Kutukan untuk Seorang Pemburu

Aflaz Maosul Kamilah

4 min read

“Kesalahan terbesarmu adalah menikah dengan seorang pemburu,” kata Tita Kangkung berulang kali.

Sejak kecil, Gani Muning memang sudah tergila-gila dengan berburu. Dan seperti semua orang yang tergila-gila pada sesuatu, Gani Muning bisa berburu apa saja: babi, rusa, burung, apa saja. Bahkan, dia juga sering berburu hewan-hewan mitos seperti leled samak dan maung bodas. Dan kecintaan Gani Muning ini sendiri sebenarnya tidak lahir begitu saja, tapi dibidani oleh adat dan kebiasaan. Misalnya, saat musim panen tiba, semua orang akan beramai-ramai berburu beker—burung sawah berwarna hitam, berukuran sebesar anak ayam, berkaki panjang, dan bisa berlari secepat kilat.

Untuk mendukung perburuan, orang-orang akan memanen lebih dulu sawah-sawah yang berada di pinggir—yang berbatasan langsung dengan kebun, hutan, atau rumah—terus bergerak ke tengah hingga menyisakan sepetak saja sebagai pertahanan terakhir burung-burung hitam itu.

Setelah itu, semua pekerjaan pun akan diambil alih oleh mereka yang tidak punya kegesitan lagi. Sementara mereka yang masih punya tenaga dan kecepatan akan berbaris di pematang—mengelilingi sawah yang tinggal secuil itu.

Dan seiring dengan semakin menyempitnya sawah, orang-orang pun mulai memasang mata dan kuda-kuda untuk menyergap burung hitam yang hendak melarikan diri itu. Dan saat itulah mereka akan menggunakan setiap kecakapan yang mereka miliki: kegesitan kaki, kelincahan tangan, dan keberanian untuk terbang menyungkup burung hitam yang bergerak secepat kilat itu. Dan pada saat itu jugalah, refleks dan ketahanan tubuh akan menunjukkan hasilnya. Yang juga menyenangkan, karena kelincahannya, burung-burung itu malah jarang tertangkap di pematang, tapi setelah melalui pergumulan yang panjang di sawah yang baru dipanen itu; yang becek dan penuh tunggul padi itu.

“Hoi, ke sana!”

“Hoi, itu di belakangmu!”

“Hoi, kena kau!” kata orang-orang bergantian, termasuk di antaranya adalah Gani Muning. Dan dia tidak cuma sekali saja menjerit kesetanan seperti itu, tapi berulang kali.

Dan sejak itulah, Gani Muning mulai mengabdikan hidupnya untuk berburu.

“Kalau sampai tangan suamimu berurusan dengan darah, celakalah, Euis. Celaka!” kata Tita Kangkung lagi.

Dan perlahan-lahan, kengerian cerita Tita Kangkung pun mulai menghantui Euis. “Tapi suamiku sekeras batu kali, Tita,” katanya.

“Karena itulah kau harus sesabar seorang pemahat. Pukulan demi pukulan.”

“Ya, benar. Pukulan demi pukulan,” balas Euis. “Kau ingat, dia sangat kuat dan gesit saat masih bocah dulu! Siapa pun akan terkesima dengan kemampuannya,” kenang Euis.

“Benar, semua orang menyukainya saat itu.”

Kesenangan berburu beker itu hanya bertahan beberapa hari saja. Sesudah itu, orang-orang akan kembali ke pekerjaannya masing-masing. Dan kesenangan kecil biasanya berlanjut di sawah masing-masing. Saat hujan mulai turun dan sawah mulai digarap kembali, anak-anak akan menguntit kerbau pembajak untuk berburu belut. Dan dari kesenangan Gani Muning mengutit kerbau yang melebihi siapa pun itulah, dia kemudian mendapatkan nama belakangnya.

