Pertanyaan Golongan Sedang

Indah Tri Wahyuningrum

5 min read

Barangkali hidup adalah pilihan, maka aku akan memilih untuk tidak menjadi manusia golongan sedang karena bagiku itu adalah kutukan jenis terbaru masa sekarang. Barangkali hidup adalah pilihan dan menjadi manusia golongan sedang adalah takdir, maka baiknya aku memilih untuk tidak hidup sekalian. Sekiranya itu adalah isi kepalaku setiap kali berdiri diam dalam bus kota yang penuh sesak di jam pulang kerja atau ketika duduk di pojokan halte sendirian sembari menunggu bus nomor sepuluh sepi penumpang.

Ketika sendirian, manusia biasanya menjadi pengamat keadaan yang baik dan untuk sesaat dunia seakan berada tepat di bawah kakinya. Tujuh tahun lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah tingkat akhir, temanku mengatakan bahwa aku manusia pengamat yang sangat baik karena aku selalu sendirian dan kesepian. Tapi kupikir aku memang telah lahir dengan bakat luar biasa itu dan karena aku pengamat yang baik, maka kuputuskan untuk tidak menjadi manusia golongan sedang sebab dunia selalu mengutuk mereka. Namun seiring berjalannya waktu dan aku bertumbuh sebagai pengamat yang semakin kompeten, mulai tampak jelas bahwa hidup bukan pilihan dan beberapa takdir buruk seperti menjadi manusia golongan sedang ternyata tidak dapat dihindarkan. Mereka yang termasuk golongan sedang adalah manusia paling tidak beruntung di dunia. Aku benci manusia golongan sedang.

“Bukankah kau Sunarti?” 

Ah, rupanya aku masih kurang kompeten dalam mengamati. Sapaan perempuan dengan manik mata seperti rusa itu masih membuatku terkejut karena ia tak terekam dalam lensa mata pengamatku dan itu berarti aku masih belum cukup mahir dalam mengamati sebab sesekali masih kecolongan. Tapi meski masih kurang mahir, pengamatanku terhadap manusia golongan sedang tak pernah meleset. Ketika aku mulai benar-benar menyadari keberadaan perempuan bermata seperti rusa itu, sejenak aku mengamatinya lamat-lamat dan kupastikan ia manusia golongan sedang, maka seketika itu aku membencinya sebab aku benci manusia golongan sedang. 

“Iya, aku Sunarti. Engkau siapa, apakah kita saling mengenal?” Aku benar-benar lupa siapa dia. Mungkin saja perempuan itu teman sekolahku tujuh tahun lalu, atau mungkin ia salah satu tetanggaku di kampung lama, atau mungkin juga orang asing yang sok kenal denganku lalu asal menyebutkan nama dan kebetulan saja itu benar. 

“Aku Delilah, kita teman sekelas saat tahun pertama sekolah tingkat akhir. Aku mengingatmu betul, Sunarti gadis bangku pojok belakang.”

Ia kemudian tertawa sendiri sebab aku malas menyahuti humor aneh itu. Kini aku juga mengingatnya betul, Delilah gadis golongan sedang yang sering kali memaksakan diri.

Seingatku, meskipun golongan sedang, ia cukup pintar dan cukup mampu untuk membeli barang-barang mewah yang kalau berdasarkan ilmu ekonomi itu termasuk barang tersier. Yah, walaupun sedikit memaksakan diri. Dengan mengetahui namanya, kekuatan ajaibku terbukti tepat sasaran sebab jika aku tidak salah ingat Delilah adalah keturunan asli manusia golongan sedang. Ayah-ibunya, kakek-neneknya, buyut-buyutnya, semua manusia golongan sedang.

“Sudah lama sekali tak kudengar kabarmu, Nar. Aku kira kau berpindah ke luar kota sebab terakhir kali saat hari kelulusan sekolah kudengar kau akan berkuliah di daerah Jawa Tengah.”

Aku membencinya sekali lagi sebab dia mulai sok tahu, aku benci sikapnya yang khas seperti manusia golongan sedang. Maka tidak kuhiraukan saja dia, biar dia terus mengoceh sendiri seperti burung kenari di pagi hari yang meminta jatah milet atau ulat hongkong. Kemudian ketika ia tersedak sebab terlalu banyak omong, ia tak kuberi minum agar mati saja. Ah, mungkin burung Kenari juga termasuk golongan sedang di kaumnya.

