Sengatan di kepalanya terasa memelintir. Perutnya mengencang, ada pusaran mual berontak hendak keluar. Ia belum sanggup menerima apa yang baru saja terjadi. Dengan tergesa dihempaskannya jaring ikan di atas buritan. Perahu kayu pinjaman itu bergoyang memprotes. Entah kapan ia bisa memiliki perahu sendiri. Untuk sebuah perahu sederhana saja ia menghitung angka puluhan juta. Belum lagi mesinnya. Sengatan di kepala semakin menjadi-jadi. Pikirannya melayang pada Bagas–mata anak itu selalu berbinar setiap kali berbicara tentang laut. Suatu hari–katanya–ia ingin ikut ayah melaut. Ironis, pikir lelaki itu. Anaknya mencintai laut, sementara laut membalikkan punggungnya.
Gerhana membuat hamparan laut tampak kemerahan. Di ujung cakrawala mata langit berdarah. Bahkan bulan merah malam itu tak mampu menahannya untuk melaut. Langit berpendar tembaga memancarkan aura dunia magis. Bintang-bintang memamerkan kilauan mereka. Gemawan jingga berarak tak tergesa, malah terlihat pongah. Tak peduli dengan perasaan hati anak manusia di bawahnya.
Mata lelaki itu menyapu sekeliling. Tak ada kedip lampu lain di kejauhan. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Apa malam ini dihindari semua orang. Ia memerhatikan lebih dalam. Suara binatang malam yang biasanya riuh tak terdengar. Hanya debur ombak memukul pantai, berulang dan berat.
Kepalanya mendongak. Bentuk kepala hampir sempurna dengan lekukan rahang tajam. Namun garis bibir terjatuh, ditambah sorot mata yang kehilangan api hidup, membuat raut wajah itu tak nyaman untuk dipandang. Keajaiban alam yang jarang singgah tak cukup kuat untuk menggugah hatinya. Benaknya saat itu penuh, serpihan pikirannya bertumpuk tak teratur.
Ia setengah berlari, ada sesuatu yang masih tertinggal di rumah.
Menelusuri kembali jejaknya menuju pantai, konsentrasinya kini dipusatkan pada buntalan selimut tebal. Cara lelaki itu membopong terlihat sangat intim. Selimut itu erat menempel pada dadanya. Fokusnya yang tertambat pada satu titik meniadakan rasa perih dari gesekan serat bahan murahan di tangannya. Ekspresi wajahnya datar. Tempaan hidup hampir mengikis habis ungkapan perasaan.
Perlahan ia menaruh buntalan besar itu pada haluan perahu. Tubuhnya tiba-tiba menggigil. Hembusan angin darat mengingatkannya untuk tak membuang waktu. Ia segera berbalik kembali. Masih ada satu selimut lagi yang harus dibawa.
Perahunya menjauh dari pesisir. Haluannya yang runcing mengiris gelombang. Dari arah buritan, buih memahat guratan panjang. Mesin tua mendorong dengan susah payah. Baling-baling berputar sambil sesekali terbatuk. Lampu-lampu kediaman penduduk semakin lama semakin menjadi mengecil, mirip pijar kunang-kunang redup. Perumahan semi permanen kumuh yang berdiri berhimpitan tertutup oleh tirai gelap malam.
Di tengah laut, ia bersiap menebarkan jaring. Bau asin menyapu rongga hidungnya. Jaring itu melayang sebentar sebelum jatuh membentuk lingkaran. Ia menggigil lagi saat tali jaring meluncur di tangannya. Sekilas ia melirik buntalan selimut. Ada riak lembut di matanya, namun segera tertutup oleh ketegangan yang menguasai. Cahaya gerhana bulan memantul, berdenyut di atas permukaan laut. Dalam hati ia berharap anak laki-lakinya tak terlalu kedinginan.
Lekukan kepala yang nyaris sempurna itu menengadah. Bulatan merah di atas menyerupai tetesan darah raksasa. Lelaki itu merenung. Pikirannya berputar pada satu tanya yang kerap muncul. Apakah kemiskinan yang membuka pintu bagi kematian? Atau malah sebaliknya, kematian yang mengintai diam-diam dari punggung kemiskinan? Semua itu terlalu dekat dengan kehidupannya sendiri.
Keahliannya hanya melaut. Apa lagi yang dapat ia lakukan. Ia merasa tak seberuntung nelayan-nelayan lain. Tak seberuntung Amin. Tetangganya yang sekarang berjualan makanan laut dengan gerobak keliling.
Lelaki itu tahu persaingan yang diikutinya sangat timpang. Jaring tuanya harus berhadapan dengan monster-monster besi bersuara derung tinggi. Tak adil, ia memprotes getir. Pabrik-pabrik semakin menjamur di pesisir kota. Limbah warga semakin menggunung. Ia harus melaju memburu hasil laut semakin jauh ke tengah. Harus merogoh biaya yang ia tak punya. Dan langit pun semakin tak berpihak.