Pada usianya yang kedua belas, karena keakraban Gani Muning dan sawah itulah, semua orang mendadak menjadi ahli nujum dan percaya jika Gani Muning akan meneruskan kemasyhuran orang tuanya. Dan karena pesona Gani Muning dan harta orang tuanya yang menggunung itulah, pada usia sembilan belas, Euis pun menerima perjodohan dengan Gani Muning. Sawah, kebun, dan empang, semuanya akan jatuh ke tangan Gani Muning tanpa kecuali. Namun karena kelimpahan itu jugalah, ramalan orang-orang pun akhirnya tidak terbukti kebenarannya—Gani Muning bisa terus merawat kesenangannya dan akhirnya menjadi sebongkah batu.

Saat awal menikah, Euis sebenarnya tidak keberatan sedikit pun dengan kesenangan Gani Muning itu, toh semua keperluannya tetap terpenuhi tanpa kurang sedikit pun. Tapi masalahnya, sekarang Euis sedang hamil dan jelas itu adalah sebuah malapetaka.

“Kau tidak mau terjadi apa-apa pada anakmu, kan?” tegur Tita Kangkung lagi. Setiap dia menceritakan kengerian itu, Euis menggigil saat itu juga—sama seperti saat dia mengguyur tubuhnya dengan air sumur saat akan berangkat sekolah dulu.

Dan karena kengerian yang terus menyiksa itulah, sesaat setelah Tita Kangkung pulang dan Gani Muning kembali dari hutan, Euis segera memburu suaminya. “Berhentilah berburu dan membunuh binatang. Aku takut terjadi apa-apa pada anak kita,” katanya.

“Kenapa dengan anak kita?”

“Dia akan celaka jika kau terus membunuh binatang,” jawab Euis. “Memangnya kau tidak takut anakmu kena kutukan?”

“Kau benar-benar bodoh dan berisik.”

“Aku cuma khawatir pada anak kita. Itu saja.”

“Itulah kenapa aku bilang kau bodoh dan berisik,” balas Gani Muning. “Memangnya penyakit apa kutukan itu? Sejenis kurang gizi atau apa? Kalau kau takut anak kita kena bahaya, perhatikan saja kesehatanmu. Dan untuk itulah kau harus rajin ke puskesmas.”

Dan seperti kata Euis pada Tita Kangkung, Gani Muning memang sekeras batu kali. Tapi seperti kata Tita Kangkung kepadanya juga, dia harus sesabar seorang pemahat: pukulan demi pukulan.

“Aku jarang melihatmu memancingi kolam,” kata Euis lagi; pukulan demi pukulan. “Memancing saja di sana!” katanya lagi.

“Kau benar-benar cerewet dan bodoh, Euis,” balas Gani Muning. “Sepanjang hidup, aku tidak pernah terobsesi pada binatang-binatang itu, tapi pada rasanya; pada sensasinya. Kau tahu artinya kan?”

Sebagai anak tomboi, Euis jelas merasakan hal yang sama. Dia masih ingat bagaimana kesenangan menyelimutinya saat dia melihat belut yang tersibak oleh singkal dan kemudian lenyap sama sekali, bahkan sebelum dia bisa menyentuhnya—hanya keberuntungan yang amat besar yang bisa membuatnya bisa menangkap hewan itu; bagaimana ketegangan menggerayanginya saat dia melihat ikan-ikan di sungai melarikan kail dan pelampungnya; bagaimana kecemasan menggelitiknya saat dia berusaha mengendap-endap untuk menyungkup seekor capung atau belalang. Dan Euis pun tahu bagaimana rasanya saat dia berhasil menangkap buruan-buruannya itu. Dan itu tidak pernah dia peroleh saat dia memancing di kolam atau saat ayahnya membawakan binatang-binatang itu di dalam ember atau gelembung plastik.

Tapi bagaimanapun juga, larangan berburu dan membunuh hewan tetap saja mengganggu Euis. Dan itulah kenapa dia meminta Haji Isam, mertuanya, untuk mengingatkan Gani Muning.

