Not-noetic being

Rocky Gerung Bukan Filsuf(?)

Gloria Bayu Nusa Prayuda

5 min read

 

Sejarah mencatat bahwa filsafat, disiplin ilmu yang katanya bertujuan untuk mencintai kebijaksanaan kerap jatuh dan melayani kebijaksanaan orang lain. Sejak awal, filsafat tidak pernah lahir dari ruang hampa. Filsafat memang lahir dari iklim aristokrat Yunani. Hal ini dapat diamati dari kecenderungan filsuf-filsuf pra-sokrates yang memiliki imaji sifat unggul alam. Persepsi bahwa hal yang paling baik adalah sifat-sifat unggul mendorong aktivitas filosofis seperti pencarian akan kebenaran tertinggi menjadi mungkin. Inilah tesis Costin Alamariu dalam buku kontroversialnya, Selective Breeding and the Birth of Philosophy. 

Konsekuensi lanjutan dari penerapan logika seleksi yang digunakan untuk membedakan mana kategori kebenaran tertinggi dan yang rendah, serta siapa yang berhak mewarisi kategori tersebut. Hal ini kemudian berakhir pada kecenderungan Aristokrasi yang dilandaskan pada kepercayaan bahwa ada kelompok seperti bangsawaan yang memiliki sifat-sifat unggul daripada manusia lain. Bahkan Plato sendiri, secara eksplisit mendambakan tirani sebagai kondisi ideal dalam mengatur masyarakat. Seorang tiran yang memiliki sifat-sifat unggul seperti kecakapan dan kekuatan adalah aktor yang boleh mengatur manusia lain, sekaligus mengeksklusi mereka. 

Baca juga:

Filsuf dapat berlaku seperti tiran, melompati norma demi mengaktualisasikan apa yang menurutnya unggul dengan membongkar tatanan yang diasumsikan buruk dan memelopori perbaikan yang datang dengan klaim ideal. Sebaliknya, seorang tiran dapat menyerupai filsuf yang berani melanggar adat-istiadat dan menyodorkan norma baru.  

Hal ini menjadi kekhawatiran bagi Plato, sebab filsuf dan tiran adalah dua tipe manusia yang kembar, satu-satunya tipe manusia sejati. Satu-satunya hal yang tersisa dari filsuf adalah kemerdekaan (self-mastery), hidup seorang filsuf didedikasikan pada pencarian dan pemahaman akan kebenaran, yang menjadikan seorang dekat dengan kebijaksanaan bukan tunduk dan jatuh pada pemuasaan nafsu pribadi seperti halnya tiran atau kriminal. Untuk itu, kehadiran filsuf, lagi dan lagi bukan merupakan hamba dari orang lain, melainkan teman bagi kebenaran atau Eidos.

Tetapi, kita juga dapat menemui filsuf-filsuf yang akrab dengan kekuasaan. Aristoteles dengan Aleksander, Rene Descartes dengan Ratu Christina, Voltaire dengan Friedrich Wilhelm, Curtis Yarvin dengan Donald Trump, dan yang terbaru, Rocky Gerung dengan Prabowo. Melalui pelantikannya sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia, Rocky Gerung secara sah telah masuk dalam liga filsuf-penguasa. Sesuatu yang sebenarnya menyingkap sisi gelap dari filsafat itu sendiri, yaitu beroperasi pada logika seleksi, percaya pada kategori-kategori unggul dan ideal, dan hasrat atas institusi Aristokratik, yaitu sekumpulan negarawan yang memiliki otoritas pengetahuan yang berhak mengatur masyarakat lain karena legitimasi kepemilikan kebenaran itu. 

Lahirnya Filsafat

Tokoh seperti Kojin Karatani  memakai istilah yang demarkatif, yaitu Sage (Sophoi) yang merujuk pada filsuf sebelum Sokrates, dan Philosopher untuk merujuk pada filsuf setelah Sokrates. Demarkasi ini bukan hanya tentang konstruksi sejarah dua zaman yang berbeda, tetapi juga menunjukan imaji kekuasaan yang saling bertolak belakang. Sage, dianggap dekat dengan despotisme dan memperlakukan kebenaran sebagai milik despot seperti raja, sementara filsuf percaya bahwa semua orang bisa mengakses kebenaran. Banyak orang percaya bahwa Plato-lah yang mencoba memutus relasi filsafat dan kekuasaan dengan memperkenalkan istilah filsuf. Akan tetapi, filsafat justru hanya menjadi mungkin melalui konsep Polis, konsep yang lebih tua dari filsuf, yang juga berasal dari kritik terhadap Despotisme. 

