Riuh Percakapan Tubuh

Hidayatul Ulum

9 min read

Seseorang pernah bertanya,

tidakkah aku merasa risih oleh gelambir di perut?

Aku menjawab tidak.

Malah biasanya,

aku justru mengelus-elus gelambirku,

berbicara pada ia yang kusebut My Tummy

dan berterima kasih

karena sudah setia menemaniku

menghadapi depresi pada masa-masa sulit,

tanpa berharap orang lain tahu

lalu mengatakan perasaanku valid.

 

“Puisi ini nanti kau beri judul apa?”

“Gelambir Depresi.”

“Serius?” tanya Mr. Brain, otakku, setelah tahu hasil final puisi yang kutulis.

“Ya, Mr. Brain. Bagus, bukan?”

“Brian. Sudah berapa kali kubilang, kau harus memanggilku Mr. Brian!

Aku menghela napas. Berusaha sabar untuk pertahankan minat menulis dan berharap tidak terpancing memperdebatkan hal lain.

“Tidak, tidak. Meski kau pengagum Rich Brian, sudah kuputuskan, namamu Brain dan aku akan memanggilmu Mr. Brain. Bisa fokus pada puisiku?” Salah satu dari Si Kembar Alis, mengangkat diri.

“Kau tidak kreatif! Mana ada orang memberi nama otaknya, Otak? Coba pikir, apakah ada orang yang memberi nama anaknya, Anak?!” Mr. Brain meminta Pak Dahi mengerut dan menyuruh Si Kembar Alis bertaut.

Aku diam. Malas menanggapi.

“Oke. Kembali ke puisimu,” ujar Mr. Brain. “Kenapa judulnya Gelambir Depresi? Kenapa pula kau hanya menyebut Tummy? Sebenarnya, dia lebih cocok bernama Belly daripada Tummy. Lalu, ini, Bu Hidung mencium kebohongan. Katanya kau bohong soal rasa terima kasih itu. Aku ingat, kau pernah memikirkan cara melenyapkan gelambir Tummy sebelum nanti ditumbuhi bayi, ‘kan? Kau takut tidak leluasa bergerak dan bernapas kalau ada bayi itu!”

“Judul itu idemu!” Aku balas berteriak karena merasa dikuliti.

Bahkan semua baris adalah idenya, bisik Mrs. Heart terkikik. Aku mengangguk dan tersenyum mencibir, lalu cepat mengubah mimik menjadi gusar.

“Lagipula itu hanya puisi, Mr. Brain. Jika kusebut kalian semua, wahai Para Anggota Tubuh Tercinta, itu namanya mendaftar presensi. Terserah bila kau suka nama Belly, pokoknya aku suka Tummy. Dan soal kebohongan itu, boleh ‘kan, sesekali? Kadang-kadang kau juga memanipulasi!”

Mr. Brain tidak menyahut. Aku tahu ia tersinggung, jadi berang, lalu diam-diam memaki. Aku tahu sekali.

“Apa maksudnya gelambir depresi? Bukankah hanya aku yang punya gelambir pada tubuh ini?” My Tummy bertanya.

Aku tidak bisa menjawabnya sendiri karena Mr. Brain sedang merajuk. Tidak sudi memberikan jawaban.  Akhirnya, aku hanya mengusap dan meminta My Tummy untuk bersabar. My Tummy berusaha mengerti asal aku mau membujuk Bung Mulut untuk mengudap gula-gula dan cokelat padahal Para Gigi sudah membersihkan diri dan bersiap untuk istirahat.

***

Tengah malam.

Aku menangis di hadapan sebuah umpan Instagram.

“Lihatlah, Mas Mata, orang yang kukagumi menyukai foto perempuan lain!” keluhku.

“Perempuan itu memang cantik. Tubuhnya bagus, berpostur tinggi. Giginya putih teratur. Kulitnya mulus. Siapa pun akan suka bila memandangnya, termasuk doimu.”

Aku makin histeris. Kuraih cermin kecil di atas meja. Berkaca. Aku tidak secantik dia.

Tangisku makin lama makin pecah di tengah malam buta yang kuharap juga tuli. Mas Mata memperburuk suasana dengan memandang jijik pada bungkus cokelat dan gula-gula yang kusisihkan di dekat pintu. Memang, aku sengaja begitu karena berniat membuangnya besok pagi.

“Aduh … Pantas saja doi tidak melirikmu. Kau terus menggemukkan diri dan memperbanyak karang gigi,” kata Mas Mata dengan nada menghina. “Kau juga mengundang jerawat-jerawat datang ke wajah dengan begadang untuk hal-hal tidak berguna, seperti mengepoi doimu, misalnya. Wajah cantik dan bibir merekah perempuan tadi tentu jauh lebih membuatnya betah. Mungkin juga bergairah. Aduhai, jangan lupakan, badannya yang kencang!”

