Bahlil Lahadalia merupakan seorang Menteri ESDM pada Kabinet Merah Putih dan juga pimpinan partai politik dari pohon beringin alias Golkar. Pernyataan Bahlil dalam Munas Golkar pada 21 Agustus 2024 lalu seolah mengajak kita berpikir soal Siapa “Raja Jawa” yang Ia maksud? Ia mengingatkan kepada semuanya bahwa “jangan bermain-main dengan Raja Jawa ini!”. Selain itu juga ia menyampaikan bahwa “barang ini ngeri ngeri sedap”. Pernyataan Bahlil ini kemudian viral di sosial media.
Kedekatan Bahlil dengan “Raja Jawa” telah berlangsung lama. Sebelum mendapatkan amanah untuk menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kabinet Merah Putih, Ia sempat menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal di masa Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Setelah itu Ia juga sempat dilantik menjadi Menteri Investasi di tahun 2021 lalu. Dengan kecerdikan dan kedekatannya pada Presiden RI saat itu, Pada tahun 2022 Ia diangkat menjadi Menteri Energi Sumber Daya Mineral menggantikan Arifin Tasrif hingga saat ini. Puncaknya Ia resmi menjadi Ketua Umum Partai Golkar setelah ditunjuk berdasarkan hasil Rapat Pimpinan Nasional ke XXI Partai Golkar menggantikan Airlangga Hartanto yang mengundurkan diri.
Hubungan Bahlil dengan “Raja Jawa” telah berlangsung lama. Melalui hubungan yang harmonis dengan “Raja Jawa” ini turut menghasilkan perubahan, secara tumbuh kembang karier poltik bagi seorang Bahlil Lahadalia. Berkat kedekatnnya “Raja Jawa”, Bahlil kini telah mampu masuk ke dalam elite penguasa. Ia juga masuk dalam struktur pemerintahan untuk menunaikan tugas ESDM di Kabinet Merah Putih. Secara hitungan politik, “Raja Jawa” sangatlah berjasa dalam mendorong karier politik Bahlil Lahadalia. “Raja Jawa” juga telah mengorbitkan Bahlil untuk bisa terus eksis, dengan menjadi Menteri ESDM di pemerintahan hari ini. Bergaul dengan Raja Jawa telah membawa kemanfaatan kepada Bahlil.
Baca juga:
Maka tidak salah apabila Bahlil dalam pernyataannya sering menyebut untuk tidak bermain-main dengan “Raja Jawa” ini. Bagi Bahlil Lahadalia bermain-main dengan “Raja Jawa” adalah hal yang fatal. Karena Bahlil telah banyak dibantu dengan kuasa yang dimiliki Raja Jawa. Meroketnya karier politik seorang Bahlil hari ini juga merupakan imbalan yang ia terima setelah mengabdi kepada “Raja Jawa”. Jadi sangat tidak mungkin Bagi seorang Bahlil untuk tidak tunduk dengan “Raja Jawa”. Sebab bagi Bahlil “Raja Jawa” telah sangat berjasa bagi dirinya.
Bahlil memang selalu mengundang keramaian. Di tengah isu #saverajaampat yang mencuat, ia hadir sebagai representasi dari kabinet merah putih untuk menyelesaikan kejahatan.
Aktivitas tambang di wilayah Raja Ampat telah ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Peristiwa ini meletus setelah aktivis Greenpeace menerobos masuk dan menyuarakan tentang aktivitas pertambangan nikel yang ekstraktif ini kepada seluruh tamu yang hadir pada acara Critical Minerals Conference 2025. Mereka menyuarakan soal Raja Ampat yang dikeruk, dihabisi dan digunduli hanya untuk kepentingan ekonomi yang berlindung pada energi terbarukan. Sebab video kejadian tersebut beredar secara luas di sosial media, masyarakat dan influencer mulai menarik perhatian pada Raja Ampat.
Aktivitas pertambangan nikel ini telah mengantongi izin sejak tahun 2017. Jadi Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berlangsung di Raja Ampat ini telah dikeluarkan sejak Joko Widodo masih berstatus sebagai Presiden RI. Namun mengapa aktivitas tambang di Raja Ampat ini baru terbongkar akhir-akhir ini? Pertanyaan ini pasti akan membanjiri kolom komentar. Tentunya Aktivitas tambang ini memang sulit untuk diendus. Letak Raja Ampat yang jauh dari pergaulan nasional membuat media dan masyarakat sipil kesulitan untuk menginvestigasi aktivitas tambang di daerah Raja Ampat.
Ketika mendengar nama Raja Ampat, memori kita secara langsung akan membayangkan laut yang biru dan jernih, gugusan terumbu karang yang kaya, dan juga bentangan alam yang indah. Raja Ampat adalah salah satu wujud surga terakhir di bumi. Raja Ampat juga wilayah konservasi laut yang kaya akan biodiversitasnya. Namun ironi besar tengah terjadi. Di balik keindahan yang megah, Raja Ampat kini terancam oleh tambang nikel. Dengan keluarnya izin dari “Raja Jawa” untuk aktivitas pertambangan Raja Ampat membuat pesona surga akan menjadi neraka bagi Tanah Papua.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 secara tegas melarang aktivitas ekstraktif di pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir yang rentan. Aktivitas pertambangan jelas sekali adalah motif ekonomi yang bermuatan ekstraktif. Pemberian IUP kepada Raja Ampat merupakan bentuk pengingkaran terhadap Undang-Undang. Bencana ini sangatlah menyakitkan, jika transisi energi dilakukan dengan cara ekstraktif, sepertinya ini merupakan setting agenda ekonomi global.
Polemik soal Raja Ampat mengundang Bahlil untuk berpendapat dan turun gunung. Sejauh ini Bahlil kerap berpendapat meski terkesan lempar tanggung jawab, seperti polemik soal Gas LPG, “kufur nikmat”, hingga responnya tentang Raja Ampat. Ia menanggapi bahwa Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk aktivitas pertambangan nikel ini akan diberhentikan sementara. Ia berdalih demikian sebab aktivitas tambang ini telah disorot oleh masyarakat sipil secara luas. Dengan pendapatnya tersebut sepertinya ia mencoba untuk sedikit meredakan ketegangan yang mulai ramai di media.
Namun Bahlil sebetulnya tidak akan mudah untuk tunduk dengan Raja Ampat, mengingat pendapatnya soal pihak yang mengganggu hilirisasi nikel merupakan upaya dari pihak asing. Lagi-lagi Bahlil hanya memandang Raja Ampat sebagai nilai ekonomi.
Baca juga:
Kita tahu bahwa Bahlil adalah loyalis dari “Raja Jawa”. Visi mengenai hilirisasi nikel merupakan visi berkelanjutan dari “Raja Jawa” dan Bahlil enggan untuk mengganggu visi tersebut. Apa yang diberikan “Raja Jawa” telah jauh membantu Bahlil untuk terus bertengger di kursi menteri.
Bagi Bahlil, “Raja Jawa” lebih banyak membantu karier politiknya. Sedangkan Raja Ampat merupakan target operasi yang dibidik oleh Bahlil. Meskipun Raja Ampat menawarkan keindahan surga, bagi Bahlil “Raja Jawa” jauh lebih memberikan ‘surga’ bagi Bahlil secara pribadi. Jadi kepatuhan kepada “Raja Jawa” jauh lebih utama ketimbang pada Raja Ampat. (*)
Editor: Kukuh Basuki
