morally bankrupt woman who can't even call herself a feminist

Serenada Langit

Sofiana Martha

10 min read

“Kijang yang tadi ada di mana? Apa kau memindahkannya? Sudah kubilang, jangan! Ah, Jati, kau cuma seonggok pria yang suka bikin repot!”

Suasana hari itu jelas terasa sepi. Tidak memungkiri, Hoogere Burgerschool di Yogyakarta yang dihadiri oleh beberapa siswa pilihan itu memang sedang libur. Iya, itu sengaja diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk penghormatan kepada kedudukan Jepang di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Jati hanya terdiam. Menatap selintas papan informasi, tetapi tiada mendapati hal bagus di sana. Hanya ada beberapa kertas pengumuman tentang peringkat. Seketika ia mendapati namanya di bagian atas, mengangguk-angguklah kepalanya, itu bukan perkara yang istimewa. Lebih kepada keberpihakan pada dirinya sendiri untuk mencari informasi baru, tetapi lagi-lagi nihil, tidak ada lagi yang menarik, kecuali nama dirinya sendiri.

“Kau hendak ke mana?” Kael memanggilnya dari jauh. Ia sedikit terseok-seok, topinya hendak kabur saking kencangnya ia berlari. Warna rambutnya yang sedikit kemerahan membuatnya menawan terbias cahaya pagi. Dia berusaha melepas topinya sembari berjalan dan itu membuatnya bagai pegawai Keraton yang memakai jas ala orang Eropa. Pria itu selalu modis. Ditambah warna lensa matanya yang abu-abu membuatnya seakan terpinggirkan dari pribumi.

“Mencari seseorang. Katanya anak baru pindahan dari Jepang. Kau harus menghubungi Guru Abraham untuk rombak jadwal. Siap-siap kena banting. Kalau sudah begini, yang repot bukan hanya kau. Keseluruhan isi dari kelasmu yang baik hati juga jadi kena imbasnya.”

Jati tidak menggubris. Bergerak untuk membersihkan kemeja putih berbenik cokelat, juga celana panjang hitam yang dipakai. Blangkon di kepala pun tidak luput untuk ditepuk sedemikian rupa untuk mengusir banyaknya kapur yang menempel setelah dia mengajar anak-anak panti asuhan.

“Kau bicara apa? Kata Sensei, dia bisa bahasa kita. Ayahnya sudah lama tinggal di sini. Pria itu teman ayahku. Tapi, kenapa juga kau mengikutiku? Pekerjaanmu sudah selesai? Kalau kau cuma kebanyakan omong, apa bedamu dengan induk ayam?”

“Yang mana? Menyalurkan tulisanmu ke koran? Sudah. Menurut mereka, untuk seukuran bocah biasa, tulisanmu terlampau bagus. Kau tentu paham bajingan-bajingan itu lagaknya hanya bertumpu pada kompas berduit. Jadi, jika mereka mengatakannya secara tidak sadar, kau memang pantas dikata demikian. Menulislah sebanyak mungkin. Suatu saat nanti, hanya tulisan itulah yang akan menolongmu tanpa pamrih.” Kael menjawab dengan riang. Pemuda itu memasang wajah begitu karena merasa jumawa.

Jati melirik, lalu tersenyum kecil. Kael bukan seperti dugaan banyak orang. Pria itu berlensakan abu-abu sedari lahir, tetapi seandainya dia bisa, mungkin ia akan mengubahnya menjadi cokelat atau hitam. Tidak masalah kalau hidupnya hanya untuk bertani atau beternak. Merasa diakui sebagai kekasih pribumi, baginya, itu butuh sebuah pengorbanan tersendiri. Dari zaman ke zaman, keinginannya tetap sama. Untuk bisa berseragam sederhana.

“Lebih baik kau segera pulang, Leswara.”

