Tentang Basah
Barangkali basah
ialah sendu nasib
di bawah bantal dan
tumpukan mimpi yang tak tercatat
Dan puisi adalah biji-biji zarah
yang perlahan melintasi
cahaya ventilasi sebagai
doa yang hening
dalam kegamangan
(2023)
–
As-Sami
yang ia cintai, terlisankan
lahir dari gua suram
ada suara di perigi
menanyakan kepantasan
atas sebuah paradoks
di tubuhnya yang remang
pangkal gua memetakan
abjad di bebatuan
membentuk kalimat
(muasal terciptanya kontra)
dibacanya, di-sirkan
sungguh pun tansuara
ia dengar, senantiasa
(2024)
–
Buih
ia hanya ingin pergi
melihat lautan
walau orang telah bosan
ia tetap bertanya, tentang
sesiapa
“barangkali ada
yang tak takjub akan lautan?”
sebab ia selalu begitu
dilahapnya kekosongan
dengan gairah yang ganjil
ia hanya ingin pergi
melihat lautan
mengaminkan segalanya
di tengah riak
sebab ia selamanya buih
selama-lamanya
(2024)
–
Tentang Basah (2)
biru melembap wajah sore
di sudut Ciputat
yang deras dan hening
sepasang kaki tanpa upaya
menyusuri pertanyaan
di sepanjang gang yang becek
membasahi keikhlasan dalam
tahun yang mengimpit
diktat-diktat akanan
mendikte dirinya dalam daftar
tanggungan
kita bicara sendiri
selalu sendiri
dan pergi, membuang
tumpukan berita
tentang cara hidup semestinya
(2024)
–
As-Sami (2)
sebab ia dengar
maka aku tak
berisik
sebab ia mengerti
jika aku telah
berbisik
(2024)
*****
Editor: Moch Aldy MA