“Dasar mata keranjang!” umpat Mrs. Heart yang paham betul rasa cemburuku.

Walau terasa Mr. Brain ingin membela, aku punya firasat kuat bahwa ia bersekongkol dengan Mas Mata untuk mengata-ngataiku.

“Tidakkah aku juga cantik?” Nona Bibir mengerucut sedih.

Malam makin merambat.

Meski telah kuanggap berbuat jahat, Mas Mata tetap menemaniku menangis sepanjang sisa malam hingga ia menjadi kosong, lelah dan mengantuk. Ia memberi saran lebih baik kami tidur, lagipula curhatan Bung Mulut makin melantur.

Dalam kabut kantuk yang makin menguasai diri, kudengar Mr. Brain dan Mrs. Heart memberiku afirmasi.

Aku perempuan cantik. Aku perempuan manis. Aku perempuan baik.

Masa depanku akan indah dan penuh warna-warna menarik.

Seseorang akan mencintaiku dan aku akan mencintainya.

Aku cantik. Aku manis. Aku baik.

Aku mencintai diriku sendiri.

Titik.

***

“Selamat pagi!” Mr. Brain menyapaku dengan suaranya yang berat, tapi riang.

Aku menggeliat malas seperti ulat gendut di balik selimut. “Halo, Mr. Brain.”

Bung Mulut menganga. Menguap lebar-lebar.

“Sepertinya kau sangat antusias pagi ini, Mr. Brain. Ada apa?” tanyaku ketika “100 Degrees”-nya Rich Brian berputar di kepala.

“Aku mengingat sesuatu, tapi tidak ingat seluruhnya. Kau harus membantuku untuk menemukan sesuatu yang kumaksud, karena kalau tidak, aku bisa gelisah sepanjang hari.”

Aku merengut. Gemar sekali memberi masalah di awal hari, Mrs. Heart ikut-ikut.

“Apa yang kau ingat?” tanyaku dengan malas.

“Kau pernah menulis semua rasa irimu, bukan?”

“Iri?!” Pak Dahi mengernyit karena merasa tertuduh. Mana masih terlalu pagi.

“Ya! Karena semalam kau iri pada perempuan yang fotonya disukai oleh orang yang kau kagumi, aku ingat kau pernah merinci semua rasa irimu.”

“Mrs. Heart pasti lebih tahu,” kilahku. “Cobalah bertanya padanya. Aku masih mengantuk!”

Sekian detik lelap kembali dalam dunia mimpi, Mr. Brain meneriakiku. Ia terus berceloteh tentang betapa pentingnya menemukan sesuatu yang telah mengusiknya. Aku pun bangun, mengalah demi berhenti gusarnya segumpal benda lembek dalam batok kepala.

Sambil menggosok gigi, aku mencari-cari di lipatan otakku, sesuatu yang ingin Mr. Brain temukan dan ingat secara utuh. Ia sangat antusias dan bersemangat. Maka, ke tahun-tahun lampau, kami mengorek-ngorek ingatan. Aku membantunya mengingat sampai kepalaku pening.

Setelah berkumur-kumur, lalu memperbolehkan Para Gigi bercermin dan saling berkomentar betapa mulai kuningnya mereka, aku menuju rak buku-buku lama dan menarik sebuah buku harian dari masa remaja yang membosankan. Mrs. Heart yakin sesuatu yang kami cari ada di sana.

Aku membuka buku harianku. Mr. Brain memerintah Tuan Tangan Kanan untuk membolak-balik halaman demi halaman agar Mas Mata bisa memindai dengan baik semua tulisan. Dengan sigap, Dik Jemari memberi bantuan.

Ketika sampai pada pertengahan buku, Mr. Brain berseru, “Nah, itu dia! Itu daftar rasa irimu!”

Aku menyenggol Mrs. Heart. “Iyakah?”

Kami pun membaca bersama-sama. Mas Mata dan Bung Mulut saling bekerja sama. Read aloud, kata mereka. Ya, ya, ya.

Terkadang aku iri.

Pada gadis-gadis remaja yang tampil menarik di televisi. Mereka bernyanyi, menari, dan melompat-lompat lincah ke sana kemari.

Aku iri melihat segerombol remaja lelaki berteriak-teriak memuja gadis-gadis itu. Mereka yang berwajah cantik, berkulit putih dan mulus, serta bersuara emas, dipuja bagaikan bidadari yang turun dari surga. Aku tahu itu semua adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan seharusnya tak perlu membuatku iri seperti ini.