Jati memberhentikan langkah. Menatap Kael (yang ia panggil Leswara di beberapa waktu), kemudian menepuk kedua bahu itu. Lensa abu-abu itu selalu membuatnya tercengang dan merasa kagum. Pria di depannya ini sudah mendeklarasikan dirinya untuk menjadi sahabat sejak kaki-kaki mereka belum bisa merangkak. Beruntungnya saat itu di mana kejahiliahan manusia belum terasa sekejam rimba. Semakin pandai diri, semakin sedih hati. Seandainya Shakespeare itu orang pribumi, dia tidak bisa menulis cerita romantis karena yang dilihatnya hanya bedil-bedilan semata.

“Jangan terpana, ya! Pesanku cuma itu. Tulisanmu nantinya tidak usah kau pikirkan. Kendati pun bumi kita terasa di ujung tanduk, semua hal akan baik-baik saja. Omong-omong, namanya Miyano kalau tidak salah. Urus saja perkara hatimu nantinya yang suka berdebar lihat yang menarik hati, apalagi lihat yang cantik? Lebih baik mati, bukan?”

Itu perkataan terakhir Kael yang jail sebelum menukar topi keduanya. Berjalan menjauh dari Jati yang masih berdiri di koridor panjang bernuansa putih. Pria itu memang mengagumkan. Ada masa di mana semua perkataannya tentang masa depan bumi ini menjadi kenyataan sedikit demi sedikit. Termasuk pengucapannya yang buruk soal banjir yang melanda Yogyakarta itu disebabkan nederlander yang masih saja buang hajat sembarangan di bumi sakral seperti Gunung Merapi atau warung makan Nyai Gendis.

Jati terdiam. Mengusak topi di kepalanya, lalu ia lepas dan pandangi dengan begitu rupa. Wahai bumi, entah apa maksud yang kau sebut di berbagai kitab suci. Persoalan soal manusia yang ditata hidupnya sesuai baju dan coreng-moreng kulitnya itu seharusnya sudah sampai batas. Harusnya kesadaran soal manusia-manusia kulit putih itu hendaknya ditampar sampai mereka berubah merah dan berdarah. Para bajingan itu tidak tahu malu dengan standarisasi dan hierarki yang mereka buat sendiri. Para anjing sialan itu, yang terus-terusan menggonggong tanpa henti.

Kendatipun sudah diperingati, sepertinya kokleanya hancur sampai otaknya tidak becus untuk berproses. Wasesajati ternyata sempurna tidak mendengarkan peringatan Kartaleswara. Persetan soal ia, ini sekarang tentang murid baru. Seseorang terlihat di salah satu kelas kosong ujung koridor. Jati sudah lupa apakah ini sebuah kelas atau mungkin ruang Guru Abraham, si tukang pecut yang kurang ajar. Namun, apalah daya, dirinya justru tiba-tiba teringat pasal Ibunda yang suka berdongeng tentang para dewa dan dewi dari surgaloka. Apakah ini yang namanya keturunan Arjuna dari Madukara?

Entah harus disebut tampan atau cantik karena keduanya hanya beda tipis. Cantik itu tampan, tampan itu cantik. Garis serta kontur wajah tiada beda. Perbedaan keduanya hanya terletak dari apa yang ada di balik celana. Seharusnya digabungkan saja jadi satu makna daripada buang kata. Memangnya mau setebal apa kamus bahasa Indonesia suatu saat nanti jika bumi ini sudah bisa mencetak kamus sendiri? Ah, omong-omong, tentang si cantik ini, Jati memutuskan untuk menegurnya, “Kau seorang siswa?” 

Si cantik yang disapa itu kemudian menolehkan muka. Disinari cahaya matahari pagi yang menyelisik dari jendela berbahan jati dan berpelitur bak jelaga. Dia menatap Jati tanpa tahu malu sampai yang ditatap merasa ditelanjangi. Di balik bulu mata lentik yang luruh di pipi seputih gipsum itu, Jati hanya bisa berucap nama tuhannya beberapa kali.

“Kau seorang ketua kelas atau semacamnya?” 

“Kenapa bertanya begitu?”

“Karena aku masih lebih baik melihat blangkon, bukannya topi bundar di kepalamu.”

