Sejauh apa sebenarnya agama selaku institusi sekaligus instrumen politik mampu, misalnya, mencekoki suatu pandangan masyarakat untuk melanggengkan posisi status quo? Of Love and Other Demons karya Gabriel Garcia Marquez (selanjutnya akan ditulis Gabo, sapaan akrabnya) memberikan jawaban yang jernih sekaligus samar-samar mengenai hal itu.
Dalam dunia Of Love and Other Demons, Colombia abad ke-18 tak ubahnya Eropa di abad 15 hingga 17, abad di mana segala yang mistis dianggap sebagai kebenaran tunggal, dan rasionalitas serta intelektualitas tergolong sebagai tipu daya iblis. Dalam setiap sudut tubuh teks, saya seperti menyusuri hari di mana langit-langit roboh menjelma ilusi dari kebobrokan institusi yang mengatasnamakan Sang Ilahi. Tabir-tabir yang menutupi situasi “langit roboh” itu adalah keimanan, atau lebih tepat, agama sebagai sebuah institusi.
Tanpa mengalami fenomena represi intelektualitas di abad ini, rasanya saya mesti mengerutkan dahi ketika melihat laku sikap Gereja sebagai institusi agama yang ditonjolkan memiliki pengaruh dalam novel ini. Saya sadar, intelektualitas kolektif atau, katakan, revolusi kognitif suatu kelompok hadir sebagai laku sikap untuk beradaptasi dengan situasi sosial-politik tempat kelompok tersebut membangun komunitas. Dan, agaknya, situasi politik dan sosial Columbia abad ke-18 yang berkelit kelindan dengan kolonialisme, kepercayaan tradisional, dan rasisme menjadikan fenomena represi terhadap rasionalitas menjadi solusi praktis yang mampu tertawarkan.
Institusi agama yang korup di novel ini bekerja dalam konteks relasi kuasa, terutama dalam konteks percintaan terlarang antara Cayetano Delaura, seorang Pastor yang menangani eksorsisme, dan Sierva Maria yang diduga kerasukan alih-alih rabies. Hal ini, barangkali, menunjukan bahwa dalam taraf-taraf tertentu, agama yang memiliki pengaruh besar mampu mencaplok ruang-ruang paling privat dan menghancurkan makna cinta serta keyakinan (di mana keduanya selalu bersifat personal) dalam upaya melanggengkan status quo yang rentan terancam oleh perubahan situasi sosial dan politik.
Untuk mempermudah penalaran, saya mengkategorikan tokoh-tokoh di dalam novel ke dalam dua kutub yang berbeda. Perbedaan landasan pemikiran ini kemudian menjadi motor aktif yang menggerakan alur cerita ke dalam situasi yang lebih kompleks. Pertama adalah peranan Gereja selaku simbol atas peranan agama yang dimotori sang Uskup (juga seluruh penghuni Biara Santa Clara) yang mengedepankan dogma agama sekaligus berkuasa atas ragam permasalahan sosial dan spiritualitas; kedua, peranan Abrenuncio selaku seorang dokter atheis yang mengedepankan rasionalitas dan logika dalam ragam penalaran masalah sosial di lingkungannya. Dua kutub tersebut bekerja dalam pola yang saling bertentangan, lebih-lebih dibumbui ragam permasalahan yang bersifat komunal serta historis, sepanjang linimasa cerita. Situasi oposisi-biner tersebut lah yang dengan sendirinya menguak, apa yang sebelumnya saya sebut sebagai “langit-langit roboh”.
*
Sierva Maria, sang marquise muda berumur 12 tahun, yang tanpa sengaja digigit anjing rabies pada akhirnya hidup dalam kesengsaraan. Tapi, benarkah situasi itu semata-mata bersifat tunggal akibat rabies atau kerasukan? Latar belakangnya yang rumit memperlihatkan bahwa ia tak serta merta tumbuh dalam dua situasi oposisi-biner yang telah saya jabarkan di atas. Namun, tentu saja, posisi Ayahnya selaku Marquis, dan kebencian Ibunya yang membuatnya ditempatkan di bangsal budak untuk tumbuh bersama para budak berkulit hitam memberikan pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang situasi sosial-politik di luar bangsal tersebut. Alih-alih memahami ilmu pengetahuan dasar atau memiliki keyakinan pada konsep Ilahiah, Sierva Maria justru tumbuh dalam takhayul dan kepercayaan tradisional masyarakat Afrika yang tak terlacak (atau sengaja diabaikan) oleh orang-orang, termasuk kedua orang tuanya.
Situasi di mana pengabaian dalam pengasuhan anak ditampakan di keluarga sang Marquis sejatinya terlampau pahit untuk terus ditampilkan, namun diperlukan untuk memberi garis tegak lurus bahwa situasi Sierva Maria tak ubahnya fenomena yang bisa ditelaah dengan logika. Gejala-gejala “penyakit” atau “kerasukan” yang sama-sama tercentang dalam dua kotak yang berbeda, di sisi lain, memberikan ambiguitas yang terlampau terang.
