Connection Information

To perform the requested action, WordPress needs to access your web server. Please enter your FTP credentials to proceed. If you do not remember your credentials, you should contact your web host.

Connection Type

Salah Jalan dan Puisi Lainnya

Salah Jalan dan Puisi Lainnya

WD Gafoer

1 min read

DEMI HATIKU DAN MEJA MAKAN

aku menaruh hati untukmu
pada sebuah pagi, entah berapa tahun lagi
di atas piring bening ia akan berbaring
melihatmu mengecup pipi anak-anak
bocah-bocah mungil yang akan kita sebut anak-anak kita
di dapur tempat kau memasak waktu; masa depan mereka
lewat percakapan yang kau hidangkan di atas meja
saat kucing-kucing berkoar membakar mulut tetangga
untuk lelah tanganmu yang perkasa—aku bercerita:
bahwa telah kuletakkan hatiku kali ini
dalam sebuah pagi yang menyedihkan
saat kata-kataku kelaparan
puisi-puisi inilah yang akan memelukmu dengan tabah
untuk itu, makanlah dengan gembira kekasihku!
demi waktu, demi pipi-pipi mungil
yang akan kau kecup pada suatu masa
demi hatiku dan meja makan

BERMALAM DI MEJA MAKAN

ketika udara malam datang mengetuk jendela,
kaki-kaki mungil mendatangi kaki-kaki kursi,
berhadap-hadapan duduk menunggu,
suara Ibu sedang hangat tergenang dalam gelas,
tak lama lagi keringat Ayah menyeruak di jalan
menuju ruang tengah dan meja-meja;
meja-meja yang di bawahnya mengalir air susu

“Sudah! Sudah! Duduk,” kata Ayah
“Saksikanlah anak-anak! sebentar lagi bunga-bunga akan mekar.”
malam anggun akan selalu memeluk jiwamu
masa depan akan terus bersolek lewat senyum benda-benda,
di atas meja—senyum-senyum harus terus kita cipta

senyum-senyum surgawi yang akan membuat kita betah hidup
meskipun kesedihan begitu buru-buru memburu lemah jiwa
di atas meja, mari tidur, mari mendengkur, selamat makan
Ayah. Ibu.

AIR MATA

bukankah air mata
yang memeluk bulu matamu
akan selalu mengalami
sejarahnya; menyelami deritanya
menemukan namanya
dalam gemerlap ironi dan duka
dalam malam-malam
yang sungkan—
kau mengenang dirimu
yang lalu
meski berat kau lupakan;
lihatlah matamu
lihatlah dirimu yang
sedang mencatat dirinya
di buku waktu

PERAHU DI PIPIMU

“kukira tangan itu milik Tuhan…”
itu berselang sesaat sebelum kujabat tanganmu
angka-angka yang membilang—
kuhitung ke mana arah senyum itu
seperti rindu pohon pala pada musim gugur
demi perumpamaan yang sempurna
seperti kepalaku sedang berat berkata:
“Tangan, mata, kail, perahu di pipimu”;

Tuhan

SALAH JALAN

hilang kucari ke mana
entah ke mana, ingin berpulang
di sepanjang lorong-lorong malam
kudengar teriakan berbisik, menjerit
menggemakan tanya:
“Ke mana hatiku berlalu?”
“Di mana hatiku bersauh?”
dengan cemas jantung memompa
tumpukan luka yang menghentikan gema tanya

–     akankah kau beri padaku sehelai rambutmu?
+    mungkin!
–     hanya mungkin? seseorang akan jadi pengemis untuk jawaban itu
+    mungkin, rambut ini bukan milikku,
untuk itu seseorang tak harus jadi pengemis
–     jika itu bukan milikmu. Maukah kau jadi milikku?
+    mungkin!

hilang kucari ke mana
entah ke mana hatiku ingin berpulang
di sepanjang lorong-lorong malam
kulihat mata-mata lelah menunggu
menanti kejelasan yang kian percuma

*****

Editor: Moch Aldy MA

WD Gafoer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email