Barulah Jati paham. Dia melepas topi di kepalanya dan menempelkannya di dada, lalu berlaku layaknya seorang lelaki sejati. Mendorong saraf di otaknya untuk berproses dan memerintahkan kaki menuju si cantik itu. Astaga, tiap langkah yang diambil olehnya, tiap itu pula degup jantungnya melebihi euforia apa pun yang pernah dirasakannya. “Maaf, ini topi kepunyaan kawanku. Untuk sementara, tadi aku lengah dan dia menukarnya saat aku hendak kemari. Kau siswa pindahan dari Korea itu? Bahasa Indonesiamu lancar. Aku senang mendengarnya. Tidak kurasa, bahasa bumiku bisa sebegitu indah mengalun dari bibir orang asing yang berparas rupawan.”

“Aku berbahasa Indonesia bukan untukmu,” tegas si lawan bicara. Ia menggunakan pakaian serba putih yang seakan menyatu dengan kulitnya. Gusti, kulitnya seputih itu bagai tidak pernah disentuh mentari atau ditampar gulungan padi. Merah merona dengan apik di pipi yang gemuk seakan dipoles dengan tanaman pacar. Rambut hitamnya yang bak jelaga membuat Jati merasakan panas di kedua pipinya.

“Aku tahu. Kuharap kau tidak berusaha untuk mengusirku. Kau … Miyano? Aku dengar namamu dari temanku. Kebetulan, aku belum pernah kujejakkan kaki di dataran Korea, Cina, atau bahkan Jepang yang sekarang menjajah bumi ini. Mereka apa bedanya aku pun tidak tahu. Namun, dari orang-orang yang kulihat datang dari sana, tidak ada yang sepertimu.”

“Kukira, kau harusnya cermat dengan kata-katamu persoalan manusia yang berbeda coreng. Kau siswa pilihan dan kau punya kepemilikan soal harga diri itu.”

Jati menarik senyum, masih berdiri dan menatap si cantik yang ternyata punya dengan sejuta sarkas di mulutnya. “Kau seumuran denganku, bukan? Namaku Wasesajati. Maafkan aku kalau kesanku padamu buruk.”

“Bukan sesuatu yang merepotkan.”

“Kau siswa yang hendak mendaftar di sini?”

“Koreksi, sudah mendaftar.”

Keduanya kemungkinan tidak paham pasal skenario apa pula yang sedang direncanakan Semesta — menyangkut kepersoalan duniawi atau peri dengan busur panahnya. Hanya saja , menurut Miyano, dia jelas tidak paham bahwasanya Wasesajati adalah sosok itu. Sosok di balik penghormatannya kepada Semesta yang multivalen. Kelak, ia akan paham jikalau bumi ini memang tidak hanya berpusat pada kesengsaraannya, tapi banyak waktu yang membuatnya tersenyum meski sebatas mensyukuri hari-hari yang kelam. Ah, apa pula itu? Kelam hanyalah kata yang digunakan oleh orang-orang yang belum mencoba.

“Menurutmu, bagaimana posisi Jepang saat ini? Kalau menurut banyak teori dari radio dan surat kabar yang beredar, mereka tidak sehat lagi, bukan?”

Robert terdiam. Dia malas sekali jika sudah dibabat habis oleh Jati di kelas seperti ini. Jati tidak membiarkan sedikit pun waktunya untuk berpikir. Apa yang sebenarnya ada di pikirannya? Hendak membuatnya menjelekkan Jepang di depan guru mereka? 

“Iya, mereka tidak sehat lagi.” Suara halus itu memecah atmosfer ketegangan.

Terdengar dari penghujung. Si siswa pindahan menatap Jati tajam. “Kenapa juga kau menanyakan hal yang retoris? Kudengar kau pandai membaca. Tentu otakmu yang dibanggakan bumimu itu paham situasi dan kondisinya. Kau hendak menanyakan hal begitu kepada si totok tidak berakal ini? Di kelas pula?”