Posisi Gereja yang begitu kuat dalam melakukan kontrol sosial di tengah masyarakat kolonial, barangkali, mengingatkan kita pada analisis Marvin Harris menyoal fenomena perburuan penyihir yang subur berbiak di Eropa pada abad 15. Dengan pendekatan materialisme kultural, sangat logis untuk menimpakan situasi histeria massal dalam novel tersebut sebagai satu-satunya piranti kontrol sosial betapa pun hal tersebut tak masuk akal.
Melihat perburuan penyihir dalam sejarah Eropa sebagai fenomena yang dipicu oleh faktor ekonomi, politik, dan sosial yang mendasari struktur masyarakat pada masa itu tak jauh berbeda dengan memandang fenomena eksorsisme yang ditampilkan oleh Gabo dalam On Love and Other Demons. Jika Harris meyakini perburuan penyihir tidak hanya didorong oleh keyakinan mistis atau agama, tetapi juga oleh kebutuhan ekonomi dan kontrol sosial, maka bisa pula diasumsikan pola yang sama bekerja dalam novel Gabo tersebut. Penyihir sering kali menjadi kambing hitam dalam masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi atau ketidakstabilan sosial, dan praktik perburuan penyihir membantu otoritas (baik gereja maupun negara) mempertahankan kekuasaan dan kendali atas populasi.
Hal di atas akan lebih gampang saya anggap sebagai sebentuk paralel atas situasi yang terjadi di dunia fiktif Columbia abad 18. Sierva María dituduh kerasukan setan setelah digigit anjing yang diduga rabies, dan ini memicu respons dari otoritas gereja, lewat Delaura, yang mencoba menyelamatkan jiwanya melalui eksorsisme setelah, tentu saja, Aubrenancio melakukan pemeriksaan secara medis — dan meramalkan bahwa umur gadis malang itu tak lama lagi. Seperti juga praktik perburuan penyihir, kita bisa dengan mudah melihat peranan gereja menggunakan tuduhan kerasukan sebagai cara untuk menegaskan kekuasaannya atas orang-orang yang dianggap menyimpang atau rentan. Gereja dalam novel ini memiliki kekuasaan penuh atas kehidupan sosial dan moral masyarakat, dan keyakinan tentang kerasukan atau “kesurupan setan” memperkuat posisi otoritas agama.
Pertentangan antara Delaura dan Abrenuncio mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara agama dan sains, atau antara keyakinan supranatural dan penjelasan rasional. Dalam novel, gereja berusaha mempertahankan otoritas moral dan spiritualnya melalui takhayul dan doktrin yang ketat, sementara ilmu pengetahuan (diwakili oleh Abrenuncio) berusaha membebaskan manusia dari belenggu ketidakpahaman dan ketakutan terhadap yang tidak diketahui.
Delaura pada dasarnya percaya bahwa nasib Sierva María adalah bagian dari rencana Tuhan, dan bahwa peristiwa kerasukan serta eksorsisme adalah bagian dari takdir yang telah ditentukan. Baginya, tindakan spiritual dan cinta adalah jalan untuk menyelamatkan jiwa Sierva María, meskipun dia mulai menyadari kelemahan dalam pemahaman gereja.
Abrenuncio, di sisi lain, menolak gagasan takdir dan berusaha menjelaskan segala sesuatu melalui fakta dan penalaran. Dia memandang perilaku Sierva María sebagai gejala penyakit fisik yang bisa diobati secara medis. Dari perspektif Abrenuncio, takhayul gereja hanya memperburuk penderitaan Sierva María, karena gereja lebih tertarik pada penyelamatan spiritual daripada kesehatan fisik.
Jika saya menganalisis pertentangan ini secara singkat melalui pendekatan materialisme kultural Marvin Harris, dapat melihat bahwa pertentangan antara Delaura dan Abrenuncio mencerminkan konflik yang lebih dalam di tengah kondisi sosial masyarakat kolonial. Delaura mewakili institusi agama yang mendominasi kehidupan sosial dan budaya, dengan keyakinan bahwa penyakit, kerasukan, dan takdir adalah bagian dari pengendalian sosial yang lebih besar oleh gereja. Gereja dalam hal ini menggunakan agama untuk menjaga stabilitas sosial, dengan menafsirkan fenomena yang tidak dipahami sebagai manifestasi supranatural.
Sebaliknya, Abrenuncio mewakili munculnya rasionalitas modern, yang mempertanyakan dominasi agama dalam mengatur kehidupan sosial dan politik. Abrenuncio adalah simbol dari upaya untuk menentang kekuasaan gereja dengan menawarkan penjelasan ilmiah dan pengobatan medis sebagai alternatif dari praktik keagamaan yang represif.
Dalam konteks materialisme kultural, peran gereja yang diwakili oleh Delaura adalah untuk mempertahankan tatanan sosial yang hierarkis dan dogmatis, sedangkan Abrenuncio mewakili perubahan sosial yang lebih berlandaskan pada fakta material dan pemahaman ilmiah.
