Mahasiswa sastra. Lagi suka eksplorasi teknik cerita. Juru tulis Komunitas Rabo Sore.

Melihat Bulan Jatuh dan Puisi Lainnya

Satria Al-Fauzi Ramadhan

1 min read

Menyebrangi Sungai 

Perahu itu mewarisi buaya-buaya putih. Kau akan menemukan keganjilan dari warna sungai, juga dari wajah penuh peluh di dekatmu. Hanya ada dua sumber cahaya yang meriak ketika kepalaku membutuhkannya: sepasang lampu di kedua matamu. Kegelapan adalah sebuah alasan untuk mati. Cahaya melahirkan banyak kehidupan. Matamu matahari.

Musik dangdut akan mengundang telingamu untuk berdansa selamanya. Hanya butuh dua keping koin untuk kita limbung.

Ketika kau menuju Gresik, maka bersiaplah terjangkit kerinduan, sebab ada yang aneh di sana: aroma-aroma karet, aroma-aroma kue, aroma-aroma kematian. Akan ada yang memaksamu memutar rol film di kepalamu tentang keindahan Sidoarjo. Akan ada bagian tubuhmu yang memintamu untuk pulang ke pelukanku.

(Mojokerto, 2026)

–

Menghitung Kerinduan
: Shafa Citra Faradisa

Kau agak pelit dalam membagi kerinduan. Dalam satu hari, rindumu bertumpuk seperti harta yang disembunyikan pejabat. Dalam satu pekan, aku terpaksa menginspeksi pipi bagian mana yang harus dicium. Dalam satu bulan, rindumu adalah kristal-kristal basah. Sepasang sungai di dekat hidungmu.

Sesekali aku takut kerinduanmu akan menjelma pisau. Aku membayangkan kobaran api di kepalamu, dan aku harus memadamkannya dengan kecup, dengan peluk.

(Mojokerto, 2026)

–

Melihat Bulan Jatuh 

Aku merasakan hal-hal keji sedang terjadi. Malam menjadi sangat limbung. Udara terbuat dari debu-debu pikiran tentang betapa siang tadi adalah neraka sesaat. Sementara bintang menghilang. Bulan jadi satu-satunya kemungkinan. Cahaya adalah teka-teki dari doa-doaku yang terucap seperti siul. Aku tiba-tiba khidmat pada kekosongan. Ada yang meminta kepalaku terbang. Entah kemana.

Setelah bulan itu jatuh, ada yang diam-diam penuh. Ada yang merapalkan mantra purba. Ada sesuatu yang sedang bersekutu.

(Mojokerto, 2026)

–

Mendengarkan Silampukau

Bayangkan, saat limbung di kemacetan, kepalamu adalah selimut yang membuat amarahmu hangat. Menjadikan magrib dan umpatan sebagai lukisan di keningmu. Kau tidak meraih apa pun kecuali persepsi keindahan Surabaya yang palsu. Saat itulah, terdengar petikan serupa blues dan kontrabas. Untuk pertama kalinya, kau sadar, Kharis Junandharu sedang merintih. Berlari dan mengendap. Kota menjadi kata-kata.

Kau perlahan paham pada hal-hal semacam itu: lampu transparan di lampu merah, taman yang bukan teman, doa-doa yang bersifat urban.

Setelah telingamu berdansa, merusak karpet ingatanmu, betapa waktu akan terasa konstan. Abadi adalah badai. Merusak dan mursal.

Di lain waktu, kenangan adalah sepak bola jalanan. Kau berlari menuju tepuk tangan yang memupuk keringatmu. Dan langit akan mengundang suara ibumu di kejauhan. Ada hadiah berupa celatu. Namun, dewasa adalah ketidakadilan. Uang menjadi satu-satunya lapangan.

(Mojokerto, 2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Satria Al-Fauzi Ramadhan
Satria Al-Fauzi Ramadhan Mahasiswa sastra. Lagi suka eksplorasi teknik cerita. Juru tulis Komunitas Rabo Sore.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email