyala paling pelan,
seperti harapan yang tak pernah putus,
meski bara hidup sering terlalu panas,
dan tak ada yang peduli pada asap yang menyengat matamu.
Ayam bakar iloni,
adalah bahasa tubuhmu dalam piring.
Lidah kami mengecapnya,
tapi hatikulah yang kau beri makan.
–
Kangkung Cah
Kangkung: hijau ringkih yang tumbuh di rawa.
Kau tumis dengan bawang merah dan putih juga minyak
seperti kau tumbuhkan harapan di ladang air mata.
Ibu,
tak pernah kutahu kau menyelipkan
potongan-paruh waktu dalam setiap sayur
yang masih renyah meski sering disiram badai.
Cah itu bukan hanya cahaya,
tapi semacam doa yang kaulontarkan dalam minyak panas,
agar kami terus hidup—
meski kadang rasa hidup hanya setipis daun kangkung.
–
Sambal Roa
Cabai-cabai itu mengaum di atas ulekan batu
seperti isi kepalamu yang kau tumbuk tiap pagi.
Ibu,
roa itu adalah sungai kecil tempat marahmu dilarutkan.
Sambal ini adalah ladang luka,
yang sudah kau petik,
kau cuci dengan keringat,
lalu kau hidangkan seolah itu hanya pelengkap nasi.
Segala rempah,
juga sedikit micin dan garam,
dan minyak panas yang menjerit:
itulah lagu-lagu sunyi dari dapurmu
yang hanya kudengar setelah kau tak ada di sampingku.
–
Sambal Goreng
Di antara kentang yang digoreng hingga garing,
dan hati sapi yang diiris tipis,
kau sembunyikan lelah yang tak bisa disampaikan ke siapa-siapa.
Sambal gorengmu—
adalah bukti bahwa cinta juga bisa meletup,
bisa panas, bisa meledak,
tapi tetap dinikmati mereka yang kau cintai.
Ibu,
aku lihat kau mengiris bawang dengan mata tak berkedip.
Mungkin karena air mata terlalu mahal harganya,
dan hanya boleh jatuh dalam masakan,
bukan dalam perdebatan dengan hidup.
–
Nasi Kuning Laksa Basah
Nasi kuning itu,
tak sekadar beras, kunyit, dan santan—
ia adalah pagimu yang kau tumbuk bersama rempah
sambil menggumam pelan ayat-ayat perlindungan.
Laksa basah yang menyertainya,
adalah tubuhmu yang dibelah oleh waktu,
ditaburi rempah pedas dan bawang goreng,
dihiasi rebusan telur dan ikan suwir—
seperti engkau yang tetap mencoba utuh
meski hidup selalu ingin mencincangmu.
Ibu,
bau nasi ini mengalahkan alarm apa pun di pagi hari:
karena hanya di baunya
aku bisa kembali ke dekapan masa kecil.
–
Ilabulo
Sagu, hati, dan rempela ayam.
Kau campur seperti rahasia-rahasia dapur
yang tak bisa diajarkan lewat resep.
Ilabulo,
makanan yang dibakar seperti harapan,
di atas daun pisang yang sabar
menyimpan segala isi tanah dan isi tubuhmu.
Kau tak pernah bilang memasak ilabulo itu sulit.
Padahal aku tahu:
menggiling rempela itu seperti menggiling kenangan buruk,
dan mencampurnya dengan rasa syukur
agar tak terasa getir di lidah anak-anakmu.
Ibu,
aku tak tahu bagaimana mungkin sesuatu sepedas ini
bisa kau sajikan dengan wajah selembut itu.
–
Dapur Li Mima
Dapur ini bukan sekadar ruang,
tapi altar kecil milik perempuan
yang menyalakan cinta dengan korek
yang bahkan tak menyisakan api.
Li Mima—
milik Mima, ibuku, perempuan
yang tahu betul: mengiris bawang
adalah bentuk paling jujur dari pengorbanan.
Dapur ini menyimpan lebih banyak doa
daripada rak kitab mana pun.
Ia menyimpan minyak bekas,
sendok penyok,
dan panci tua yang tetap percaya pada panas.
Dan aku,
yang selalu pulang dengan perut kosong,
tak pernah benar-benar tahu:
yang kubawa pergi selama ini
adalah tubuhmu sendiri—
yang kaubiarkan hangus sedikit demi sedikit
demi kami tetap bisa makan dan hidup.
(Warung Makan Dapur Li Mima, Maguwoharjo, Yogyakarta, Mei 2025)