Seisi kelas sekarang menatap keduanya. Sama seperti keadaan sebelumnya, ketika Miyano duduk maka Jati berdiri. Jati akan selalu menatap Miyano dengan menunduk untuk melihat pipi molek di balik rambut depannya yang sedikit panjang. Dia mengulum senyum karena berhasil membuat si anak pindahan berbicara meski sedikit terlihat naik pitam.

“Retoris bagaimana? Aku memang sedang bertanya. Ketika Jepang tiba di sini sejak beberapa tahun lalu, sistem feodalisme bumiku tidak seketika runtuh. Seolah hanya berganti kulit, menjadi lebih busuk. Juga tidak ada sedikit pun dari kataku yang merujuk bahwa Robert itu totok. Kalau kau berkesimpulan seperti itu maka permasalahannya ada padamu sendiri. Cobalah bersikap lebih terbuka.”

“Lebih terbuka? Aku tidak paham, tapi yang jelas memang Jepang itu bajingan. Mungkin itu yang ingin kau dengar dari guru Jepangmu. Kau berlagak sombong dengan mengatakan bumiku lalu menunjuk dadamu serta mengatakan bumi mereka saat menunjuk si anak totok. Apa bedanya kau dengan orang-orang sialan itu? Mohon maaf atas perkataanku, Sensei. Kau boleh laporkan ini kepada ayahku.”

Jati menghela napas. Pandangan itu yang sedari awal ia dapatkan dari bola mata bak rembulan milik Miyano. Terkadang, ada rasa hendak menghadiahinya dengan surat di sebuah angpau. Atau kalau perlu, sisipkan Parangtritis dan seisinya agar ia bisa sedikit tersenyum. Jati merasa ada banyak masa di mana Pertiwi tidak pilih-pilih soal setiap makhluk yang berjalan di atasnya. Miyano harusnya paham bahwa Jati hanya menggodannya. Kenapa dia selalu terlihat seperti terbebankan terlalu banyak di punggung? 

“Miyano Kyokushin, asal kau tahu, aku juga tidak berani bicara sepatah kata pun kepada ayahmu.”

Seisi kelas mengangguk. Itulah kenapa tidak ada yang berani menyapa si anak pindahan. Siapa pula itu Gubernur Jenderal? Bukankah namanya saja sudah cukup untuk membuat orang-orang terkencing di celana karena takut dibedil?

“Kau ada di sini rupanya?”

Miyano menoleh. Suara derap langkah seseorang dengan alas kaki berbahan kayu itu sedikit banyak membuat pikirannya yang bercabang kembali pada sentranya. Pria itu yang tadi dia ajak debat dan membuat harinya pundung. Dia berpakaian layaknya seorang pribumi asli dan menyeringai jail. Astaga, siapa pria yang telah kau ajak bersilat lidah? Berani-beraninya dirimu mengajak kelahi pria yang kau segani? Setelah beberapa jam kau bertukar pandang dengan bola mata berwarna cokelat itu? Dasar tidak tahu diri! Di penghujung, kau pula yang menangis!

“Suasana kelas bagaimana?”

“Masalah yang ditimbulkan karena perkataanmu?” Jati masih tersenyum, ia menaruh kedua tangannya di belakang punggung. Menatap pohon beringin yang menutupi banyak matahari dari gedung utama dengan cat putih gading.

Miyano balas mengagguk perlahan.

“Tidak ada yang bereaksi berlebihan. Aku sudah hafal, rasanya sulit untuk mengusir mereka dari sini. Bajingan-bajingan lainnya pasti segera datang entah bagaimana caranya. Bisa saja menumpang kapal, atau naik teknologi baru seperti burung. Itu hanya masalah waktu. Nantinya, kau dan segala antek Jepangmu akan segera pulang. Macan berganti buaya. Buaya berganti ular.”

“Antek?” tanpa Jati sangka, nada bicara Miyano meninggi. Diiringi dengan kabut putih yang seakan menaungi kedua badan itu dari awan yang bergumpal dan merengut takut. Yogyakarta tiba-tiba terasa dingin tanpa alasan, padahal musim hujan juga belum bergulir. “Aku bukan antek-antek Jepang. Hanya karena aku datang bersamaan dengan si gubernur jenderal itu, bukan berarti aku hidup nyaman. Kau tidak mengenalku.”

