Ada semacam ritual tahunan di negeri ini yang lebih rutin dari mudik lebaran. Begitu bencana datang, pejabat buru-buru turun ke lokasi pakai rompi oranye. Kamera berderet, konferensi pers digelar, janji bantuan diumumkan. Setelah itu, semuanya menguap begitu saja. Rapat dilanjut, proyek jalan terus, dan kita kembali pada rutinitas lama, menunggu bencana berikutnya datang supaya drama yang sama bisa diputar ulang.
Begitulah siklusnya. Tak pernah benar-benar putus, tak pernah benar-benar berubah.
Dan Simonet, sebuah dukuh kecil di Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Pekalongan, adalah salah satu korban paling nyata dari siklus lupa yang kita pelihara turun-temurun ini.
Dua puluh tahun lalu, tahun 2005, abrasi parah mulai menggerogoti Simonet. Rumah-rumah yang dulu berdiri di tanah subur kini berganti hamparan air asin. Pemukiman yang dulunya berjarak setengah kilometer dari pantai, sekarang sudah menyatu dengan laut.
Baca juga:
Anda tidak salah baca. Sebuah dusun lengkap dengan sekolah, kebun, dan tempat ibadah benar-benar hilang dari peta Republik ini. Bukan karena letusan gunung atau gempa, tapi karena kita semua terlalu lama pura-pura menutup mata.
Dari Melati Harum ke Genangan Air Asin
Tahun 2005, Simonet masih “hidup”. Sekitar 180 kepala keluarga tinggal di sana. Mereka menanam melati, mengelola tambak, dan melaut setiap pagi. Jalan beraspal mulus menghubungkan Simonet dengan desa-desa sekitarnya. Anak-anak berangkat sekolah, para ibu menjemur bunga di halaman, sementara udara pagi menyeret aroma melati bercampur asin laut.
Semua berjalan biasa saja. Sampai laut… mulai menagih sesuatu yang selama ini kita abaikan.
Gelombang pertama datang tanpa permisi. Air laut naik pelan, lalu semakin tinggi setiap tahun. Jalan aspal yang dulu jadi urat nadi desa putus termakan abrasi. Rumah-rumah yang dulu ramai mulai kosong. Dalam waktu singkat, Simonet kehilangan eksistensinya.
Dari daratan yang menyatu dengan Desa Semut, ia berubah menjadi pulau kecil yang terpisah dan terisolasi. Akses satu-satunya hanya lewat perahu dari Tempat Pelelangan Ikan Wonokerto. Bayangkan, kampung yang dulunya riuh dengan tawa anak-anak kini hanya dijawab desah ombak dan kesunyian.
Sedikit demi sedikit, warga Simonet angkat tangan. Kebun melati yang dulu harum kini terendam air asin. Tambak yang dulu jadi tumpuan hidup rusak total. Setiap kepala yang pergi membawa kepedihan yang sama: rumah yang dibangun dengan keringat sendiri, makam leluhur yang tak bisa dipindahkan, dan kenangan masa kecil yang kini tenggelam bersama seluruh harapan masa lampau.
Kini yang tersisa di Simonet hanyalah bangunan setengah roboh dikelilingi air asin. Sunyi. Kadang hanya perahu nelayan yang lewat dari jauh, seperti pengingat bahwa dulu, di situ, pernah ada riuh rendah kehidupan sekelompok orang.
2020: Pukulan Kedua yang Mengakhiri Segalanya
Dua dekade berlalu dan harapan untuk Simonet tak pernah benar-benar tumbuh lagi. Tahun 2020, abrasi datang lagi. Lebih parah, lebih ganas. Dari 265 warga di dua RT, hanya sembilan keluarga yang masih bertahan. Mereka percaya laut akan berhenti suatu hari nanti.
Tapi laut, seperti waktu, tak pernah berhenti untuk siapa pun.
