Mar bangun lebih pagi dari matahari. Ia duduk di ujung ranjangnya, memandang sepatunya yang terlalu bersih untuk digunakan. Ini hari pertama Mar akan pergi ke sekolah. Ia tidak tahu apa yang akan dia temui di sana, tapi Ibu bilang Mar akan bisa menjadi apa pun asal mau pergi sekolah. Mar percaya pada Ibu. Ibu tidak pernah berbohong pada Mar.
“Ibu, kalau aku pintar… aku bisa mengusir burung dari sawah, ya?”
Ibunya mengangguk, membenarkan tali tasnya.
“Dan pohon bisa berbuah?”
“Ya.”
“Dan kambing kita bisa punya anak banyak?”
“Kalau kau pintar,” jawab ibunya, meski tidak yakin dengan kalimatnya sendiri.
Maka Mar pun pergi. Ia melewati kebun kelapa sawit, tempat pohon-pohon berbaris seperti tentara. Daunnya bergoyang, menertawai siapa pun yang berjalan tanpa tujuan. Di antara terik dan debu, jalan itu berbicara.
“Ke mana kau, Mar?”
“Ke sekolah,” jawab Mar, menegakkan badan kecilnya.
“Untuk apa?”
“Agar aku jadi pintar. Supaya aku bisa usir burung dari sawah. Supaya pohon bisa berbuah. Supaya kambing beranak pinak.”
“Konon ilmu tidak tumbuh dari keringat, Mar. Hanya dari ruang kelas, papan tulis, dan hari yang panjang. Apa kau sanggup menahan derita itu?”
“Aku akan duduk sepanjang hari, asal aku jadi pintar.”
Jalan mendecak. Debu beterbangan seperti kalimat yang tak pernah selesai.
Kemudian datang jalan berbatu. Lubang-lubang menganga seperti mulut yang lupa bagaimana caranya diam.
“Apa kau pikir jadi pintar itu cukup untuk mengalahkanku?” tanya jalan berlubang.
“Aku harus melewatimu. Tidak ada jalan lain.”
“Setiap orang yang ingin sesuatu, harus siap kehilangan sesuatu yang lain. Apa kau siap kehilangan?”
“Memang, apa yang akan hilang?”
“Dirimu sendiri.”
Mar tidak mengerti. Jalan berlubang membuatnya melepas sepatunya yang terlalu bersih. Ia melangkah pelan, menyeret kaki telanjangnya yang mulai berdarah. Di sekelilingnya, alam diam. Tapi diamnya bukan damai, melainkan seperti sesuatu yang menyimpan amarah.
Hutan datang tanpa aba-aba. Pepohonan berdiri rapat, menciptakan bayangan panjang tak berujung. Seekor burung terbang rendah, membisikkan kalimat asing.
“Kenapa kau begitu ngotot ingin pintar?”
“Karena aku ingin sawah kami aman dari burung sepertimu. Karena aku ingin memberi makan semua kambing. Karena aku ingin melindungi rumah dan keluargaku.”
“Dan kau pikir sekolah akan memberimu pengetahuan itu?”
“Aku tidak tahu. Tapi itu yang Ibu katakan.”
Burung itu hinggap. Ia berbicara lambat seperti waktu enggan bergerak.
“Kau tahu, Mar, banyak yang ingin jadi pintar. Tapi sedikit yang tahu apa artinya.”
“Aku tahu artinya. Aku bisa membantu Ibu.”
“Kadang, yang kau bantu hanya khayalanmu sendiri.”
Mar mulai lelah. Hutan tidak memendek. Langkahnya tidak menjadi lebih cepat. Ia merasa tubuhnya berubah. Tangannya gemetar. Punggungnya sakit. Ia menyentuh wajahnya—kulitnya terasa kering dan kasar.
“Keinginanmu terlalu besar untuk jalan panjang yang harus kau tempuh,” bisik burung itu sembari terbang menghilang di langit kelabu.
***
Mar sampai di sekolah ketika matahari hampir terbenam. Anak-anak duduk rapi. Guru berdiri di depan kelas, menunjuk ke papan tulis. Kata-kata seperti “fotosintesis”, “rotasi bumi”, dan “populasi ternak” dilemparkan ke udara seperti koin ke kolam.
Mar masuk. Semua mata menatapnya. Ia mencoba duduk, tapi lututnya nyeri. Ia mencoba membuka buku, tapi huruf-huruf di dalamnya menari seperti burung di ladang—liar dan tidak bisa diusir.
Guru bertanya pada Mar. “Berapa banyak rumput yang dibutuhkan untuk satu kambing dalam seminggu?”
Mar tak bisa menjawab.
Anak-anak tertawa. Guru tersenyum aneh. Mar berlari keluar kelas dan menemukan toilet. Ia menatap ke sebuah cermin besar yang retak.
Yang menatap balik sana bukan lagi Mar kecil. Tapi perempuan tua, lelah, dan bingung. Tangannya penuh luka. Matanya kehabisan cahaya.
“Aku hanya ingin pintar,” katanya.
Cermin diam.
“Agar aku bisa usir burung. Agar pohon bisa berbuah. Agar kambing tidak mati.”
Dan akhirnya ia berkata dengan suara sangat pelan, “Tapi mungkin semua itu hanya kebohongan. Dan aku tidak akan pintar hari ini. Atau besok. Atau bahkan jika aku hidup seribu tahun.”
Mar duduk memeluk lututnya di lantai toilet. Roti di dalam tas sudah keras seperti batu. Ia menggigitnya, bukan karena lapar, tapi karena itulah satu-satunya yang nyata.
Di luar, bel sekolah berbunyi. Dunia tetap berisik. Tapi Mar, di dalam toilet, telah terkunci. Pintu masuk yang tadi ia lewati telah hilang dari pandangan. Mar menatap pasrah seluruh dinding yang mengepungnya. Ia tak ingin lagi menjawab pertanyaan jalanan atau burung burung. Di kepalanya hanya ada kebingungan yang tak putus. Seperti barisan huruf yang tak dapat ia pahami di papan tulis. Mar terlalu bodoh untuk merangkai tanya, dan terlalu tua untuk belajar membaca.
*****
Editor: Moch Aldy MA