“Maaf, perkataanku sudah kelewatan.”

“Kau pandai bicara, tapi tidak pandai mengikat lidahmu. Kau tahu? Preliminer dari sebuah peperangan selalu berasal dari mulut. Untuk catatan tambahan, aku juga ingin segera pergi. Aku ingin segera pergi dari bumimu yang cantik ini. Kau itu tidak tahu apa-apa. Beraninya berkata asal dan menatapku lebih dari tiga detik.”

Jati benar-benar menurut, kali ini memang salahnya. Dia menunduk. Sekilas, saat melihat burung yang sibuk membuat sarang di sebuah dahan kokoh pohon beringin, wajah itu terlihat tersenyum dan bercahaya. Senyum itu saking mahalnya mungkin Jati rela mati. Senyum gula-gula yang tidak bisa dibeli oleh doa-doa panjang. Ataukah Tuhan bisa membelinya? Ketika Tuhan menciptakan semesta, apa Dia punya pilihan? Kalau begitu, tukarkan saja semesta ini dengan Miyano, si cantik perenggut hati.

“Kenapa kau masih di sini? Membolos bukan gayamu. Lebih baik kau segera masuk kelas. Sensei pasti kehilangan salah satu pembualnya.”

“Daripada itu,” Jati berujar lagi, tiba-tiba duduk di sebelah Miyano dan menyerahkan selembar kerta, “kau mau menemaniku menonton film? Aku tidak bisa masuk, tapi kau bisa. Aku mendapat ini dari ayahku. Beliau orang yang semaunya sendiri dan kerap menarik telingaku jika aku bicara pakai bahasa Belanda. Bagaimana? Kau bersedia?”

Dalam waktu sekitar ratusan detik, seolah jantungnya dihantam dengan palu godam bertubi-tubi. Keheningan yang awalnya menusuk, perlahan mulai terasa nyaman. 

“Kenapa aku?”

“Jangan tanya begitu karena aku tidak bisa menjawbanya. Kau pasti paham sekali jika aku dekat dengan Kartaleswara. Jangan tanyakan kenapa aku tidak mengajak si mata abu-abu itu dan justru mengajakmu. Aku ingin berkata bahwa aku takut kau akan menanyakan perkara itu. Mungkin karena aku belum pernah pergi ke tempat ini? Atau mungkin karena aku menginginkan berjalan berdua saja denganmu? Entahlah, Miyano. Berpura-puralah untuk tidak tahu jawabannya. Berpura-puralah dan temani aku.”

Mereka berdua tidak sempat untuk menafsirkan banyak hal. Tidak sempat pula mengganti rasa kesal yang mulai menghangat. Dalam kasus ini, Jati menyayangkan senyuman yang ia rela tukar dengan nyawanya itu. Sebab ia tidak sempat tertangkap retina dan dipotret untuk kemudian dipajang di sanubari. Dirinya memang terlalu pecundang hanya untuk mendengar jawabannya. 

“Katakan padaku, kau baru pernah mengikuti Sekaten?”

Suasana yang ramai tidak menyurutkan perasaan Wasesajati yang sedang berbunga-bunga. Beberapa jam sebelum bertemu dengan Miyano di halaman depan sekolah mereka, pria itu berulang kali membesuk rumah beberapa kawannya seperti Kartaleswara atau Banyuraksa. Keduanya mengeluh sebab si tamu itu justru mengorak-arik isi kabinet yang sudah wangi disemprot dengan air perasan jeruk.

Banyu sempat protes kepada Leswara, “Apa dia tidak peduli sama sekali pada hidup orang lain? Lihat semua ini! Siapa pula yang hendak merapikannya jika bukan aku sendiri? Dasar Putra Mahkota!”