“Aku tidak lulus kuliah, Nar.” Sialan sepertinya ia mulai pamer kehidupan golongan sedangnya itu. Tapi tetap kubiarkan, aku tidak tertarik dengan kehidupannya yang penuh pemaksaan itu. 

“Orang bilang aku sering memaksakan banyak hal termasuk mimpiku sendiri, tapi menurutmu apa aku tidak boleh bermimpi, Nar? Sejak kapan itu menjadi haram? Sejak kapan itu mulai dilarang undang-undang?” Manik mata rusa itu sepertinya mulai berubah. Duh, apakah ia juga punya kekuatan ajaib sepertiku? Kalau aku bisa melihat golongan manusia, mungkin ia bisa mendengar isi hati golongan manusia lain ketika mengutuki golongan sebangsanya, sebab entah kenapa ia seperti membalas sarkas isi hatiku tadi. 

“Aku menyadari bahwa diriku ini golongan sedang yang terlalu banyak memaksa kehidupan. Orang bilang aku masih terhitung mampu dan tidak memenuhi syarat untuk dibantu, maka aku mati-matian menyelamatkan mimpiku sendirian, Nar. Aku ingin terus belajar di tempat yang kuinginkan tapi kata mereka aku terlampau memaksakan, apakah belajar sudah diharamkan pula, Nar?”

Ia meracau lagi, sekali lagi, dan berulang terus menerus.

“Sebagai manusia golongan sedang yang kerap dilupa peradaban, kukira aku juga butuh dibantu, Nar. Apa mereka tidak sadar atau aku yang tidak kelihatan?” 

Angin kota sore itu tidak seperti biasa, entah kenapa ia juga terasa lebih menyedihkan. Barangkali angin turut berduka cita atas apa yang menimpa manusia-manusia malang yang hampir menyerah atas kehidupan, utamanya si golongan sedang ini. Maka aku membenci angin kota sore itu.

“Nar, sebagai manusia golongan sedang mungkin aku masih mampu mengusahakan kebutuhan tersier seperti membeli pendidikan yang hari ini tengah menjadi komoditas dagang utama dari bangsa kita sebab aku terlampau sangat membutuhkannya. Tapi semakin kujalani, entah mengapa aku mulai merasa kesulitan, kadang aku justru merasa bukan kesulitan melainkan dipersulit.” Perempuan itu benar-benar menangis sekarang. Bahunya naik turun, suaranya parau dan mulai tidak jelas, bahkan suaranya tidak lebih jelas dari burung kenari pagi hari. Melihatnya seperti ini, sekali lagi aku membenci manusia golongan sedang, mereka menyedihkan. Orang-orang di halte mungkin saja mulai mengutukku dalam hatinya sebab tidak berusaha menenangkan Delilah yang tengah menangis keras. Sebenarnya perihal isi hati orang lain ini ingin sekali kutanyakan pada Delilah sebab mungkin saja tebakanku benar bahwa ia memiliki kekuatan ajaib mampu membaca isi hati orang, tapi kurasa bertanya hal konyol pada orang sedih itu tidak manusiawi. Ah sudahlah, orang-orang itu saja yang tidak mampu mengenal golongan manusia sedang. Andai mereka tahu, aku berani menjamin seratus persen bahwa mereka juga akan menjauhi golongan itu. Sejujurnya aku ingin menjauh dari Delilah, sebab beberapa hal dalam hidup ini mudah sekali menular. Aku tidak mau tertular menjadi golongan manusia sedang tapi kurasa itu semakin tampak tak manusiawi jika meninggalkannya sendirian. Maka kubiarkan saja dia mengoceh tidak jelas, paling nanti kalau haus akan berhenti.  

“Dunia selalu mengutukku, Nar. Ketika aku mampu membeli barang tersier dan hidup sedikit lebih mewah walau dengan terpaksa dan mati-matian berusaha, langsung dikatakan bahwa bagaimana bisa orang sepertiku layak mendapat bantuan. Sama halnya dengan mereka, awalnya kupikir diriku cukup mampu dan aku jadi merasa bersalah sebab bisa belajar di perguruan tinggi tapi mengharapkan bantuan. Namun lambat laun aku menyadari jikalau aku tak cukup mampu dan aku butuh bantuan, walau sebenarnya di dalam otakku telah tertanam bahwa sebuah dosa besar menerima bantuan sebagai manusia golongan sedang. Lantas apa aku pantas dibiarkan, Nar?” Bagiku ia pantas dibiarkan, maka dari itu sedari tadi ia kubiarkan. Sejujurnya aku bingung menanggapi pertanyaan-pertanyaan Delilah yang panjangnya bahkan melebihi rangkaian gerbong kereta api Jakarta-Surabaya yang berangkatnya pagi buta. 