Sedangkan untuk mempertajam argumen, penyimpanganyang maujud dalam tubuh Sierva Mari ditandai misalnya dengan interaksinya dengan kelompok budak kulit hitam, di mana ia tergolong bisa diterima di antara orang kulit putih. Dia menyerap kebudayaan mereka, termasuk bahasa dan tradisi keagamaan, yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadapnya. Hal lain, penyimpangan ini juga berkaitan dengan bagaimana posisinya sebagai seorang bangsawan yang terpapar budaya Afrika menjadikan keberadaannya menyimpang. Dalam konteks materialisme kultural, interaksi lintas ras dan kelas ini mencerminkan dinamika sosial-ekonomi yang kompleks di dunia kolonial, di mana kebudayaan rakyat yang ditaklukkan atau diperbudak dipandang sebagai sesuatu yang asing dan berbahaya. Untuk melanggengkan kuasa Gereja dan ras kulit putih atas kelompok yang lebih inferior, kontrol sosial dan kelas diperlukan dengan mengambinghitamkan sesuatu yang tak kasat mata atas laku sikapnya yang janggal dan bertentangan dengan norma sosial. Di tengah ketegangan politik kolonial yang berkecamuk adalah penting untuk menjaga stabilitas sosial dan otoritas elite.
*
Sierva María dalam hal ini tak hanya korban dari praktik takhayul, tetapi juga korban struktur kekuasaan yang lebih besar, di mana ekonomi kolonial dan politik agama saling terkait membentuk satu situasi sosial yang kompleks. Keluarga bangsawan Sierva María, meskipun kaya, berada dalam posisi yang rapuh secara sosial karena mereka tidak mampu merawat putri mereka dengan baik, dan ini memperburuk citra mereka di mata masyarakat. Gereja mengambil alih kontrol atas Sierva María, menggunakannya sebagai cara untuk menegaskan otoritas spiritual dan sosialnya dalam menghadapi tantangan terhadap stabilitas sosial.
Hal lain dalam Of Love and Other Demons yang berhasil saya lihat adalah ketegangan ekonomi dalam masyarakat kolonial sebagai salah satu latar belakang tersembunyi dari ketegangan agama dan takhayul. Sumber daya dalam masyarakat kolonial yang terbatas ditunjukan dari banyaknya penderita kusta yang terlantar di rumah sakit dan juga para pengenis yang terdampar di pelataran biara. Oleh sebab itu ketidakstabilan sosial sering kali menghasilkan pencarian kambing hitam untuk menyalurkan ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Hal ini yang, menurut saya, memotivasi penegasan bahwa kondisi Sierva Maria adalah tanggung jawab setan.
Sierva María, dengan warisan budaya yang campuran dan posisi sebagai perempuan muda yang terisolasi dapat disimbolkan sebagai bentuk ketakutan lebih besar dari masyarakat kolonial yang takut dengan pencampuran budaya, lenyapnya pengaruu gereja, serta ketakutan dari kekacauan sosial. Sierva Maria menjadi sasaran atas kecemasan sosial.
Rambut panjang Sierva María yang terus tumbuh bahkan setelah kematiannya bisa berperan sebagai simbol ketegangan antara kepercayaan takhayul dan kondisi material masyarakat. Di satu sisi, rambut panjang itu dipandang sebagai manifestasi dari kekuatan supranatural, sekaligus sebagai simbol ketakutan masyarakat terhadap apa yang tak mereka pahami dan terkendalikan.
Dalam konteks masyarakat kolonial yang sangat hierarkis dan terobsesi dengan kontrol, rambut panjang Sierva María yang melawan aturan alam bisa dilihat sebagai perlawanan terhadap norma-norma yang dikendalikan oleh gereja dan elite kolonial. Rambut ini mungkin mewakili kekuatan budaya yang ditekan — budaya rakyat, terutama yang terkait dengan tradisi Afrika dan kepercayaan non-Eropa — yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh otoritas kolonial dan agama.
*
Pada akhirnya saya berusaha menyimpulkan bahwa dalam belenggu norma dan situasi dogma agama yang begitu rentan, cinta yang barangkali enggan terjelaskan secara logika mampu menerabas batas-batas kaku tersebut sehingga tak diperlukan satu kebenaran tunggal.
Hari ini penting untuk melihat takhayul, atau otoritas agama dalam memandang ragam permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Situasi pandemi di tahun 2019 yang kerap dikaitkan dengan adzab dari Sang Ilahi, juga pendekatan saintifik saling bertentangan. Tapi ada yang kerap tak terbantahkan, apakah, cinta yang menerabas sekat-sekat konseptual tersebut berada dalam posisi yang lebih rendah dari pada keimanan di hadapan Sang Ilahi? Apakah kiranya cinta adalah satu wujud pembangkangan setan kepada Sang Ilahi sehingga ia pantas diganjar siksa abadi api neraka? (*)
