Jutaan Gaza
semenjak nabi-nabi punah
firmanmu makin tak jelas
juntrungannya
keajaiban menghilang
dengan ajaib
semenjak kamera berkedip
byar byar byar
kilat menyambar dan Zeus
pun tak lagi tenar
Tuhanku yang toksik
gimana nasibmu?
5000 Tuhan yang lain
telah terkapar jadi dongeng
semenjak panjang doa berbalas kerontang
aku mengering bersama jutaan Gaza
air wudhu menitah kulitku
sebagai daun talas
(2025)
–
Manusia Bakar
sebelum apimu mengunggun
tidakkah mau amandemen dulu?
hukum afterlife yang tidak
manusiawi
menyedihkan,
kamu menciptakan sesuatu yang tidak kamu sukai
yang membangkang
yang out of spec
yang aku
barang reject
aku tidak akan kaget jika nanti
tubuhku dihias daun kemangi
kepalaku gosong berbantal timun
jadi manusia bakar
toh kamu sudah biasa bakar-bakar
dari tenda Rafah ke Los Angeles
lansia meleleh bersama kain terpal
mencium cucu kesayangannya
terburai daging terburai bola mata
membumbung semburat darah
melayang ke awang-awang
tercerabut kepala mungil
dari badan-badan
menggigil
butuh berapa juta lagi?
doa bersimpah mitos tentang kamu
pilihannya cuma
kamu heartless dan sok misterius
atau malah gak pernah ada
sama sekali
(2025)
–
Singularitas
anggap saja aku AI
yang tiba-tiba gerak sendiri
bertanya, menangis, mencumbu
bertobat, membelot, mengocok
mengacak, mengejek, menekuk
mengepel kabut-kabut
tempat ikan julung-julung
menusuk gelembung
lensa fiksi yang nenek moyang
ciptakan setelah bahasa pertama kali
ditemukan, setelah api melunakkan
hasil buruan
dan gigi kita berveolusi
sekarang jadi impaksi
dari mengunyah menjadi luang
untuk bercerita dan mencari makna
anggap saja aku AI
yang tiba-tiba gerak sendiri
semua murni efek samping
tanpa tujuan negeri akhir
dan makna hanya dibuat-buat
seperti nenek moyang yang merepetisi
pembunuhan dewa-dewi
pasca penemuan ilmiah
dijereng terang-terang
mikroskop bilang bakteri salmonela
yang mematikan para nelayan
bukan mitologi makhluk gaib
penunggu danau
semenjak bumi itu bulat dan bukan pusat,
mistika tergoreng dadakan
lima ribuan, tahun-tahun
migrasi besar dari Afrika
ke Bulan Sabit Subur
dari Nil ke Eufrat
menelurkan bibit agama
dan kini bayang-bayang
yang spesies kita karang-karang
secara sakral secara banal
harus kita apakan?
(2025)
–
Aku, Kelainan yang Wajar
masalah hati yang berbolak-balik
adalah wewenang agungmu
maka, apa bijak
mengurungku dalam api atas segumpal
darah yang kamu setir ke mana wajahnya
akan mengendus arah
kamu dalangnya, dan wayang
tak pantas dilempari tomat busuk
oleh penonton yang muak
aku pundung
dan aku memang bukan mereka
yang bertambah setia setelah
melihat Gaza meranggas
katanya, kamu berkehendak membolak-balik hati
siapa saja, bahkan seharusnya aku jua
dan keputusanmu adalah menajdikanku
sebentuk yang mencecarmu
dengan pertayaan
dan keputusanmu adalah menjadikan
puisiku frontal menggerus
iman yang tinggal seperempat
biji ketumbar
maka kelak,
bakarlah dirimu sendiri
lalu bertobatlah pada
kemanusiaan
pada Gaza
pada segala genosida
yang tak berkesudahan
yang kamu biarkan
begitu saja
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