Setiap kali gadis-gadis remaja itu tersenyum atau tertawa, para remaja lelaki akan mengembangkan senyum di bibir. Mata mereka akan terpaku pada senyum manis gadis-gadis itu. Seolah-olah kekuatan sihir mengharuskan begitu.

Gadis-gadis remaja itu tampaknya berhasil mengisi masa remaja mereka dengan hal-hal menyenangkan. Tampil di televisi sebagai selebriti, memiliki banyak uang untuk penuhi kebutuhan pribadi, bisa ke luar negeri untuk berekreasi, memiliki penggemar dari antero negeri, serta selalu dipuja-puja kaum lelaki.

Alangkah beruntungnya mereka. Mungkin itu semua adalah hasil kerja keras dan dedikasi nyata. Mungkin itu semua memang rezeki yang pantas mereka dapatkan. Setiap orang boleh-boleh saja seperti itu. Akan tetapi, mengapa hanya aku yang tak mau menerima lantaran tidak secantik dan seterkenal mereka?

Teman-temanku yang cantik mendapat tawaran bantuan tanpa mereka minta, sementara aku sering meminta-minta bantuan dan itu pun masih ditawar.

Teman-temanku yang cantik mendapat banyak suka untuk kiriman swafoto mereka di media sosial, sementara aku, sebagus apa pun foto atau karya yang kupajang di sana, selalu sepi suka dan pemirsa.

Teman-temanku yang cantik dapat mudah bergaul dengan siapa saja karena mereka tidak perlu mencemaskan pandangan sebelah mata orang lain atas rupa dan penampilan mereka. Sementara aku, membuat lawan bicara mau memandang wajahku dalam waktu sebentar saja sudah pencapaian luar biasa. Betapa sedihnya.

Terkadang aku iri.

Pada gadis-gadis remaja yang unjuk prestasi di televisi. Mereka tampak cerdas. Ikut berbagai lomba, olimpiade, atau ajang adu bakat diri.

Mungkin, setiap hari mereka belajar dengan tekun tanpa kenal kata malas. Mungkin, setiap hari mereka membaca buku pengetahuan dan buku bacaan apa pun seperti novel, majalah, atau koran. Mungkin, setiap hari mereka berselancar pada dunia maya dan internet dengan kemudahan akses. Mungkin, mereka sibuk menggali informasi positif dengan cermat. Mungkin, mereka sibuk mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat.

Mereka bisa bepergian ke tempat-tempat penuh edukasi. Museum, perpustakaan, toko buku, maupun tempat-tempat bersejarah. Setiap orang bisa-bisa saja melakukan hal itu. Akan tetapi, mengapa hanya aku yang tak mau menerima kenyataan lantaran masih bergulat dengan rasa tidak percaya diri, lemahnya ekonomi, dan merasa tidak terfasilitasi?

Sepertinya mereka terlahir dari keluarga berada atau setidaknya dari orang tua yang siap memenuhi tiap keinginan dan kebutuhan anaknya tanpa banyak tanya. Mereka pasti hidup dengan serba mudah. Setiap pagi sarapan roti dan susu, uang jajan mereka bisa dua-tiga kali lipat uang jajanku, orang tua mereka memberi bekal makanan yang lezat dan bergizi tinggi, mereka diantar dengan kendaraan mewah yang nyaman dan aman, mereka memiliki alat komunikasi yang serba canggih seperti hp merk terbaru dengan harga selangit, perangkat belajar berupa laptop yang mulus dan cantik, atau tablet yang praktis dan memiliki akses koneksi internet serba cepat.

Mereka beruntung bisa sering ke swalayan besar di pusat-pusat kota, bisa berbelanja apa pun yang mereka damba. Mereka bisa merasakan lezatnya hidangan restoran ternama, bisa merasakan mewahnya hotel bintang lima dengan keluarga, bisa merasakan sejuk segarnya tempat-tempat wisata dari penjuru dunia. Setiap orang berhak-berhak saja memperoleh itu. Akan tetapi, mengapa hanya aku yang tak mau ikut bersyukur?

Teman-temanku yang kaya sering memamerkan kehidupan indah mereka ketika aku mencoba bertahan dengan segala kekurangan di rumahku sendiri. Bagaimana bisa aku tidak iri?

Aku sangat iri.

Pada gadis-gadis remaja yang memiliki kekasih. Terlebih mereka yang berpenampilan cantik dan menarik. Tanpa menunggu pun, pasti ada yang menyukai mereka. Mereka bisa menjalin hubungan dan bepergian dengan orang yang mereka inginkan. Dan mengapa hanya aku yang sering mengalami cinta bertepuk sebelah tangan?

