Akhirnya apa yang saya nanti-nanti tiba juga. Silampukau yang kini menjadi Orkes Silampukau, mengeluarkan album terbarunya: “Stambul Arkipelagia Vol 1”. Setelah penantian panjang sejak album “Dosa, Kota, & Kenangan” (2015). Artinya, ada jeda waktu 10 tahun penantian.
Saya mulai mengenal Silampukau dari album “Dosa, Kota & Kenangan”. Saya suka semua lagu di album ini. Semua elemennya lengkap. Musik folknya benar-benar gurih, nikmat terdengar di telinga. Sesekali terdengar seperti lagu-lagu Iwan Fals. Belum lagi lirik-lirik sederhananya yang puitis. Dari tema balada harian pekerja, lapangan bola yang tergusur, keresahan penjual miras, impian naif musisi hingga sejoli yang dipisahkan oleh jarak negara.
Lirik-liriknya juga pertanda band ini tidak membuat lagu sembarangan. Semua diracik dengan apik, dengan keresahan yang dekat dengan orang kebanyakan dan modal pengetahuan sastrawi yang mumpuni.
Album ini pun memperkenalkan saya dengan album mini Sementara Ini. Saat itu, lagu Hey! dalam album itu benar-benar memukau saya. Lagu dengan tema ‘coming of age’ terbaik yang pernah saya dengar. Maka tak ada alasan lagi untuk tidak menjadi pendengar setia band folk ini.
Lantas, bagaimana dengan Stambul Arkipelagia Vol 1?
Sejujurnya, saat membaca selayang pandang album ini, saya sudah menduga isinya pasti lagu-lagu yang dikerjakan dengan semangat musikalitas tinggi. Bahkan, judulnya sudah menunjukkan itu. Tidak seperti “Dosa, Kota & Kenangan” yang lebih realis, lugas dan mengambil latar Surabaya, album terbaru ini memilih pendekatan yang alegoris. Mereka mencoba memakai ‘negara-bangsa bernama Arkipelagia’ sebagai jalan masuk untuk menyuarakan kegelisahan warga. Sebuah negeri distopia yang bisa dengan mudah kita tebak negara manakah itu…
Saya langsung mendengarkan seluruh lagunya saat baru rilis pekan lalu. Saya mendengar semua tracknya. Awalnya, terdengar agak ganjil. Saya bertanya-tanya apakah ini Silampukau yang saya kenal dulu?
Namun, perlahan-lahan, saya menikmati musik dan lirik yang eksperimental ini. Musiknya magis. Nuansanya surealis. Liriknya canggih–untuk tidak mengatakannya sophisticated.
Misalnya, untuk lagu Jurang Kemiskinan 1 (Dodoi), saya awalnya mengira akan mendengar lagu dengan lirik bernuansa Melayu. Namun, yang saya dengar adalah lirik dengan diksi berbau ekopol (ekonomi-politik) yang sesekali diimbuhi diksi biologi:
Ai, ya, sayang,
beginilah nasib bonus demografi:
Nirdaya kala diperdaya negara;
pakan infernal invertebrata neraka.
Nirsuara kala dirudapaksa negara;
“Korban kolateral,” sabda Kadal Asia.
Ketika mendengar “Kadal Asia“, saya mencoba menebak-nebak apakah ini olok-olok untuk “Kadal Gurun” yang menjadi diksi para buzzer politik? Tentu ini hanya tafsir saya sendiri.
Di bait selanjutnya juga sama. Untungnya, artikulasi sang vokalis, Kharis Junandharu cukup pas.
Ai, ya, sial,
beginilah nasib buih-buih statistika:
Nirdaya kala diperdaya negara;
pakan infernal invertebrata neraka.
Nirsuara kala dirudapaksa negara;
korban kolateral Saga Khatulistiwa.
Tapi bagi saya, lirik-lirik ini benar-benar menampar kita, warga sipil yang setiap hari mengalami kekerasan negara. Baik kekerasan fisik maupun simbolik. Kita ‘dirudapaksa negara’ setiap hari. Meski sepertinya liriknya agak ‘alot’ jika harus dicerna oleh mereka yang benar-benar terjerembab di jurang kemiskinan.
Selanjutnya saya beralih ke Sejauh ‘Ku Memandang (Paceklik Blues). Saya suka sekali dengan ini. Liriknya jauh lebih sederhana. Musiknya yang bertempo cepat, dengan sesekali kemunculan suara Eki Tresnowening, lagu ini terasa begitu menghentak. Kegelisahan rakyat tentang masalah pangan yang diterjang krisis iklim dan diabaikan negara, terwujudkan dalam lagu blues yang asyik. Kita seolah tetap disadarkan bahwa paceklik panjang–di bawah hegemoni foodestate–tetap menghantui kita.
Padi hampa tiada tinggi September ini,
bara cuaca memanggang segalanya:
ladang gemersang sejauh ‘ku memandang.
Kemarau t’lah menang, paceklik datang, paceklik panjang.
Dan padi mati penuh ironi Januari ini,
murka cuaca merendam segalanya:
Lirik ini gambaran sebuah negeri yang telah lama mengalami kemarau–yang bisa diartikan juga kemarau keadilan. “Paceklik datang, paceklik panjang” sekaligus menjadi alarm soal paceklik yang mencekik leher-leher rakyat.
Lagu selanjutnya adalah Sejoli. Lagu ini mengangkat tema seperti lagu Telat 3 Bulan dari Jamrud. Namun tentu saja, isinya lebih politis. Sejoli yang terdiri dari Bobby dan Erika ini digambarkan gelisah ketika mereka hendak memiliki anak dan kondisi negeri begitu ngeri, berada di ambang tirani:
… Amboi, garis dua!
Gesit betul berenangnya!
Amboi, nasib apa
yang sembunyi menantinya,
di neg’ri sengeri hari-hari ini,
di ambang tirani?
Ungkapan “Gesit betul berenangnya!” bisa dengan mudah kita tafsirkan sebagai gerak lincah sperma yang menemui sel telurnya. Lirik ini jelas membuat kesan lagunya begitu intim. Kesan personal yang politis. Suara Kharis pun begitu masuk untuk mengartikulasikan lagunya. Musiknya pun persis lagu Kertarajasa dari almarhum Djaduk Ferianto di film Sherina. Maka mudah bagi saya untuk klop dengan musiknya.
Akhirul kalam, begitulah kira-kira ulasan pendek saya tentang album terbaru Orkes Silampukau ini. Ini hanyalah kesan-kesan tipis dari pendengar setianya, yang belakangan ini ikut merasakan nestapa warga Arkipelagia. Atau jangan-jangan, saya adalah bagian dari warga Arkipelagia?
Sebentar, saya cek KTP saya dulu. (*)
Editor: Kukuh Basuki
