Ibu dua anak, merdeka, dan berbahagia

DarDerDor

Katarina Retno Triwidayati

3 min read

Sudah beberapa menit berlalu sejak mereka melakukan penghormatan padaku. Tapi, aku merasa mereka ini hanya berpura-pura saja. Kurasa pula begitulah tingkah semua orang di sekitarku.

Perhatikan kelakuan mereka. Mereka yang ada di baris depan memang tampak berdiri dengan sikap siap sempurna. Namun, aku yakin, pikiran mereka tidak sedang di tempat ini. Orang yang berdiri di barisan tengah depan itu, sedari tadi menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tampak sekali dia berusaha membuat tubuhnya nyaman.

Kau sudah tahu bukan kalau pikiran itu mengerikan jika tidak dikendalikan? Pikiran bahkan bisa membunuh dan mendorong tindakan-tindakan di luar nalar. Dan mereka yang berani berdiri di depan begitu, anak-anak muda macam itu, jika punya pikiran yang tajam dan liar. Aduh, … keos macam apa yang akan terjadi nanti?

Aku, yang berdiri di podium dan menerima penghormatan ini, pun bisa digulingkan. Ya, mudah saja itu dilakukan oleh mereka-mereka yang diam, tapi pikirannya bergerak liar.

Lho, lihat itu yang di belakang. Bahu mereka bersenggolan. Bagaimana bisa terjadi? Mestinya ada jarak antara mereka. Mereka tidak bisa bersentuhan dan memicu keduanya bertukar senyum, malu-malu, lalu dilanjut ngobrol pelan sambil sesekali bertukar pandang. Aish, apa-apaan itu? Bukannya mereka ini akan pura-pura tertib saat aku melotot ke arah mereka?

Sikap mereka itu sama saja dengan sikap rekan kerjaku. “Pagi, Pak Broto,” sapa Bu Ira di suatu hari. Aku mengangguk, tersenyum tipis, dan meninggalkannya. Aku sibuk. Masak kepala sekolah sepertiku tidak sibuk sih.

Namun, saat itu, aku ingat ada sesuatu yang mesti kusampaikan pada Pak Tar, guru olahraga yang gemar tidur di gudang. Jadi, aku kembali ke ruang guru. Saat itulah, kudengar suara Bu Ira. “Aih, lagaknya ampun sekali. Baru juga jadi kepala sekolah tiga hari, tapi sombongnya setengah mati. Disapa pun tidak mau menjawab. Apalah susahnya menjawab, ya ‘kan?”

“Iya, kalau kirim pesan pun dia hanya menjawab ‘Y’. Bayangkan, hanya nulis ‘ya’ saja kok berat sekali. Padahal nulis satu dan dua huruf tuh bayar kuotanya ya sama saja,” timpal Bu Dwi.

Mereka pasti akan terus membicarakanku jika saja tidak ada sttt-sttt dari guru yang lain. Ada yang melotot dan memberi kode dengan bibir.

Bisa ditebak. Setelahnya mereka menoleh, meminta maaf dengan canggung, lalu menghindar. Begitulah. Orang tampak manis di depan, tapi menyimpan banyak kebencian di lubuk hatinya. Ckckck!

Aku mendengkus. Saat pengibar bendera melaksanakan tugasnya, makin banyak yang berkasak-kusuk. Tidak ada yang memperhatikan langkah tegap nan seragam dari pengibar bendera yang telah berkali-kali berlatih itu.

Saat bendera terbentang, dilanjut ajakan sikap menghormat, sudut mataku masih melihatnya. Di ujung sana, ada yang tertawa-tawa. Ada pula yang mencolek-colek teman di depan atau di sampingnya. Ada pula yang menguap lebar-lebar.

Aku jadi ingat, saat aku berdiri di depan kelas, hal yang sama terjadi. Kutunjuk seseorang untuk menjelaskan kembali penjelasanku terkait materi hari itu. Dia membuang pandang ke langit-langit seolah itu cara terampuh untuk melarikan diri.