Aku kesepian.

Apakah hanya aku yang kesepian?

Tidak adakah yang ingin berteman denganku?

Tidak adakah yang mengagumiku?

Read aloud selesai.

Kami seperti terhipnotis untuk beberapa saat. Mencoba mencerna dan memahami tulisan yang memuat keresahanku. Keresahan aku-remaja yang biasa-biasa saja dan banyak dengkinya.

Kemudian Mas Mata membiarkan dirinya basah, sementara Mrs. Heart merasa takut seperti orang bersalah. Agaknya dia malu, telah ketahuan menghasutku merinci segala rasa iri di masa lalu.

“Tidak apa-apa,” kataku, mencoba menenangkan mereka, menenangkan diriku sendiri. “Aku berhak menuangkan perasaan dan pemikiranku, ‘kan? Perasaan dan pemikiran kita. Mari maklumi ke-iri-dengki-anku waktu itu, walau sebenarnya kasihan dia—aku-remaja.”

Semuanya mengangguk mengerti.

“Maafkan aku.” Mas Mata makin kuyup oleh air matanya sendiri sehingga aku harus mengusap-usapnya lembut untuk menyalurkan ketenangan.

“Kenapa Mas Mata minta maaf?”

“Sejak dulu, aku selalu lebih mengagumi dan memuja fisik orang lain daripada milikmu, rumahku. Aku kerap memandangmu jijik hanya karena kau gendut, berkulit sawo matang, pendek, dan Para Gigi serta Bung Mulut, aku selalu meremehkan mereka setiap kali kita bercermin. Seperti … siapa yang akan mau mencium Nona Bibir atau mempresensi satu per satu …”

“Sudah, sudah!”

Aku menyela agar Mas Mata tidak melanjutkan ucapannya. Aku berharap Para Gigi tidak mengerti apa yang hendak diucapkan oleh dua bentuk kembar yang selalu berkedip itu. Terlalu didekati Mbak Lidah yang kerabat sendiri saja, Para Gigi kadang bisa grogi, apalagi jika diraba lidah orang lain? Astaga! Demi Tuhan, pikiran macam apa ini?!

Aku menyipitkan Mas Mata sebagai bentuk kekesalan. Dialah pihak yang harus disalahkan karena sudah banyak mengontaminasi aku dan Mr. Brain. Atau sebenarnya, mereka berdualah yang paling mengontaminasiku. Selama ini mereka suka bersekutu agar aku tidak melewatkan adegan ciuman dalam film atau drama yang kutonton sehingga aku mengerti hal-hal yang terjadi sebelum, selama, bahkan sesudahnya.

Kalian tergoda setan, komentar Mrs. Heart, setiap kali itu terjadi. Namun, biasanya pula dia langsung berdebar saat menyadari bahwa hal-hal buruk yang terjadi padaku, itu karena dia juga ikut andil. Dia tahu, di antara kami, dialah yang diusik setan pertama kali.

Namun, bagiku sudah jelas Mas Mata adalah sumber kontaminasi pertama! Aku makin menyipitkannya.

“Aku juga minta maaf,” ucap Mrs. Heart tiba-tiba. “Perasaan iri tidak seharusnya kubiarkan menguasai relungku. Maaf, jadi makin bertambah, dosamu.”

Sebelum sempat kutanggapi, Tuan Tangan Kanan mengepal dan berkata, “Akulah yang menulis dan merinci semua rasa iri itu. Akulah yang pantas disalahkan.”

“Dan aku membiarkanmu melakukannya!” Tuan Tangan Kiri ikut mengepal pula.

“Jangan berlomba menyalahkan diri!” sergahku. “Kalian jadi tampak konyol.”

“Aku baru ingat, ternyata masa remajamu pahit dan menyedihkan. Oh, ralat,  maksudku masa remaja kita,” ucap Mr. Brain prihatin. “Kita tidak berbaur dengan anak-anak lain. Kita selalu pesimis dan merasa gagal dalam segala hal gara-gara aku terlalu pas-pasan. Lihat sekarang? Kita masih pengangguran!”

“Hei! Aku punya pekerjaan!” teriak Tuan Tangan Kanan dan Tuan Tangan Kiri bersamaan. Aku mengangguk setuju.

“Pekerjaan? Sepertinya hanya kita entitas prasejahtera di kompleks perumahan masyarakat multikultural ini!” Olok Mr. Brain, membuat aku dan Mrs. Heart tersinggung luar biasa.

