Pengajar di sekolah menengah pertama

Terbuang di Atas Tanah dan Puisi Lainnya

Fio F. Yussup

2 min read

terbuang di atas tanah

hidup aku di atas tanah tak miliki aku
bawah langit dibeli
udara aku dijual pasal-pasal
air aku digadaikan
di pintu rumah aparat berdiri

tangan mereka penuh lumpur tambang dan
mulut mereka menyesap teh dari cangkir
bertuliskan hilirisasi demi pembangunan
sambil menyodok punggung kami dengan
laras panjang
mengubah ladang jadi iklan,
rumah jadi showroom mobil mewah
dan mimpi menjadi jadi angka di layar bursa

aku terlalu kenyang dengan
nasi basi tak pernah aku pilih

aku tidak akan menunggu revolusi karena
revolusi tidak akan datang di antara iklan
startup dan sinetron
yang aku tahu: aku harus terus hidup
atau membakar yang membuat aku sekarat

aku merakit puisi dengan tinta luka
menganga batangan besi
dengan cermin sepatu bot polisi
suara-suara telah kalian redam
kalian bungkam
kalian lindas
kalian lupakan
dengan ingatan pada tetesan darah
dari patahan rotan

aku datang bukan untuk menawar
aku datang untuk merampas suar
dan aku membacakan pelan
puisi doa yang menjadi genderang perang di telinga kalian.

puisi dalam pohon

notifikasi terakhir masuk dari grup
“polisi mulai masuk, kami masih bertahan”
di kafe sementara itu
aku memesan americano dengan sedotan bambu
seolah itu cukup untuk menyelamatkan
seluruh hutan

di layar gawai, hutan terbakar
dan aku sibuk memotret oren langit
sambil bilang
estetik banget ih, cocok buat story ig

kau bilang
progres adalah kata lain
dari membangun pabrik di atas akar
jambu air mangga beringin jati
yang menghidupi satu rt
mereka menyebutnya investasi
aku menyebutnya perampasan
dan ketika udara dijual perliter dalam botol plastik
aku sudah tahu siapa menukar paru-paru
dengan salindia canva gratisan di ruangan ber-ac

aku menanam pohon di atas luka
menyiramnya dengan air yang ditimba
dari mata air mata
memupuknya dengan doa keringat tangis
tapi aku akan tetap tumbuh
walau dalam nyeri,
aku akan tetap tumbuh
walau hanya dalam baris puisi
aku akan tetap tumbuh dan bertaruh

saku celana

aku menyimpan pulau
di saku celana sebelah kiri
tiap kali duduk, terasa nyeri
tiap kali berdiri, terasa sepi
pulau itu kecil
bahkan lebih kecil dari gumpalan tisu
yang dulu pernah kupakai menyeka ingus
ketika menonton berita

“kenapa kau simpan di situ?”
tanya kekasihku saat pada hari minggu kami mencuci bersama
“agar tak lupa, kalau tanah ternyata bisa hilang
bukan karena perang, tapi karena rapat”
kekasihku tertawa kecil
dan menjemur celana dalam yang sedikit robek di bagian kenangan
katanya
“kalau laut dijual, lalu nanti rumah garam pakai apa?”

di televisi menteri sumber daya tersenyum
presiden gebrak-gebrak podium
seekor burung
sedang mencoba mengeja frasa
“izin usaha tambang”
dengan paruhnya

malam ini kusimpan pulau
di laci meja sebelah kiri meja belajar
dan kukatakan padanya
“mungkin tidak semua luka perlu diumumkan,
beberapa cukup dijahit di dalam puisi”
dan besok pagi
kalau masih ada
untuk kupakai sebagai sapu tangan
saat aku terbatuk-batuk oleh kabar
negara kini sudah bubar

mejikom

di dalam sebuah pidato, wakil ketua panitia bicara tentang ai
dengan suara seperti nyangkut di kipas angin
dan salindia diganti terlalu cepat
hingga lupa di mana titik dan koma seharusnya duduk
“ai akan membawa bangsa ini menuju hilirisasi”
katanya
seseorang batuk di baris ke dua sebelah kiri
iya tersedak ketika menenggak botolan air mineral
sedangkan di barisan paling belakang
seorang ibu rumah tangga lagi nontonin
mejikom yang tak kunjung matang isinya
lantaran diputus listrik, efisiensi katanya
di layar proyektor
wakil ketua panitia menunjuk sebuah diagram
padahal ia hanya sedang melihat bayangannya sendiri
tersangkut di antara grafik kemiskinan warga desa
dibuat oleh ai gratisan di internet

hilirisasi, katanya
sementara mahasiswa kampus swasta di daerah tamansari
mencatat
“hilirasi adalah ketika ide dijual
dalam bentuk kardus kosong
dengan label visioner”
ai akan menyelamatkan kita, katanya
tapi tak bisa menjawab
kenapa buruh masih makan nasi basi
tambang menyisakan polusi

ai, katanya lagi
siapa yang tak pakai ai
akan digantikan
padahal sinyal 4g aja
masih gagal
menjangkau kamarnya

seseorang di baris ke empat sebelah dispenser
samping kanan
mengangkat tangan
bertanya tentang etika dan privasi
dijawab dengan cerita masa kecil
bermain tamiya, layangan, gasing
dan kebingungan
seseorang di baris ke lima sebelah timur
menunduk membuka grup chat menulis
: jaga mulutmu! wakil ketua panitia lagi ngerasa pinter jangan diganggu

*****

Fio F. Yussup
Fio F. Yussup Pengajar di sekolah menengah pertama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email