Akhirnya, mereka pun benar-benar menyerah. Simonet kosong melompong. Tak ada lagi manusia. Tak ada lagi bohlam 15 watt yang menyala di malam hari. Tak ada lagi bising jala diseret di subuh buta. Kini yang tersisa hanya bangkai bangunan yang dimakan lapuk, serta kesunyian yang hanya dipecah oleh deburan ombak pantai.
Baca juga:
Dusun itu kini hilang dari peta. Tamat sudah kisah sebuah komunitas yang pernah hidup, bekerja, dan saling sapa di tanah yang sekarang dipaksa jadi bagian Laut Jawa.
Puncak Gunung Es
Simonet bukan satu-satunya korban. Sedikitnya ada sepuluh desa di tiga kecamatan yang ikut terdampak banjir rob. Tapi Simonet paling parah, karena abrasi dan penurunan tanah datang beriringan.
Pesisir Pekalongan turun 4 sampai 11 sentimeter setiap tahun. Memang terdengar kecil, tapi kalau dikalikan dua dekade, hasilnya adalah satu dusun yang tenggelam. Kalau dibiarkan, bukan tak mungkin akan ada Simonet-Simonet lain yang hilang dari peradaban negeri kita.
Hal semacam ini sudah seharusnya jadi peringatan besar. Tapi seperti biasa, kita terlalu sibuk. Janji bantuan disiapkan, proyek tanggul dibicarakan, tapi realisasi entah di mana. Simonet hilang, dan yang tersisa hanya catatan rapat dan arsip berita lama.
Janji Manis Tak Mengenyangkan
Dua puluh tahun setelah abrasi pertama, seharusnya kita sudah belajar sesuatu. Simonet bukan sekadar cerita sedih di pesisir, tapi bukti telanjang bahwa krisis iklim itu nyata. Ia menghancurkan rumah, memaksa orang meninggalkan dusun, dan menenggelamkan sejarah perlahan-lahan.
Tapi pola yang sama terus terulang. Setiap bencana datang, pejabat datang, kamera datang, janji datang. Begitu kamera padam, semuanya hilang. Kata-kata seperti “turut prihatin” dan “sedang kami kaji” diucapkan seolah bisa menahan air laut yang makin tinggi. Padahal yang dibutuhkan warga bukan sebatas simpati, tapi tindakan nyata.
Bertindak atau Tenggelam
Pemerintah Kabupaten Pekalongan harus berhenti menunggu gelombang berikutnya datang. Yang dibutuhkan sekarang adalah sistem peringatan dini yang kuat, tanggul yang kokoh, sabuk mangrove yang luas, dan relokasi yang manusiawi. Relokasi bukan sekadar memindahkan orang, tapi memberi mereka kesempatan untuk memulai hidup baru dengan martabat.
Lebih dari itu, cara berpikir pembangunan pun harus berubah. Pembangunan yang menutup mata terhadap risiko iklim hanya sedang menyiapkan bencana berikutnya. Setiap kebijakan harus menjadikan adaptasi iklim sebagai dasar, bukan pelengkap.
Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan “tidak tahu” atau “anggaran belum ada”. Simonet sudah membayar harga terlalu mahal untuk kebodohan kolektif semacam itu.
Kalau tidak ada yang berubah, kita akan terus menyaksikan siklus yang sama: bencana datang, janji diucapkan, lalu lupa. Dan kita hanya bisa menatap laut sambil menghitung berapa kampung lagi yang akan hilang dari peta.
Dua puluh tahun sudah berlalu sejak abrasi pertama menghantam Simonet. Ratusan keluarga kehilangan kampung halaman, dan sebuah dusun benar-benar lenyap. Pertanyaannya sekarang, berapa banyak lagi yang harus tenggelam sebelum kita sadar bahwa waktu kita nyaris habis?
Simonet seharusnya menjadi peringatan terakhir, bukan pembuka dari tragedi-tragedi berikutnya. Masa depan pesisir Pekalongan ada di tangan kita, dan waktu untuk bertindak bukan besok, bukan tahun depan, tapi… hari ini. (*)
Editor: Kukuh Basuki