“Tapi, kau sudah bertahan sejauh ini. Itu bagus.” Tuan Telinga menyahut. Dia baru berbicara setelah lebih banyak mendengarkan dari tadi. Ucapannya sedikit meniupkan hawa sejuk. Tipikal pendengar yang baik, bijak, dan lembut.

“Benar. Terima kasih sudah bertahan dan mempertahankan aku serta gelambirku,” hibur My Tummy sambil menggeliat pelan seolah ingin memelukku dari dalam.

Aku tertawa. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa mempertahankan gelambir perut seolah-olah adalah prestasi yang pantas diselamati?

Sejujurnya, aku tidak enak hati pada My Tummy. Andai ia pernah mendengar dan masih ingat, telah ada banyak saran, teguran,  nasihat, atau sugesti yang tertuju padaku agar memangkas gelambir lemaknya dengan keras berolahraga. Namun, aku menolak. Kupertahankan gelambirku karena aku mau. Juga karena dengan mengusap-usapnya, aku merasa hangat dan pulang. Ingin kupeluk semua yang ada dalam diriku dengan penerimaan lapang untuk sekarang.

“Kalian ingat tidak, saat Tummy harus menggiling banyak makanan dan minuman manis selama periode pengerjaan skripsi?” tanya Mr. Brain, meminta kami menebak. Dia bertanya dengan intonasi santai, menciptakan suasana nyaman dan rileks. Bisa kulihat My Tummy agak tersipu-sipu karena jadi bahan pembicaraan, tapi entah kenapa aku merasa ia sedikit tegang dan kaku.

“Oh, momen itu, aku ingat,” kataku. “Setiap hari berat karena aku merasa tidak berguna dan tidak layak. Tidur? Jelas tidak nyenyak. Mr. Brain meneriakiku, masa menulis karya ilmiah saja tidak mampu?! Padahal jelas dia yang salah karena lambat berpikir. Bisanya cuma mengeluh. Susah, susah, susah. Astaga, parah!”

“Untung kau menurutiku,” komentar Mrs. Heart. “Kau alihkan kesedihan dengan makan banyak biarpun aku jadi berdesakan dengan gelambir lemak. Setidaknya, depresimu berkurang, ‘kan? Dibanding Mr. Brain yang katanya berpendidikan tinggi itu, dia malah menyuruhmu berhenti. Melenyapkan diri.”

“Prit! Sensitif!” Bung Mulut berteriak, sementara Dik Jemari menepuk-nepuk Nona Bibir hingga menjerit.

“Cukup! Aku tidak ingin membahas itu, oke?!” teriakku. “Siapa sih yang mau punya depresi? Tidak ada. Seperti yang sering kubilang padamu, Mrs. Heart, tentang lelucon Tummy yang ingin bersedekah gelambir; jika depresi juga bergelambir, aku rela berbagi pada orang lain. Namun, jika begitu, aku jadi jahat. Pokoknya, aku tidak mau depresi itu kembali. Tidak mau.”

Tuan Telinga membuka dirinya lebar-lebar. “Lalu, apa yang kau ingin kita lakukan agar hidup kita lebih baik?”

Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan. Ketenangan sedang ingin kuhadirkan. Ke langit-langit kusam, Mas Mata jauh menerawang.

“Mungkin … untuk sekarang aku perlu bantuan kalian untuk menemaniku mencintai diri kita sendiri. Kita bisa mulai saling mengingatkan agar tidak membanding-bandingkan diri dengan orang lain, untuk berhenti bersikap iri, dan mulai memperbaiki hal-hal yang perlu kita perbaiki.

“Aku sudah seperempat abad. Kalian juga. Kita sudah lama hidup bersama di dunia yang kadang-kadang mengecewakan ini. Memang benar, kita harus ikut arus zaman, tapi aku menyesal terlalu berambisi mengikuti segala hal yang tidak sesuai kata hati.” Kucolek Mrs. Heart dengan lembut. Ia mengangguk.

“Dari gaya mutakhir berpakaian hingga cara bermedia sosial, aku merasa palsu. Tidak menjadi diriku. Kalian mau hidup dalam kepura-puraan sepanjang waktu?”

Para Anggota Tubuh terbengong-bengong. Terasa mereka masih mencerna maksud ucapan dan pertanyaanku. Beberapa saat kemudian, kurasakan dadaku tiba-tiba menghangat, seperti sedang dipeluk. Maka kuminta Tuan-Tuan Tangan saling mengusap lengan untuk menambah kehangatan, sampai kudengar Miss V menginterupsi dengan malu-malu.

“Permisi. Bisakah kita ke toilet sebentar? Merah di sini.”

(K, 2015-2026)

*****

Hidayatul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email