“Kau bertanya begitu? Mana ada pria yang sedang jatuh cinta akan menghadirkan perasaan bersalah karena merecoki sekitarnya? Cinta itu mempunyai kesanggupan yang hebat. Dia bisa membuat binatang menjadi manusia dan manusia menjadi binatang.”

Begitulah kiranya sampai di akhir, Jati mendapati si pujaan hati sudah menunggu di halaman. Pada pukul tujuh malam, Miyano tidak berani menatap tangannya karena sekarang ia digamit oleh Jati. Entah apa maksudnya itu? Apa karena suasana yang dingin? Apa karena kondisi pasar yang ramai? Entahlah apa yang ada di kepala itu sebab ia tidak mau salah tafsir.

“Iya, ini pertama kalinya.”

Enggan untuk mendongak. Dia tersenyum sedikit karena olfaktorinya mencium bau perasan jeruk pada baju yang dipakai Jati. Jadi teringat perkataan Kartaleswara belum lama ini soal baju-baju tertentu yang hanya dipakai setahun sekali saat menghadiri kencan dengan para gadis Jawa yang manis.

“Kau tahu apa arti dari acara ini?”

“Apa kau akan mengolokku jika aku bilang tidak tahu?”

“Kenapa? Orang yang tidak tahu bukan berarti bodoh. Itu hanya masalah aksioma. Tentu saja jika kau bertanya padaku soal hal semudah Gunung Fuji, mungkin aku juga tidak tahu.”

“Tapi kau selalu berkata seolah aku bodoh.”

Jati tersenyum dan hendak tertawa tapi diurungkan. Wajah si manis itu sudah merengut dan mungkin dibutuhkan gulali sebagai penetralisir. Ia bersemangat sekali menarik tangan sang kekasih menuju kedai gulali yang sepi pengunjung. “Aku akan membelikanmu ini.”

Mana sempat Miyano mengangguk atau menggeleng saat genggaman itu kian mengerat. Sebenarnya, ia hendak berkata banyak hal seperti: dibanding jas yang sekarang melekat di badan pria itu, Miyano lebih suka setelan Jati biasanya yang lebih sederhana. Ia tidak ingin merusak hari itu. Di depannya, Jati sudah senang sekali memesan dua gulali besar-besar dan tertawa riang dengan sang penjual. Mana mau Miyano merusak senyumnya? Di waktu singkat yang dicurinya dari kejamnya keadaan, mana mau ia merusaknya?

“Sekaten itu dari bahasa Arab yang maknanya baik. Diambil dari berbagai kalimat seperti syahadatain, saat kita berucap untuk mengagungkan nama Tuhan dengan dua kalimat. Sahutain itu menghindari sifat lacur dan menyeleweng. Sakhatain itu menghilangkan watak hewan dan sifat setan. Sakhotain bermakna bahwa kita sebagai manusia harus berbudi luhur dan menghamba pada Tuhan Yang Esa. Tentu masih banyak lagi. Mungkin terdengar sama saja, tapi pengucapannya yang sedikit berbeda dan berbeda makna pula. Aku sering membayangkan, sejujurnya bumiku tidak berisi orang-orang bodoh. Apa pasal yang sudah kami perbuat kepada Tuhan sampai nasib malang tidak berujung jadi pisaunya?”

“Bumimu memang mengagumkan. Namun, bukan berarti ini semua perkara balasan dari Tuhan. Aku mengalami hidup yang pahit, tetapi apa karena aku pernah membangkang? Percuma meski sudah menyalahkan-Nya.”

“Kau pernah mengalami sesuatu yang buruk?”

“Mau taruhan tentang siapa yang terburuk di antara kita?”

Jati takut pada balasannya. Si wajah manis dengan setelan putih bagai ular yang sanggup mencengkeramnya dalam balutan melankolis. Si cantik yang sekarang tertawa kencang dengan gusi pada giginya yang mengintip. Seharusnya dia menurunkan pandangannya sebab sibuk memuji perkara bulu mata yang luruh itu.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sofiana Martha
Sofiana Martha morally bankrupt woman who can't even call herself a feminist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email