Sudahkah Kau Berterima Kasih kepada Pohon-Pohon?

Lommie Ephing

1 min read

Buat apa kau berterima kasih kepada Pemerentah? Memangnya apa yang sudah Pemerentah berikan kepadamu selama ini? Popularitas? Uang? Jabatan? Atau Kekuasaan?

Apa?! Buset, kau berterima kasih lantaran anakmu dikasi makan gretong di sekolah? Memangnya selama ini kamu tidak mampu memberi makan anak-anakmu, hah? Percuma dong selama ini kamu pontang-panting kerja banting tulang siang-malam, tapi tidak mampu memberi makan anak-anakmu.

Oh, maksudmu, makan gretongan di sekolah sedikit banyak meringankan bebanmu sebagai orangtua? Begitu?! Astaga, kamu jangan tolol. Justru apa yang diberikan Pemerentah pada anak-anakmu lewat program makan gretong itu sesungguhnya hanya secuil dari keuntungan yang nantinya bisa diraup tikus-tikusnya. Program itu lahan basah, cuy! Kau paham kan maksud lahan basah di sini? Masa kau tidak paham. Yup, betul, tul, tul. Duit! Isinya duit triliunan. Dan sialnya, semua itu rawan dikorupsi.

Sekarang, coba jawab pertanyaanku. Lebih berfaedah mana antara makan gretong sama pendidikan gretong? Hahaha, betul kan? Anak-anakmu butuh pendidikan dengan gedung dan fasilitasnya yang layak. Lagipula, bisa-bisanya kau percaya pada mulut Pemerentah. Jangan kira waktu dulu, di masa kampanye, mereka bersama rombongannya datang mengetuk pintu rumahmu ketika dini hari, lantas memberimu sumbangan beras, telur, dan minyak goreng karena murni rasa solidaritas. Tentu tidak. Kamu jangan naif. Kamu lupa, Pemerentah sekarang, mulai dari yang paling tinggi hingga turunannya yang paling bawah, tak ada bedanya dengan para pembuat konten yang kerap menjual kemiskinan orang-orang di sekitarnya. Bisa dipastikan hampir-hampir selalu ada kamera yang siap merekam momen bagi-bagi sembako yang mereka lakukan. Dan jika tiba saatnya hari berganti nama, sudah barang tentu rupa kemiskinanmu yang melarat itu bakal tersebar lewat kanal-kanal media sosial berakhiran dotgodotidiot. Orang-orang Pemerentah itu hanya turun ke jalan jika ada kepentingan. Kalau pas ada maunya saja. Jika bukan karena butuh suaramu, mana sudi mereka panas-panasan turun ke jalan, blusukan di gang-gang tikus, hingga masuk gorong-gorong demi pencitraan semata.

Kuberitahu, Pemerentah di negeri ini isinya cuma orang-orang kotor. Bukan cuma mulutnya saja yang kotor, otaknya juga sama kotornya. Di awal-awal saja mereka merakyat, sok gembar-gembor bakal membela rakyat kecil. Tapi apa yang mereka lakukan setelah menjabat; rakyat kecil malah digusur, diperlakukan semena-mena. Walhasil, orang kaya makin kaya. Orang miskin seperti kita makin melarat. Jadi, tak perlu kau berterima kasih pada Pemerentah segala, cuy! Negara tidak pernah hadir buat rakyat miskin seperti kita, paham!

Jangan kaukira blio yang tempo hari berdiri paling gagah di podium sambil berorasi ingin melawan dan memberantas koruptor itu benar-benar bakal dibuktikan. Halah! Itu cuma omon-omon. Basi. Tidak usah percaya.

Tinimbang berterima kasih kepada Pemerentah, mendingan kau berterima kasih pada pohon-pohon. Mereka lebih berjasa daripada Pemerentah. Justru pohon-pohon itulah yang membuatmu bisa terus bernapas sampai detik ini. Tanpa kausadari, pohon-pohon tanpa henti memberi apa yang sungguh-sungguh kaubutuhkan—oksigen yang bersih. Pohon-pohon menyerap karbondioksida dan menggantinya dengan O2 buatmu, buat anak-anakmu. Mereka melindungimu dari terik matahari. Meredam kebisingan knalpot suara motor racing yang seringkali bikin sakit kuping, dan malah berbaik hati menggantinya dengan nyanyian merdu lewat suara kicauan burung-burung yang hinggap di dahannya yang kukuh. Jika kamu beruntung, kamu bisa menyaksikan konser mini burung-burung itu menari riang gembira di taman-taman kota—dan itu gratis, tanpa butuh calo tiket atau begadang semalam suntuk demi perang tiket. Oh, terkutuklah semua orang-orang di Pemerentah yang tega menebang pohon-pohon dan menggunduli hutan.

Jadi, sudahkah kau berterima kasih pada pohon-pohon?

*****

Editor: Moch Aldy MA

Lommie Ephing

One Reply to “Sudahkah Kau Berterima Kasih kepada Pohon-Pohon?”

  1. Pohon pun tidak memberimu sesuatu secara cuma-cuma. Pohon memberimu oksigen, buah, dan hal-hal lain agar kamu berkembang biak dan bertambah banyak. Setelah hidupmu usai, mereka akan menghisap jasadmu dan menjadikannya pupuk agar mereka bisa tumbuh dan hidup lebih lama lagi.

Leave a Reply to Yas Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email