“Hoi, Euis. Dengar! Anak cacat itu karena kurang gizi, buka karena bapaknya sering mancing atau pergi ke hutan,” balas Gani Muning setelah Haji Isam pergi dari rumah mereka. “Bapak sekalipun tidak akan bisa menghentikan kesenanganku.”

“Ya, terserah kau saja kalau begitu. Tapi jangan menyalahkanku kalau terjadi apa-apa pada anak kita.”

Meski begitu, setelah ancaman itu, Euis tetap saja dihantui oleh kepercayaan-kepercayaan itu; diteror oleh mitos-mitos itu. Siang dan malam.

“Aku tidak memintamu untuk meninggalkannya selamanya. Hanya sampai anak kita lahir,” kata Euis saat usia kandungannya menginjak empat bulan—waktu saat malaikat meniupkan ruh pada bayinya. Saat mereka sedang menyiapkan acara selamatan untuk bayinya.

“Mancing saja di kolam, Gani. Kasihani anak dan istrimu itu,” Bapaknya kembali mengingatkan. “Atau, jika kau tetap ngeyel buat berburu, pergilah. Asal jangan melukai dan membunuh hewan-hewan itu.”

Gani Muning benar-benar tidak habis pikir dengan Bapaknya. Dia masih terima jika itu untuk memancing, tapi jika untuk berburu, jelas itu permintaan bodoh dan tolol. Bagaimana caranya berburu babi atau kijang dengan tidak melukai atau membunuhnya? Dengan tidak menombak atau menembaknya? Benar-benar bodoh dan tolol.

“Apakah anak si Budi Bagong dan si Asep Sapi lahir cacat, heh?” kata Gani Muning kepada Euis, setelah semua orang pulang.

Euis hanya bergeming menyaksikan kedongkolan suaminya itu.

“Dan bagaimana juga dengan anak si Jejen Lele dan si Idon Bogo?”

Setelah kejadian itu, Euis benar-benar tidak pernah mendebat Gani Muning lagi. Dia hanya berbagi tentang kecemasannya itu pada temannya; pada Tita Kangkung.

“Kutukan tetaplah kutukan,” kata Tita Kangkung. “Jika kau tidak ingin celaka, kau harus menebusnya dengan puasa.”

“Puasa?” Euis berusaha memastikan.

“Setiap penyakit ada obatnya dan setiap kutukan ada penangkalnya.”

Maka sejak hari itu, tanpa sepengetahuan Gani Muning, Euis pun mulai sibuk dengan puasanya, sama seperti Gani Muning dengan perburuannya.

Barulah saat Euis tiba-tiba meringis dan akhirnya terkapar di puskesmas—Gani Muning mendapati anaknya lahir lebih awal dan akhirnya mati, dia mulai memercayai mitos itu dan menyesali perbuatannya.

Meski sering bersitegang dengan istrinya, tapi Gani Muning tetap mencintainya. Begitu juga dengan janin yang telah bersemayam selama tujuh bulan di rahim istrinya itu. Itulah kenapa, meski Gani Muning sering meninggalkan Euis untuk berburu, dia tidak pernah alfa untuk membelikan istrinya vitamin dan apapun untuk kesehatan istri dan anaknya itu.

Di kamar puskesmas, Gani Muning mulai meratapi kebodohannya; menyesali gelagat sirit uncuing yang berulang kali menghampirinya.

Saat Gani Muning menatap satu per satu keluarganya, dia tahu jika dialah penyebab semua malapetaka itu.

Dan pada saat itulah, seorang dokter tiba-tiba masuk dan berkata pada Gani Muning, “Dia terlalu banyak pikiran dan kurang asupan,” katanya. “Dan yang lebih fatal lagi, dia tidak pernah memeriksakan kandungannya ke sini.”

*****

Aflaz Maosul Kamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email