silaturahmi ke dalam dirimu
silaturahmi ke dalam dirimu. waktu itu, petang itu, hujan berlabuh dari tempat yang jauh, jauh. kau bertanya tentang dirimu. siapa aku. siapa aku. kau menjawab pertanyaanmu. selembar kertas. setumpuk buku. pikiran-pikiran liar yang kau coba rangkum. menumpuk. memupuk. masa depan. masa lalu. masa baru. masalahmu. kalender baru. video-video berputar di kepalamu. foto-foto bergetar di ingatanmu. kau: bioskop paling sibuk di hari minggu. antrian memanjang. menyaksikan dirimu sendiri. dari waktu ke waktu, alur ke alur, pintu ke pintu, pengalaman – pengetahuan – perasaan – pengharapan – perkiraan. melihatmu sekali lagi. memahamimu. kau: lagu-lagu bawah sadarmu. laut biru. ikan kecil. paus biru. kupu-kupu. perahu kertas. kunang-kunang. surat rindu. saxophone. piano. burung. siluet. pecah batu. tahun baru. rabu, & hal-hal sepintas lalu. kau: monumen tua yang rapuh. remuk. luka. tumbuh. pernah. patah. pecah. keju. kanvas. bunga. pisau. perban. semangat. doa. ibu. kau: pulau-pulau tak bernama, asing, dan jauh di pedalaman
(2025)
–
aku ulangi lagi kenyataan ini
aku ulangi lagi kenyataan ini. kenyataan di mana aku takut mengulanginya lagi. aku lewati lorong gelap, menyelinap ke tempat kelam, mengawasi suasana rawan, & segala hal tak terduga
aku takut ulangi lagi kenyataan ini. rasa takut & mata maut seperti mengintai & meminta menumbalkan tetes darahku. ia seperti usia yang diam-diam melemahkan
carpe diem. aku seperti terkepung di sebuah taman tak berujung & ketika mawar terakhir mulai layu. pada kelopak yang tersisa, aku ingin menghirupnya lagi & lagi, sebelum aku mulai mati, sebelum aku ikut mati, sebelum aku divonis mati, sebelum aku dipaksa mati…
(2024)
–
burung
hujan menatapku, tiang menatapku, menggambarkan risalah panjang tentang asal-usul. pohon menahan deru dengan tangan yang terpukul
atap rumah, bola lampu, & burung yang takut – kita jarang tanyakan di mana alamatnya setelah rumah yang ia susun ditebang atau tercerabut – basah
hujan menatapku, burung menatapku, tak sengaja, mungkin dia memikirkan sesuatu, atau risau, atau mungkin sedang menunggu angin berlalu dari rumahnya yang tak berpintu
(2024)
–
gambar
seperti kukenal gambar itu. rumah kuno, bunga taman, kumis muda, & rambut ikal. tapi tak lagi kukenal suaranya, bau tubuhnya
bertahun-tahun, waktu yang lama untuk berjarak. mungkin juga sebentar daripada seumur hidup tak mengenalnya
seperti tak ingin kukenal gambar itu. tapi tak mungkin tak mengenalnya. apakah mungkin melupakannya, apakah mungkin ia melupakannya
seperti kukenal gambar itu. lamat-lamat, ada yang hilang di antara peristiwa
ingatan seorang anak…
(2024)
–
melati
berapa kali kukirimkan melati kepadamu? melati putih yang hampir mati di hutan gersang. kau selalu menampakkan bunga lili yang memikat di matamu, mata yang berjendela manis itu
ada selusin musim dalam diriku, tapi juga serigala. mungkin juga rantai makanan yang saling hakim-menghakimi. ada yang menghardik dalam setiap mimpi burukku. tapi kau datang sebagai penyelamat & bintang jatuh
– menjadi wakil matahari
(2024)
*****
Editor: Moch Aldy MA