Despotisme mengatur wilayahnya secara terpusat. Seluruh wilayah, seperti pedesaan, peternakan dan pasar selalu berorientasi pada satu pusat, sang despot, yaitu individu atau kelompok yang dianggap punya kriteria unggul, seperti keturunan Dewa-Dewi. Kegiatan politik mengikuti logika ruang despot, yaitu berpusat pada istana atau kuil. Merespon kondisi tersebut, masyarakat yang melarikan diri dari wilayah despot mengajukan alternatif berbeda. Masyarakat ini membangun Polis, negara-kota yang diisi oleh pengrajin, pedagang, pelayar dan kriminal yang membentuk jaringan tata kota menyebar. Melalui desain yang menyebar, masyarakat Polis menjadi masyarakat merdeka, memiliki kebebasan dan mobilitas yang tidak mereka dapatkan di bawah kekaisaran.

Pusat polis adalah Agora, ruang bersama yang terbuka, dan semua warga menempati posisi yang setara. Kekuasaan yang awalnya phallus-sentris, diupayakan untuk terdesentralisasi sehingga dapat diatur oleh siapa saja. Masyarakat Polis adalah masyarakat Agon, yaitu orang-orang merdeka yang bersaing di setiap dimensi, seperti dalam perang, olahraga, pengadilan, bahkan dalam hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Masyarakat agonistik tersebutlah yang membuat filsafat menjadi mungkin.

Jika dalam despotisme ada Sages yang memiliki kebijaksanaan, Polis memiliki filsuf, yaitu orang yang mencintai dan mencari kebijaksanaan tetapi tidak memilikinya. Karena kebijaksanaan hanya diklaim, bukan dimiliki, semua orang bisa mengklaim pandangan kebenarannya sebagai pandangan bermasalah. Bagi Plato, masyarakat Agon juga menjadi berbahaya karena siapa saja bisa mengklaim apapun dan menang lewat kepandaian retorika.

Plato kemudian mengajukan konsep Ide (Eidos). Ide menjadi semacam kriteria selektif baru yang memisahkan kriteria murni dari yang tidak murni. Meskipun dianggap sebagai alternatif dari Despotisme, kriteria selektif justru memungkinkan kembalinya despotisme itu sendiri. Untuk bisa menilai klaim-klaim di dalam ruang imanen polis, ia memerlukan sesuatu yang transenden di atas persaingan itu. 

Polis menciptakan imanensi, tetapi filsafat yang lahir darinya justru menjinakkan imanensi itu dengan menaruhnya di bawah sesuatu yang transenden. Ide, menjadi semacam faktor transenden baru yang beroperasi layaknya mandat ilahi Despotisme. Kemenangan filsuf dari para Sages dan sofis, sejatinya tetap mempertahankan logika seleksi dan kecenderungan kategori unggul, menciptakan hierarki eksklusif yang memisahkan siapa yang layak mendefinisikan kategori-kategori ideal dan siapa yang tidak berhak, membuat filsuf menjadi tidak ada bedanya dengan sofis. 

Return of The Repressed ala Rocky Gerung

Maka, secara genealogis filsafat tidak bisa keluar dari logika “selective breeding” dan kecenderungan elitisme yang akan melahirkan Aristokrasi. Meskipun telah mengupayakan perubahan dari pemilik kebenaran menuju teman kebenaran dalam wujud masyarakat agon, filsafat justru tidak mampu mengakomodasi setiap klaim tanpa memproyeksikan kriteria-kriteria yang unggul. Dengan demikian, si filsuf tidak bisa mencegah munculnya despotisme baru sebagai konsekuensi total dari logika selektifnya.

Hal inilah yang kemudian membuat si filsuf tidak lagi menjadi teman kebenaran, tetapi menghamba kepada kebenaran, dalam manifestasi kategori unggul dan kelompok yang dianggap sebagai si empunya kebenaran (Aristokrasi). Kembalinya filsuf-filsuf kepada logika Despot mengindikasikan dua hal: pertama, asumsi bahwa tidak semua masyarakat Agon memiliki kapasitas untuk mengakses Eidos. Bahwa masyarakat hanya memiliki simulacra atau klaim-klaim palsu, sehingga hanya filsuf atau institusi yang bisa memahami kriteria-kriteria unggul itu. 

Return of the repressed adalah istilah yang penulis ambil dari Freud. Menandakan sebuah peristiwa ketika hal-hal yang ditekan atau disembunyikan kembali dalam bentuk-bentuk lain yang mengguncang tatanan yang sudah dianggap pakem seperti subjektivitas. Hal ini merujuk pada kembalinya hal-hal yang direpresi atau disembunyikan filsafat, yaitu logika laten proto-Darwinisme yang kembali, dapat diamati dari gestur politik Rocky Gerung.

