Belum Jadi dan Puisi Lainnya

salman aristo

1 min read

Doa di Rak Gudang

Ada doa,
yang tak pernah sampai.
Menunggu barcode-nya
dibaca ulang.

Tapi mesin kasir beku,
tangan-tangan sibuk meraba udara,
timbangan digital terbatuk,
menakar nama yang terjaga.

Di sudut rak,
tumpukan zikir mengelupas plastiknya,
ayat pulang tanpa alamat,
sujud-sujud tergulung di dalam kardus,
remuk sebelum sempat diisi Tuhan.

Belum Jadi

Karena kita tahu:
yang menakutkan bukan kematian.
Tapi sesuatu yang tak kunjung jadi.
Seperti pagi yang ragu membuka jendela,
atau doa yang berhenti di tengah hujan.

Ada yang menunggu,
tanpa tahu itu pulang atau pergi.
Ada yang patah,
belum sempat tumbuh sebagai utuh.

Waktu berjalan,
tapi tak semua langkah menuju.
Beberapa hanya mengitari
satu simpang yang tak pernah berubah.

Dan kita pun diam,
karena bicara tak bisa menjelaskan
sehelai bayang
yang tak pernah masuk ke dalam kata.

Menutup Sore

Langit—entah kenapa—merah lebih lambat pagi ini,
seolah menunggu kenangan

yang menolak dipanggil pulang.

Di kamar itu, mimpi kita mendingin dalam sunyi
bagai skenario yang tak sempat punya dialog.

Apakah ini musim gugur
atau hanya isyarat dari hatimu
yang tertahan mengucap perpisahan?

Aku biarkan angin membuka tirai,
tak ada suara, hanya bayanganmu
berjalan menjauh—tanpa aba-aba.

Di luar, kursi goyang miring ke barat
seolah ada seseorang yang baru saja bangkit
lalu lupa menutup sore.

Gelas di teras masih setengah penuh—
tak seorang pun tahu
apakah kau tinggalkan karena janji,
atau hanya jeda panjang
yang tak kau sempat eja: pamit.

Senja di Cermin

Di jendela, kau menatap senja retak,
luka samar di cermin tua—
separuh langit, separuh ingatan
tak selesai dihitung.

Di ponsel, kabar mengapung,
kata-kata karam dalam jeda.
Tak ada yang lebih sunyi
dari suara yang tetap di sana.

Pada meja yang dulu penuh janji,
cangkir-cangkir berdenting hampa.
Seseorang pernah berkata:
waktu adalah yang kita lepaskan.

Dan kini, seperti cahaya tertahan,
kau merangkai yang patah.
Apa lebih abadi dari yang hilang?
Apa lebih dekat dari yang tak ada?

Ibadah Itu Kerja

Bukan hanya sujud yang membasahi lantai,
tapi tangan yang memintal fajar dengan tekun,
membetulkan derit pintu yang malas dibuka,
menyapu daun gugur dari halaman tubuh sendiri.

Ibadah itu menyingsingkan lengan baju,
mendengar keluhan waktu tanpa mengeluh balik,
membawa sekeranjang sabar ke dapur rezeki,
dan tak menakar kasih dengan gelas laba.

Lidah tak selalu menyebut nama-Nya dengan lafaz,
bisa lewat paku yang dipalu jujur,
atau luka kecil di jari tukang atap yang tetap tersenyum,
meski mata dunia tak mencatatnya.

Kerja kadang tak punya rupa ibadah—
ibadah pun kerja di rak takwa yang sama
Ia menanam benih sunyi di ladang batin,
menuai rindang di mata Tuhan.

*****

Editor: Moch Aldy MA

salman aristo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email