Baiklah. Sebagai kepala sekolah yang baik, aku akan menegur mereka. Mereka mesti tahu sikap sebenarnya dalam mengikuti upacara bendera. Aku sudah memutuskan itu.

“Amanat Pembina Upacara.”

Mendengar itu, kurasa aku mulai merasakan ada yang salah dengan tubuhku. Angin semilir yang menyapu lapangan terasa terlalu dingin saat menyentuh kulitku. Aku mencoba menelan ludah dengan agak susah payah. Kusadari kakiku bergerak sedikit.

“Untuk amanat Pembina Upacara, istirahat di tempat, graaak!”

Suara itu menggelegar. Kurasa Pemimpin Upacara dengan sengaja berteriak sekencang-kencangnya agar aku terkejut. Mungkin dia ingin membuatku melihatnya secara utuh. Dia mungkin hanya ingin aku memperhatikannya.

Lelaki gagah yang sedang bertugas sebagai Pemimpin Upacara itu memasang muka serius. Aku ingin berdecak. Tapi kutahan. Aku melengos sedikit, agar hembusan napas kesalku tidak dilihatnya. Bagaimanapun harus kuakui, aku ini pengecut betul. Aku ingin menunjukkan kalau aku tidak suka sesuatu, tapi aku juga takut tidak disukai karena itu.

Melihat muka serius Pemimpin Upacara, aku jadi ingat muka serius istriku semalam. “Kamu belum mau tidur, Mas?”

Aku memandangi perempuan yang berdiri di pintu. Ia memakai daster kebanggaannya. Aku tahu betul ada lubang besar di dekat ketiak kanannya. “Belum,” jawabku singkat. Aku pura-pura mengetik sesuatu. Kuharap wajahku tampak serius sehingga perempuan itu tidak perlu kembali mengajukan tanya.

“Belum? Trus kamu ngapain? Sibuk apa? Sibukmu itu bakal jadi duit nggak? Bukannya kamu besok jadi Pembina Upacara? Lagi nyiapin amanat?”

Aku mendengus. Cerewet betul perempuan yang kunikahi lima tahun lalu itu. Aku meliriknya sekilas dan kembali berpura-pura mengetik sesuatu. “Yang kamu ketik itu amanat Pembina ….”

“Diam!”

Ziiiinggg.

Semua mata sepertinya memandang ke arahku. Aku tergagap. Bagaimana bisa aku terlempar ke dua masa dengan begitu cepat? Kenapa bentakan itu justru muncul di sini, di saat ini?

Aku berdeham-deham. Berkelebat-kelebat para guru nyinyir. Mereka siap menungguku melakukan kebodohan. Ya, mereka menungguku melakukan sesuatu yang bisa memberi mereka alasan untuk tertawa. Hahaha, begitu. Lalu mereka akan menuliskannya di media sosial, dilanjut dengan kata-kata, “beginilah jika aku membuat catatan, aku bisa saja menulis secara halus, tapi Pak Broto nggak perlu mendapatkan itu. Dia hanya pantas ditertawakan.”

Huh! Aku mengulas senyum sinis. Semua siswa tampaknya berdiri mematung, eh mereka tampak berusaha mematung. Ah, sama saja. Seperti pura-pura menatap langit-langit untuk menghindari kontak mata denganku dan terhindar dari pertanyaan usai mempelajari sesuatu.

Itu pun sama seperti istriku di rumah. Terus bertanya: apa yang kukerjakan, apa aku sudah menerima gaji, apa benar gaji ke-13 akan segera cair, bukankah aku mestinya memberinya uang insentif ini dan itu?

Memuakkan.

Ngiiiinggg!!!

Aku benci suara mikrofon berdenging. Kuraih mikrofon itu. Dengan penuh keyakinan dan segenap kemarahan, aku mengarahkan tinju ke udara dan bersuara, “DARDERDOR …. DARDERDOR!”

*****

Katarina Retno Triwidayati
Katarina Retno Triwidayati Ibu dua anak, merdeka, dan berbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email