Baca juga:

Sebelum sah menjadi pembantu penguasa, Gerung kerap memaksa masyarakat, atau lawan politiknya menggunakan kriteria-kriteria yang ia anggap benar dan terbaik dalam forum-forum. Kerap kali Gerung tiba-tiba menggurui lawan debat agar memaksa lawan mengikuti jalan pikirnya. Forum bukan lagi medan imanen yang berisi klaim-klaim dan kemungkinan baru.

Dalam hal ini, masyarakat di dalam forum, di benak Gerung bukanlah masyarakat Agon yang setara. Gerung merubah forum menjadi medan pendisiplinan pikiran. Ambil contoh ketika ia menggurui lawan debatnya tentang penggunaan term “paradigma”. Entah apa yang dipikirkan Gerung, dia justru mengambil konsep paradigma sains Kuhn dan Popper yang sejatinya adalah konsep dalam masyarakat ilmiah, bukan masyarakat secara umum. Retorika pamer phallus ini, menempatkan klaim lawan sebagai kategori rendah. Seolah-olah, otoritas pengetahuan hanya milik Rocky seorang. 

Dilantiknya Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden semakin menguatkan tendensi Aristokratik dalam filsafat. Bisa saja Gerung lelah, setelah lebih dari sepuluh tahun lamanya ia harus berdebat dengan berbagai masyarakat yang tidak memiliki Eidos. Apa mungkin gerung merasa bahwa Agon tidak akan merubah keadaan, sehingga memilih pemerintah untuk memastikan tidak boleh ada kategori-kategori simulacra selain kategorinya. Atau justru, Rocky Gerung akan mengendarai institusi untuk mempercepat transisi demokrasi menuju Tirani? 

Hal ini juga tampak melalui sikap Rocky Gerung yang menyokong narasi program-program pemerintah saat ini. Narasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan beberapa pandangannya atas kerja-kerja rezim. Gerung jelas tidak menciptakan satu diskursus, melainkan memaksa kategori ideal penguasa sebagai satu-satunya modus interpretasi. Disputasi yang muncul dari forum hanyalah sikap anti-falsifikasi pikiran. Dalam sikap tentang MBG misalnya, Gerung bersikeras bahwa bahwa program makanan ini telah sesuai, tidak bertentangan dengan amanat konstitusi. Kondisi ini adalah cara Gerung membangun kriteria dan klaim, bahwa kategori ideal konstitusi dan MBG integral. Gerung justru mengabaikan fakta bahwa pelaksanaan MBG justru kerap berseberangan dengan kategori ideal tersebut. Sebagai contoh, pengelolaan MBG hari ini mengamputasi peran orang tua untuk mencukupi kebutuhan gizi anaknya. 

Semua hal menjadi elok didengar apabila hanya berbicara secara normatif. Akan tetapi, masyarakat tidak menunggu itu. Masyarakat ingin mengonsumsi kejernihan nurani dari seorang yang berteman dengan kebenaran. Kadangkala filsuf dan tiran ditandai atas elitisme, keduanya menampakan diri sebagai pribadi yang dekat dengan kebenaran. Namun retorika filsuf tentu dijamin dengan keteguhan serta kerelaan, yang tanpa pamrih, dan tentu tanpa mengakui bahwa ada golongan tertentu yang memiliki kategori-kategori kebenaran. Hal yang membedakannya dengan para sophis atau sages.  Lalu, pada dimensi normatif apa sebenarnya Rocky Gerung berdiri?

Tidak ada yang tahu selain Rocky Gerung sendiri. Tetapi yang pasti, Rocky Gerung berhasil menyingkap tendensi liar filsafat yang sebelumnya telah direpresi. Mulai dari kriteria selektif dengan pendisiplinan ide di setiap forum, meremehkan bentuk agonisme, hingga kecenderungan Aristokrasi, yaitu keputusannya masuk pada pemerintahan, sebagai institusi yang memiliki kategori kebenaran terbaik. Jadi, apakah Rocky Gerung bukan filsuf karena tidak lagi menjadi teman kebenaran melainkan hamba dari pemilik kebenaran, ataukah justru Rocky Gerung adalah filsuf sejati, karena berani merangkul dan mengakui hal-hal yang selama ini direpresi oleh filsafat? (*)

 

Editor: Kukuh Basuki 

 

Gloria Bayu Nusa Prayuda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email