“Bagi manusia golongan sedang, manusia lain harusnya tahu bahwa keputusan untuk membeli barang tersier juga tidak mudah. Kalau saja aku tidak butuh sekali, mending kugunakan untuk membeli nasi uduk di depan sekolah kita dulu, Nar. Seharusnya sebagai manusia normal dan bijaksana walau dari golongan sedang, bukankah yang paling benar adalah membeli makan dibanding membayar pendidikan tinggi? Kau ingat kan kata Bu Dewi, guru ekonomi kita? Beliau bilang makanan itu kebutuhan primer dan kebutuhan primer adalah hal yang paling utama dalam pemenuhannya. Menurutmu apa aku kurang bijaksana, Nar? atau Bu Dewi yang salah dan ketinggalan zaman?”

Semakin Delilah bertanya tampaknya semakin besar pula kebencianku terhadap golongan sedang. Selain menyedihkan, mereka juga tidak gampang menerima kenyataan. Aku mulai mengutuk bus nomor sepuluh yang tak kunjung datang, aku juga mulai mengutuk waktu yang berjalan pelan. Manusia lain bilang, kalau waktu terasa melambat mungkin kamu sedang tidak bahagia dan memang aku tidak bahagia berbicara dengan manusia golongan sedang ini. 

“Menurutmu siapa yang paling membutuhkan, aku yang butuh belajar agar menjadi manusia berkualitas walau aku dari golongan sedang lalu membantu memajukan bangsa ini, atau justru bangsa ini yang membutuhkanku? Tapi kurasa aku yang paling membutuhkan, karena jika bangsa ini yang membutuhkanku seharusnya mereka membantuku walau aku dari golongan sedang.”

Delilah ini sepertinya memiliki kotak pertanyaan yang entah sejak kapan ia pendam lalu ketika ada kesempatan dikeluarkan habis-habisan, sedari tadi ia terus bertanya pertanyaan yang bahkan diriku sendiri tak mengerti jawaban dan permasalahannya. Lihat, sekali lagi aku membenci manusia golongan sedang. Selain menyedihkan, tidak mudah menerima kenyataan, kini mereka terlalu banyak menyimpan pertanyaan. 

“Nar, menurutmu siapa yang gagal? Aku atau mereka?”

Tak jelas apa yang dimaksud manusia golongan sedang ini. Mereka siapa? Mereka yang mana? Aku tak mengerti maksudnya.

“Mbak mau naik bus nomor berapa?” Suara lain tiba-tiba datang di antara percakapan satu arah antara diriku dan Delilah yang sedari tadi seperti tiada ujungnya. Ingin sekali diriku berterimakasih kepada lelaki di sebelahku ini karena telah menghentikan percakapanku dengan Delilah si manusia golongan sedang. 

“Saya lihat Mbak dari tadi cuma berdiri diam di sini sambil ngelihatin kaca bus kota. Sopir-sopir bus tadi sangat marah karena Mbak tidak jelas mau masuk atau tidak. Yah, mbak tahu sendiri mereka ngga mau nunggu terlalu lama.”

Aku mulai sadar kalau sedari tadi aku tidak sedang duduk melainkan berdiri di pintu A halte kota, tapi perasaan tadi aku duduk bersebelahan dengan manusia menyebalkan. Aku benar-benar berterima kasih pada laki-laki itu, selain karena menghentikan percakapanku dengan perempuan golongan sedang yang seperti akan lahir ribuan episode baru, tapi juga karena menyadarkanku dari kebodohan berdiri di pintu halte. Namun setelah aku mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu, perempuan golongan sedang justru menghilang, ia malah meninggalkanku dengan ribuan pertanyaan, dasar orang tidak waras! Aku benci orang golongan sedang. 

*****

Editor: Moch Aldy MA

Indah Tri Wahyuningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email