Apa ia masih dapat melaut dengan tenang, tak terusir dari perairannya sendiri. Keinginannya sederhana saja: dapat menikmati wajah damai keluarganya. Terkadang lelah membuatnya meminta laut untuk menggulungnya rapat, untuk menelannya bulat-bulat.
Mengepalkan kedua tangan, di bawah nyala lampu petromaks, kulitnya menguning kusam. Retakan kulit panjang membentuk peta ganjil arus laut. Ia membuka kepal tangannya, meneliti. Dahinya bertaut keras. Kedua tangan itu terasa asing, bukan bagian dari tubuh diri.
Ia mengarahkan pandangannya kembali ke atas. Dari permukaan rembulan tergambar wajah darah dagingnya. Wajah itu terlihat lelap. Namun ada sesuatu yang tak biasa. Dada kecilnya tak lagi naik turun berirama.
Dilihatnya Marni berdiri di sisi ranjang, kedua tangan mencengkeram bantal. Rambut perempuan itu acak-acakan. Wajahnya pucat dan tak terurus. Tatapan matanya entah ke mana. Isakannya setipis suara napas, tercekat di tenggorokan.
Lelaki itu mengguncang tubuh Bagas berkali-kali, semakin keras setiap detik berlalu. Ketakutan yang tak bisa dilawannya bergelayutan memukul dadanya. Jangkar yang menahan hidupnya selama ini terlepas ditarik arus gelap. Dunianya berputar dalam pusaran air yang mengamuk.
Tubuh kurus istrinya terjerembab ke lantai. Marni tak membalas sedikit pun. Tak sepotong kata tercetus dari bibirnya. Kedua bola mata tenggelam dalam genangan bening. Ia hanya menatap pasrah wajah suaminya.
Ada sesuatu yang patah dalam diri lelaki itu. Pikirannya berserakan ditarik ledakan emosi. Sesuatu yang gelap merayap naik dari dasar dada. Gelombang panas menyeruak ke kepala. Darah menyembur. Daster kusam yang dikenakan istrinya—yang telah kehilangan rona itu—berwarna kembali.
Di tengah laut, embusan napas beratnya tertutup pukulan gelombang pada lambung perahu.
Rekaman ingatan membawanya kembali. Tubuh lelaki itu bergerak pelan. Ia berpindah ke haluan. Sesaat, dirabanya dua buntalan selimut. Bersusulan, ia melepaskan perlahan buntalan demi buntalan. Mulut air menganga, menelan dua tubuh dengan cepat.
Ia menundukkan kepala. Dua tangan menutupi wajah. Telapak tangannya basah. Bahunya bergetar. Suara napasnya tersendat. Impitan di dada akhirnya terpecah, berhasil menemukan celah untuk keluar.
Namun laut tak memberinya waktu untuk tenggelam dalam kepedihan, ada pekerjaan yang menunggu. Otot-otot di atas lengannya tampak menonjol setiap kali jaring ditarik. Jaring itu tak ubahnya seonggok anyaman tali merah. Buruan laut kali ini tampak seperti bayang-bayang luka. Mata kecil mereka memelotot, sisik membara.
Lelah perlahan merayap masuk ke dalam setiap ruas tubuh. Kepala terkulai, tenaganya menguap begitu saja. Kesadaran diri terbang jauh entah ke mana, sementara tubuh-tubuh bersirip masih berloncatan tanpa henti.
Suara laut menyentuh telinganya, mendendangkan satu kidung samar.
Laut darah, laut merah.
Telan aku bulat-bulat ….
Nyanyian itu datang dan pergi, berputar-putar menghantam kesadarannya.
Rasa remuk yang merayapi keseluruhan tubuh menggantikan tembang laut. Dunia nyata memaksanya terjaga. Bentuk kepala mendekati sempurna itu berputar ke arah langit. Rembulan yang terluka telah berganti. Pendar putih keabuan memancar dingin. Angin laut membawa perahunya mendekati pantai. Duduk tegak, tangan kanannya meraih sesuatu.
Bilah tajam yang terbungkus rapat masih tersimpan di sisi belakang papan. Bunyi cempung bergema menyertai pisau bergagang pendek yang lenyap di balik riak. Angin laut terus mendorong. Lelaki itu memandang lurus. Bayangan pepohonan kelapa mulai terlihat membentuk barisan pendek di garis pesisir. Semakin perahunya mendekat, semakin jelas rumah-rumah reyot dan lampu-lampu kuning membentuk realitas yang sangat ia kenal.
Lelaki itu membiarkan angin menentukan arah pulang. Pulang kepada siapa? Ia bergumam. Kehampaan semakin menebal. Satu pertanyaan tak kunjung usai timbul kembali. Apakah kematian yang mengintip dari punggung kemiskinan? Atau justru kemiskinan yang membuka gerbang bagi kematian?
*****
Editor: Moch Aldy MA
